Hilang

 


Konon ada satu kisah yang akan selalu diingat oleh anak-anak yang hidup di sebuah kampung.
Kampung yang tiap menjelang petang, anak-anaknya bergegas mandi, berpakaian rapi, lalu menenteng tas berangkat ke warung kopi. Mereka berkumpul dengan teman sebaya, mengucap basa-basi lalu sibuk dengan Smartphonenya sendiri-sendiri.

Suatu malam kampung itu dingin sekali, juga agak sepi, hanya suara pelan rintik hujan yang menghujam daun, atap dan jalanan. Anak-anak tetap gayeng dengan smartphonenya masing-masing. Sesekali ada yang tertawa melihat feed IG yang jenaka, tetapi ia tertawa sendiri, teman duduk dan berbagi kopinya pun tidak tau ia menertawakan apa, dan memang ia juga tidak peduli. Budaya apatis memang sedah menjangkiti kampung, terlebih muda-mudinya ketika sudah meet up di warung.

Mereka berubah menjadi patung” Begitu kata sesepuh kampung.

Sebenarnya mereka bukanya tidak peduli, sebaliknya mereka justru over peduli dengan dirinya sendiri, hingga mengabaikan dan tidak memedulikan yang lain. Bahkan suatu ketika, menjelang dini hari, seorang bapak menerjang hujan memasuki warung, dan berbicara kepada salah satu dari mereka,

“Cung! pulanglah. Istirahat, besok bangun pagi, waktunya menanan padi.”

Hoho…mereka tidak ada satupun yang menyahuti karena masih sibuk dengan dunianya sendiri. Bagi bapak, waktu seperti berhenti, tidak ada suara dan gerak sama sekali. Bapak yang merasa tidak direken, akhirnya mengulangi ajakanya dan dia mendapatkan hal yang sama, tidak ada yang menyahuti, tidak ada yang beranjak sama sekali. Bapak itu tidak emosi, ia sudah biasa melihat pemandangan seperti ini, sebagaimana sudah dituturkan sesepuh kampung, mereka sudah terjangkit penyakit apatis sehingga mematung.

Akhirnya bapak pulang, entah kapan, tidak ada satupun yang benar-benar memerhatikan. Mereka mematung hingga menjelang subuh dan mereka seperti terbebas dari kutukan sewaktu mendengar adzan -berhamburan pulang, dan menyari tempat sembunyi, menghindari matahari.

***

Selepas tengah hari, seorang anak terbangun dari tidurnya, keluar kamar dan menyari masakan ibunya. Tetapi ia tidak menemukan apa-apa, hanya tudung saji, beberapa piring, dan sekendi air bening. Ia sangat lapar, sedari malam lambungnya hanya bertemu beberapa teguk kopi, dan remah-remah jajan limaratusan. Ia mencari ibu. Ia tidak menemukan ibu di teras, juga tidak ada di kamar, tetapi ia menemukan ibu masih di pasolatan, sedang merapalkan doa-doa agar dikaruniai anak-anak solih dan masuk surga.

Melihat ibu khusyuk berdoa, ia mengurungkan niat untuk bertanya tentang makanan. Ya, meskipun jarang-jarang sembahyang, ia tahu, mengganggu orang sembahyang adalah perbuatan yang tidak sopan. Ia biarkan ibunya berdoa.

Perut yang tidak kunjung mendapat jawaban atas hak-haknya mendorongnya untuk keluar rumah menemui bapak, siapa tahu ada makanan di sawah. Tetapi di sawah tidak ada orang, padi-padi yang hendak ditanam masih terkumpil di sisi galengan. Kemudian Ia memutuskan ke masjid, karena biasanya sepulang dari sawah, bapak mandi lalu ke masjid untuk solat atau sekadar menyapu dan merapikan qur’an-qur’an yang berantakan ditiup angin.

Tetapi hasilnya nihil lagi, tidak ada siapa-siapa di masjid. Bahkan daun-daun masih berserak di lantai, pertanda bapak belum menyapu masjid hari ini. Ia mulai heran, kemana bapaknya pergi? Sedang perut semakin berontak, minta segera diisi.

Sangking laparnya, ia tidak kuat lagi, ia rebahkan diri di masjid, memandang atap yang telah dipenuhi sarang laba-laba.

“kemana bapak pergi? Di mana aku bisa dapat makanan? Dan ibu, tidak biasanya ibu berdoa lengkap dengan mukena siang-siang begini.”

Banyak tanya yang mengambang di pikiran, tetapi tidak ada ide yang mampu membawanya pada suatu jawaban hingga kembali tertidur.

***

Ia dibangunkan oleh getar dan dering nyaring smartphone yang sejak keluar rumah ia taruh di saku celana. Sebuah telfon dari teman duduknya di warung, menanyakan ia sedang di mana,  lalu ia jawab dengan suara berat,

“Aku, di
masjid”

Beberapa waktu berbicara dengan temannya, ia mulai mengernyitkan dahi, temannya bercerita bahwa bapaknya hilang entah ke mana, sedang ibunya yang dipercaya pergi ke gereja tidak pulang sedari pagi dan sekarang sudah petang. Percakapan telfon tiba-tiba diputus.

Ia tidak bisa menyembunyikan kecemasannya, ia berlaru sekencang mungkin, agar  segera sampai di rumah. Lambung yang sejak pagi kesepian, sudah bosan berteriak dan memilih diam.

