Cadar simbol Islam?


 

“Cadar itu budaya arab, bukan ori Islam, bro!”

Gak ada angin, gak ada hujan, tanpa sebab, tiba-tiba saya tertarik berkomentar seperti itu di salah satu postingan seorang selebgram yang pengikutnya sudah puluhan ribu. Sebenarnya bukan benar-benar gak ada sebab sih, cuma gak biasanya saya berkomentar di postingan seseorang, lha wong postingan saya sendiri saya jarang saya komentari, heuheuheu.

Jadi awalnya selebgram itu memposting sebuah video dari tiktok. Yang di videonya kira-kira ada beberapa polisi yang istri dan anak perempuannya bercadar. Sebenarnya saya tidak masalah dengan hal itu. Karena toh cadar gak dilarang, bahkan dalam kondisi tertentu bisa jadi wajib dan sunnah tergantung madzhabnya. Yang mungkin membuat rasa untuk berkomentarku “stoonk” adalah, kalimat penutup, yang tertulis, “….. bercadar adalah identitas keislaman.”

 Benarkan identitas atau simbol keislaman salah satunya adalah cadar? Sebuah entitas, entah itu usaha, lembaga, perkumpulan, atau bahkan orang dan benda seringkali membuat atau memiliki logo, tagline dan lain sejenisnya, sebagai simbol bentuk eksistensi mereka. Tanpa ada simbol-simbol, entitas belum tentu terlihat atau diakui ke-ada-annya, walaupun sebenarnya ada. Maka, adanya simbol bisa jadi perlu untuk merepresentasikan suatu entitas.

Dalam urusan simbol, tidak bisa sembarangan, harus benar-benar mewakili entitas tersebut, dan original. Artinya suatu entitas tidak bisa disimbolkan dengan hal yang sama dengan entitas yang lain, jika memang entitas itu berbeda. Kita tidak bisa menyimbolkan “perkumpulan sapi” dengan simbol “kaki empat”, karena yang berkaki 4 itu tidak hanya sapi. Sehingga simbol kaki empat tidak cocok untuk menggambarkan sebuah perkumpulan sapi.

Begitu juga dalam Islam. Kita tidak bisa menyimbolkan islam dengan hal-hal yang tidak sesuai, atau yang tidak hanya mewakili Islam. Misalnya dalam kasus cadar ini, kita tidak bisa menjadikan cadar sebagai simbol Islam sebab cadar bukan budaya baru yang dibawa Islam. Sebaliknya, cadar adalah budaya arab yang sudah ada sebelum datangnya Islam yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad saw. maka, kita tidak bisa mengatakan bahwa cadar adalah simbol Islam, karena bisa jadi cadar adalah simbol budaya arab, atau sebagai simbol-simbol yang lain.

Akan kurang bijak jika kita menganggap cadar sebagai simbol keislaman. Maka, bagi yang merasa, berhentilah menganggap cadar, atau hal yang lain, seperti jenggot panjang dan lainnya, sebagai simbol keislaman. Saya tidak melarang apalagi membenci kedua hal tersebut, karena saya belum punya otoritas atau keilmuan yang cukup untuk itu. Tetapi kita hendaknya menyikapi hal-hal itu sesuai porsinya, sehingga kita tidak overdoze dan keracunan simbol agama. Begitu.

“Lalu sebenarnya apa simbol keislaman yang benar?”

Emmm… Emmm…, gini, saya bukan orang yang berkompeten untuk menentukan atau mencari simbol-simbol itu, jadi saya beum bisa menjelaskan itu secara kongkret. Tetapi jika dibanding “cadar adalah simbol keislaman, mungkin saya punya gambaran lebih pantas, yakni “Rohmatan lil alamin adalah simbol keislaman” Itu mungkin lebih bisa diterima oleh banyak orang. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya secara pribadi saya keberatan jika harus menerima cadar sebagai simbol keislaman, karena saya laki-laki, gak mungkin dooong untuk menunjukkan keislaman saya harus pake cadar juga? Heuheuheu.  

 

Posting Komentar

0 Komentar