Menjadi Jomblo Adalah Jalan Ninja Saya



Oleh : Dimas Prastiyo Budi*

Tidak sedikit orang kalau putus dengan kekasihnya yang dirasakan adalah galau, selalu ingat kenangan bersama mantan yang sudah berlalu, dan merasa malu apabila disaat ini sedang menyandang gelar jomblo. Eits tunggu dulu, menjadi jomblo bukanlah hal yang hina loh. Akan tetapi, sangat banyak orang-orang yang beranggapan hari gini kok masih jomblo, gak laku ya hahaha. Menurut saya anggapan seperti itu tentu saja salah.

Coba sekarang kita bandingkan kehidupan jomblo dengan kehidupan orang-orang yang memiliki pacar tentu saja sangat jauh berbeda bro, dari segi kebahagiaan saja menurut saya lebih bahagia seorang jomblo daripada orang yang memiliki pacar. Kenapa saya bisa mengatakan seperti itu? Mari kita tengok kehidupan orang yang memiliki pacar, orang-orang yang memiliki pacar rata-rata 70% kehidupannya diatur oleh pasangannya. Misalnya kamu jangan nge game mulu kenapa sih, kamu orangnya gak peka bikin bete, hari ini jam ini anterin aku ke salon ya. Dari hal tersebut kehidupan orang yang memiliki pacar tidak bisa bebas apalagi pacarnya memiliki sifat cemburu yang berlebihan, duh ngenes sekali hidupnya.

Seorang jomblo bisa berteman dengan siapa saja tanpa ada yang membatasinya, bahkan rata-rata seorang jomblo dalam kehidupannya yang dirasakan itu tidak pernah merasakan kesepian karena dalam kehidupannya dikelilingi banyak teman baik itu cowok ataupun cewek. Namun ada satu hal yang membuat kehidupannya seorang jomblo merasa ngenes, yakni ketika malam minggu masing-masing dari temannya membawa pasangannya akan tetapi dia masih dengan kesendiriannya.

Orang yang tidak sanggup dalam menyandang status kejombloannya adalah orang yang masih tidak bisa melupakan kenangan yang sudah dilaluinnya, orang yang masih belum terbiasa hidup dengan sendiri pasca putus dengan kekasihnya, orang yang belum mampu berdiri sendiri ketika ada masalah artinya tidak ditemani dengan siapa-siapa.

Ada sedikit cerita dari kisah cinta seorang filsuf abad 19 yakni Nietzsche. Suatu ketika Nietzsche terpesona dengan seorang wanita yang sangat cerdas dan cantik, ia memiliki nama Lou Salome. 13 Maret 1882 tepatnya di Roma telah menjadi saksi awal mula bertemunya Nietzsche dengan gadis yang sangat cantik. Namun ada hal yang tidak terduga, akibat dari kecantikan yang dimiliki oleh Lou Salome sehingga berhasil mengikat hati seorang pria lain, ia bernama Paul Ree. Nietzsche telah terjebak dalam cinta segitiga.

Nietzsche sempat mengungkapkan rasa cintanya, akan tetapi Lou Salome memberikan balasan bahwasannya ia tidak memiliki perasaan yang lebih serta spesial selama ini ia menganggap Nietzsche hanyalah sekedar teman biasa. Balasan tersebut cukup membekas di hati Nietzsche. Dari kejadian tersebut kehidupan Nietzsche dipenuhi dengan kesuraman dan kesepian. Sehingga ia lebih sering menjalani kehidupan dengan kesendirian.

Menjadi jomblo merupakan jalan ninja saya, jomblo merupakan langkah untuk meninggalkan status kebinatangannya. Dengan status jomblo biarkanlah kehendakmu berseru. Seorang jomblo harus sanggup melakukan segala sesuatu dengan sendiri. Sebagai seorang jomblo, ketika saya chattingan dengan cewek manapun tidak akan memikiran apakah nanti saya akan dimarahi pacar, lah wong aku jomblo kok takut dimarahi pacar mwehehe.

Dengan status jomblo, kita bisa menentukan kehendak kita lalu mengapa kita harus mencari pacar? Yang ada kalau kita mempunyai pacar malah membuat kita tidak bisa berbuat bebas, hidup kita akan terasa terkekang. Seperti yang ada dalam gagasannya Nietzsche yakni ubermensch. Dalam bukunya diungkapkan: Lihatlah, aku mengajarkan Ubermensch kepadamu. Ubermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru. Hendaknya Ubermensch menjadi makna dunia ini”.

Ubermensch dapat kita istilahkan dengan adimanusia artinya manusia yang mempunyai kemampuan yang luar biasa. Dengan demikian adimanusia bisa saja menjadi gambaran bahwasannya manusia mampu mengatasi kehidupannya walaupun tanpa pasangan. Status jomblo tidak bisa digunakan sebagai tolak ukur laku atau tidaknya seseorang atau bahkan sebagai tolak ukur ketampanan seseorang, bisa saja ada seorang pria yang memiliki wajah tampan tapi statusnya jomblo karena ia merasakan lebih bahagia dengan status jomblo dibandingkan dengan pacaran.

Dari apa yang sudah dipaparkan diatas maka kita dapat mengambil nilai-nilai atau poin penting, menjadi jomblo bukanlah suatu hal yang hina. Jomblo tidak bisa menjadi tolak ukur kegantengan/kecantikan seseorang, jomblo atau tidak itu hanya pilihan masing-masing. Kalau dilihat dari bahagia kehidupannya ya saya bisa mengatakan lebih bahagia seorang jomblo karena tidak ada yang mengekang kehidupannya.

Dengan status jomblo kita dapat menemukan otoritas diri kita sendiri, biarkanlah kehendak kita berseru. Jomblo tidak seburuk yang dibayangkan orang lain, jomblo sudah menggambarkan adimanusia yang mana seorang jomblo mampu membuktikan bahwasannya manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Menjalankan aktivitas kehidupan dengan sendiri sudah tak asing dikehidupan seorang jomblo.

Status jomblo bukan berarti tidak ada yang memperhatikan sama sekali, dengan status jomblo kita tidak pernah memikirkan apakah kita nanti dimarahi pasangan kita. Kalaupun status kita masih sebagai seorang pelajar, pilihan untuk menjadi jomblo adalah suatu pilihan yang tepat karena dalam dunia percintaan tidak selalu berjalan mulus sehingga menjadi jomblo akan memberikan suatu kenyamanan dalam proses belajar kita.


*Dimas Prastiyo Budi, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya, yang kepo bisa dm: @dimasprasbud


Posting Komentar

0 Komentar