Sampai di rumah, angin serasa berhenti, sunyi, nafasnya hampir habis sebab berlari. Ia langsung berteriak memanggil bapaknya, dan tidak ada suara setelah itu. Dengan langkah gurup ia menuju pesolatan, terlihat ibunya masih tengadah, meski sudah tidak lagi tegap. Ia agak tidak percaya, tetapi itulah yang disaksikannya. Akhirnya ia sudah tidak peduli lagi dengan kesopanan, ia hampiri ibu, dan bertanya di mana bapak, dan ibu tidak beranjak sedikitpun, seperti mematung, tetapi bukan karena apatis, melainkan fokus berdoa agar dikaruniai anak-anak yang soleh dan masuk surga. Segala hal ia lakukan, agar ibu menanggapinya, tetapi nihil. Ibu tetap fokus berdoa.

Waktu semakin cepat berlalu, sedang ia terkurung dalam pikiran yang menjadi jeruji-jeruji tajam, setajam sembilu. Semakin ia berusaha keluar dari situasi yang tidak karuan itu -tanpa ayah dan ibu, semakin ia hancur oleh pikiran dan ketakutannya sendiri. Sesekali ia masih merasa kalau ia sedang bermimpi, tetapi tiap kali ia menengok ibu berdoa, ia sadar, bahwa waktu memang sedang melaju, ibunya semakin kurus dan tidak mau makan, ibu memilih berdoa dengan terus menerus fokus.

***

Hari ke tujuh, ia baru pulang dari pemakaman ibu, tentu tanpa bapak yang telah hilang seminggu yang lalu. Ibu meninggal karena tidak mau makan sejak pertama kali ia temukan sedang berdoa. Ia dan teman-temannya yang juga berduka sepakat berkumpul, karena bapak-bapak mereka telah hilang dan ibu meninggal karena terlalu lama fokus berdoa. Kini dalam kampung itu hanya ada pemuda. Setiap bapak, atau orang-orang yang sudah pernah menjadi bapak telah hilang, sedang para ibu telah menemui ajal masing-masing dalam doa-doanya.

Mereka sepakat untuk menerima suratan takdir, bahwa tinggal merekalah yang menghuni kampung ini, mereka membangun jaringan dan gotong-royong menghidupkan kembali hari-hari normal yang telah mati sejak para bapak menghilang. Memerbaiki irigasi, menanam padi, berjualan sembako, mengumandangkan adzan dan mengaji.

Mereka mulai tersadar, bahwa melakukan hal-hal yang biasanya dianggap biasa saja, ternyata tidak mudah, apalagi dengan tanggungjawab yang sepenuhnya diemban diatas pundak-pundak mereka. Mereka mulai disibukkan dengan profesi yang dulu bapak mereka tekuni, juga peran-peran dalam masyarakat yang ternyata berat dan kompeks. Mereka juga mulai dirundung konflik satu sama lain, terjadi pencurian dan pembunuhan. Tetapi seiring berjalannya waktu, hal-hal semacam itu menjadi hal yang biasa, dalam artian mereka tidak denial, bahwa konflik dan kriminalitas adalah bagian dari kehidupan.

***

Tahun-tahun berlalu, mereka semakin matang dan dewasa, atas kesadaran moral dan agama, serta dorongan cinta dan birahi mereka satu persatu menikah dengan perempuan yang mereka cintai, yang kebanyakan adalah teman bermain sejak kecil.

Hidup berkeluarga adalah menyatukan sedih dan bahagia menjadi senandung. Merapal doa untuk kebaikan bersama. Sesekali waktu mereka harus mengubur pecahan piring akibat pertengkaran hebat yang konon atas dasar cinta. Tetapi mereka tidak pernah lupa, bahwa setiap air mata, selayaknya diseka oleh tangan kekasinya, begitu kata Pak Presiden negeri sebelah.

***

Jerit tangis bayi terdengar dari salah satu rumah, yang diikuti suara hamdalah. Anak yang dulu bapaknya menghilang, kini telah menjadi bapak. Ia tidak pernah sebahagia ini semenjak bapaknya menghilang bertahun-tahun yang lalu.

Dengan penuh kasih, ia rawat anaknya, mendidiknya seperti seorang kesatria, agar kelak menjadi orang yang berguna, atau setidaknya tidak menyusahkan tetanga dan sanak saudara. Ia bekerja dari pagi hingga petang, menghabiskan malam untuk berdoa dan memikirkan masa depan anaknya hingga ia hampir lupa dengan dirinya sendiri. Ia berkeyakinan bahwa tidak apa ia hidup sengsara, asal anak-anaknya bisa merasakan dan mengerti apa itu bahagia.

Ketika anaknya memasuki umur belasan, ia ajari segala hal agar kelak menjadi laki-laki yang bertangungjawab atas apa yang diperbuat. Mengajari agar tetap tenang dan bijak dalam melihat suatu kejadian. Mengajari sopan santun, tetapi juga tidak takut menghadapi segala hal.

***

Tetapi ia merasakan ada yang tidak asing tapi mengherankan setahun terakhir, pasalnya tiap menjelang petang anaknya bergegas mandi, berpakaian rapi, lalu menenteng tas berangkat ke warung kopi, seperti ia dulu. Berkumpul dengan teman sebaya, mengucap basa-basi lalu sibuk dengan gadgetnya sendiri-sendiri. Menjadi patung, sebagaimana digambarkan bertahun-tahun yang lalu oleh sesepuh kampung.

Hingga di sebuah malam yang dingin, ia menerjang hujan, memasuki warung dan mengajak anaknya pulang, tetapi anaknya hanya berkata “ya!” dan tidak beranjak sedikitpun. Ia tidak marah, ia menatap kekosongan kemudian kembali pulang melewati jalan licin dan lampu jalan yang temaram. Lalu di sisi jalan yang rimbun pohonnya, ia hilang ditelan bayang-bayang pepohonan.

Sekian.

Posting Komentar

0 Komentar