Jangan Biarkan Ide Menguap Begitu Saja

 



Ide adalah wahyu dalam kadar dan bahasa yang lain. Ide adalah salah satu karunia Alloh yang berharga karena bisa jadi mengandung muatan hikmah yang berguna bagi diri sendiri dan mungkin juga orang lain. Maka ide bisa dikategorikan sebagai rizeki, dan sebagaimana rizeki, jika tidak digunakan dan disalurkan dengan baik, bisa jadi menimbulkan hal yang tidak baik.

Beberapa tahun yang lalu, saya menonton tayangan Mata Najwa, yang berkunjung ke rumah tahanan narapidana koruptor yang di dalamnya berisi berbagai macam peralatan yang menurut saya mewah, mewah sekali. Salah satu kutipan dalam tayangan yang menurut saya agak janggal waktu itu adalah ketika pak OC Kaligis bilang bahwa dia seorang pengarang dan hampir tiap hari menulis untuk menyalurkan ide-idenya, ia bisa mati kalo gak nulis, jadi sebab itulah ia membawa tablet dan laptop.

"Ah masa iya si, orang bisa mati cuma gara-gara gagasannya tidak bisa tersalurkan?" begitu benak saya.

Tetapi belakangan ini saya sadar, alasan OC Kaligis mungkin ada benarnya, terlepas dari niatnya untuk ngeles. Ya memang kita tidak bisa menilai benar-salah statemen seseorang hanya karena ia pernah melakukan tindakan yang tercela. Itulah kenapa kita tidak diperkenankan membenci seseorang. Karena ketika kita membenci seseorang, kita akan buta akan kebenaran yang keluar darinya, padahal kebenaran bisa keluar dari mulut siapa saja. 

Oh iya, kembali ke ide-ide. Romo kami, dalam masa produktifnya, bisa menulis beberapa artikel dalam satu perjalanan dengan tema yang berbeda. Hal yang untuk saya "gila", switching dari menulis satu ide ke ide yang lain yang sama sekali berbeda, bukanlah hal yang mudah. Butuh konsentrasi dan mood yang selalu terjaga. Jadi jangan coba-coba mengganggu beliau ketika sedang konsentrasi menulis, kalau tidak mau terjadi hal-hal yang tidak terduga, heuheu. Karena ketika konsentrasi terganggu, bisa-bisa ide itu keburu hilang, dan tentu akan menjadi keresahan tersendiri ketika ide itu menguap begitu saja.

Dari OC Kaligis hingga Guru kami, Siddi Mifthul Luthfi Muhammad al-Mutawakkil, saya menangkap bahwa ide-ide yang muncul dalam pikiran akan lebih baik jika disalurkan, entah lewat tindakan langsung, maupun lewat tulisan yang menginspirasi. Karena ide yang menumpuk dalam pikiran atau yang terlewatkan begitu saja, akan sangat memengaruhi mood dan tindakan-tindakan yang akan kita lakukan, atau bahkan menjadi beban yang memberatkan pikiran.  Maka, menulis menjadi salah satu sarana untuk menyalurkan ide tersebut, atau sekadar mengurangi beban akibat ide yang menumpuk dalam pikiran.

Jadi selayaknya kita memerlakukan ide-ide yang muncul dalam benak kita dengan bijak, sebagaimana rizeki. Misalnya memberlakukan konsep “terima-kasih” yang sudah diajarkan Guru kami, yakni menerimanya, lalu dikasihkan kepada yang membutuhkan (kalau memang kita juga butuh, dikasihkan ke diri kita sendiri juga gak apa-apa, pokonya dikasihkan ke yang “membutuhkan” heuheu). Ketika kita mendapat ide, eksekusilah atau “kasihkan” kepada yang membutuhkan. Dan jangan pernah mengabaikan apalagi menumpuknya dalam pikiran. Karena bisa jadi akibat ide-ide yang menumpuk dan tidak kunjung dieksekusi itu, kita tidak bisa fokus ke hal yang lain, dan stuck-lah kita. Atau mungkin lebih parah, kita bisa “mau mati” seperti Pak OC Kaligis? Atau mungkin yang lebih parah lagi, yakni termasuk orang yang kufur nikmat karena dikaruniai ide-ide tapi tidak disalurkan dengan baik? Astaghfirullohal adzim. Wallohu a’lam.

 


Posting Komentar

0 Komentar