Masih Orang yang Sama (2)

 


Beberapa hari ini aku sibuk membaca surat dari Komaedi yang barangkali di kirim tiap hari. Apakah kekayaan yang ia ceritakan saking banyaknya sampai-sampai ia mengirim surat satu-satu. Tiap hari surat datang. Kenapa tak dikirimkan jadi satu saja. repot-repot membawa ke pos. Atau ia menulisnya setiap hari pula? Entahlah.

Yang pasti aku berbahagia ia sudah mendapatkan kebahagiaan hidupnya. Tak terkira tingkah nakalnya dulu. Orang kampung dibuat geleng kepala karenanya. Ia pernah membawa hari lari sarung dan celana Haji Sahli ketika sedang di kamar mandi masjid. Padahal Haji Sahli waktu itu jadwal khutbah jum’at. Na’asnya, itu terjadi ketika adzan pertama solat Jum’at sudah dikumandangkan.

Haji Sahli yang terkenal suka marah berteriak keras seketika dari kamar mandi,

“hoy, sarungkuuu. Celanakuuuu. Siapa itu yang ambiiiil. Bajingaaaan. Siapa ituuuu!”

Sontak para jama’ah yang mendengar dan sadar itu Haji Sahli pun langsung sigap mendatangi kamar mandi.

“Ada apa, Ji”

“Ada apa bagaimanaaaa? Sarungku digondol orang!”

Para jama’ah pun dengan serentek menoleh ketika ada satu jama’ah yang berteriak dengan lantang.

“Komaediiiiiiii”

Komaedi di gerbang masjid berlari sambil tertawa dengan tangan kiri menyincing sarungnya, dan tangan kanan membawa celana serta sarung Haji Sahli.

“Bocah sableng!”

Beberapa jama’ah sigap mengejarnya. Jama’ah solat jum’at pun akhirnya molor karena kelakuan Komaedi.

Masih banyak kekonyolan yang ia buat. Ia seperti ditakdirkan bikin onar. Syukurlah kalau sudah jadi pembaca buku. Mungkin lingkungan membuatnya banyak berubah. Bacaan buku yang melimpah tentu juga berperan membuatnya lebih dewasa.

Jelas aku tak seperti yang ia tuduhkan. Tentu saja tak ada iri dan kecewa padanya soal cinta, istri dan keluarganya. Tuhan menebar takdirnya beragam rupa. Toh tugas kita hanya untuk tidak kecewa. Lebih-lebih bisa menerima dengan bahagia. Dan aku kini menerima apa yang menjadi titah hidupku. Sudah itu saja. Toh iri pada Komaedi juga buat apa.

Akupun merapikan surat-suratnya. Aku taruh ia di map khusus bertulis Surat dari Komaedi. Cerita hidupnya tentu akan menarik jika menjadi pembelajaran. Bermula dari anak yang rajin bikin onar, kini jadi pecinta buku.

“Syid, Rosyid!”

Tiba-tiba suara itu menghentikan tanganku. Aku menolah, meski jelas aku hafal itu pasti suara ibu.

“Iya, Bu. Ada apa?”

“Tamu!”

“Oh, iya, sebentar.”

Surat-surat dari Komaedi aku tumpuk begitu saja. Takut tamunya lama menunggu.

Sesampainya di depan, ternyata Orangtua Komaedi.

“Lo, Pak, Bu. Lakok di rumah. Bukannya ikut Komaedi di Jawa sekarang?”

“Iya, Nak. Ini baru saja sampek. Belum juga sampek rumah” Jawab si bapak.

Bapaknya Komaedi –Kandar namanya- pernah menjadi juragan minyak kepala. Tapi berubah drastis kondisinya ketika WHO mengatakan minyak dari kelapa tidak sehat. Para petani kelapa kolaps seketika. Yang kemudian disusul dengan dominasi minyak sawit. Pak Kandar pun kehilangan mata pencaharian dan kerja serabutan.

“Lah kan rumahnya dari terminal lebih dekat rumah bapak?”

“Iya. Ini sebenarnya kesini mau bilang sesuatu” kini ibunya yang menjawab.

“Soal apa, bu. Soal Komaedi?”

“Bukan cuma soal dia, tapi yang berhubungan dengan Komaedi”

“Saya sudah baca suratnya kok bu, saya turut berbahagia dengan keadaannya sekarang”.

Mereka berdua tiba-tiba saling berpandangan, seolah ada tanda tanya dan saling lempar siapa yang harus berkata. Pandangannya sepakat, sang istri yang akan berkata.

“Begini Nak Rasyid. Maaf kalau lancang. Kami kesini mau hutang nak.”

“Lo, buat apa bu”

“Buat kontrak rumah, nak. Rumah sudah dijual dulu untuk terbang ke Jawa. Komeadi bilang, masa depan di Jawa cerah. Tidak usah khawatir. Buat modal awal, rumah digadaikan saja dulu. Nanti bisa diambil lagi kalau sudah banyak uang di Jawa. Tapi ternyata sampai di Jawa. Kata-kata Komaedi cuma pemanis belaka. Tak ada masa depan disana. Kita luntang lantung tak jelas. Uang gadai rumah sudah tak berbekas. Kita bisa pulang saja alhamdulillah” Nada Bu Kandar bercerita semakin meninggi. Seperti ada emosi yang ingin diluapkan.

“Lo, tapi Komaedi bilang. Dia sekarang sukses di Jawa. Istri cantik, dan sudah punya anak 3...”

“Halah, Komeadi kok dipercaya. Jangankan anak, beristri saja belum. Kerja siang malam jadi kuli, paginya habis buat judi.” Kini gantian Pak Kandar yang berujar dengan sangat sinis.

“Ternyata ia masih orang yang sama, Komeadi yang sama” Gumamku dalam hati.

“Djancok memang itu Komaedi!” Imbuh Pak Kandar dengan setengah berteriak.  

Tak lama, terdengar suara tangis bayi. Pasti itu anak keduaku yang bangun mendengar pisuhan Pak Kandar yang keras.

Posting Komentar

0 Komentar