Anak Petani

Di sebuah desa, ada seorang anak petani yang saban hari membantu orang tuanya di sawah. Ia anak yang giat, selepas subuh, ketika matahari belum bangun, ia sudah berangkat ke sawah bersama bapaknya. 

Ia tidak pernah membantah bapaknya ketika dimintai tolong untuk membantu bekerja. Karena berada di sawah adalah hal menyenangkan baginya. Ia bisa bermain layang-layang, menyari ikan dan udang kali di irigasi. 

Ia juga sering dinasihati bapaknya, ketika istirahat sarapan, bahwa beginilah orang bertani, kita diajarkan untuk bersabar. Ssiapa yang sabar merawat padi, ia akan menuai buahnya di kemudian hari. Nasihat itu ia simpan baik-baik. Pengalamannya membantu bertani, memberikan pelajaran, bahwa tidak ada yang instan di kehidupan ini dan semua orang akan menuai hasil dari apa yang ia lakukan di hari lalu.

Setelah belasan tahun berlalu, ketika bapaknya telah tiada, ia kembali ke rumah, setelah menyelesaikan kuliahnya di ibu kota. Ia ingin kembali bertani, seperti masa kecilnya dulu. Dengan segala suka-dukanya. Tetapi, kondisi sudah tidak seperti dulu, segalanya sudah serba instan dan cepat, begitu juga dalam bertani, segalanya sudah pakai mesin dan obat. Memang sekarang bisa panen lebih sering dan cepat. Tetapi keseringan itu tidak lantas membuat para petani tentram, setentram ketika bapak mengajarkan kesabaran dalam tiap padi yang ia tanam.

 

Posting Komentar

0 Komentar