Masih Orang yang Sama (1)

Adalah tak baik bicara tentang sesuatu yang tidak kita paham, Boy. Politik terlalu keras untuk jadi topik malam dingin seperti ini. Biarlah itu jadi topik orang yang merasa perlu. Yang harus kau pikir kini adalah bagaimana kau menikah di usiamu yang sudah kepala tiga itu. Takkah emakmu mengomel dengan kebetahanmu tanpa istri?

Boy, kemarin aku beranjak dari rumah dan coba-coba datang ke perpustakaan kota. Katanya buku disana lengkap, segala jenis buku ada. Dan tidaklah kata itu isapan jempol belaka. Bahagia rasanya bisa membaca buku sebanyak itu suatu saat. Tapi sayangnya, tak banyak yang datang kesana. Tak ada 20 orang. Seluas, selengkap, serapi itu. Kemana sebenarnya anak sekolah dan mahasiswa datang kala waktu luang?

Baiklah, kita singkirkan tentang isi perpustakaan dan pengunjungnya yang sepi. Aku carikan kau topik yang akan membuatmu mengumpat. Kau tau apa? Cinta Boy, cinta! Kau tahu apa itu cinta? Kalau kau tahu, tidaklah kau melajang sampai wajahmu jadi tua seperti itu. Maka pasti kau tak tahu.

Begini, aku tak akan mengejekmu atau menyudutkanmu. Anggap saja aku sharing dan sedang memberikanmu sebuah motivasi berharga agar kau tak betah dengan dunia lajang yang memprihatinkan.

Jangan tutup dulu suratmu, Boy. Ah, janganlah pula pasang wajah kecewa seperti itu!

:::

 

Sudah sebulan lebih aku jadi pelanggan ruangan perpustakaan kota itu. Dan karena itulah, mesti aku katakan padamu tanpa belas kasihan bahwa salah satu alasanku adalah cinta yang begitu cepatnya tiba-tiba menjadi obsesi.

Akan aku ajari kau cinta, Boy.

Sedang asyiknya aku membaca buku. Seorang perempuan datang tanpa kuundang (Tanpa kuundang, Boy. Sekali lagi, tanpa kuundang).

“Permisi, mas. Buku itu ada di rak mana ya?” Ia menunjuk buku yang aku bawa.

“Oh, disana, mbak!” Aku menunjuk ke arah tempat tadi aku mengambil buku. Biarlah kata-kata pertemuan pertama kita kaku. Tapi kau akan tahu betapa cinta kelak akan membuatmu lugas dan punya jutaan kosakata untuk diungkapkan tanpa ada kata kaku dalam kamus cintamu.

“Oh, terima kasih” Pungkasnya.

Perempuan itu menghilang di balik rak-rak menjulang. Tapi selang beberapa waktu, ia kembali lagi (dan lagi-lagi tanpa kuundang).

“Ada?” Tanyaku spontan ketika ia mendekat ke kursiku.

Jawabannya adalah senyum manis, Boy (nanti akan aku kujelaskan tentang senyum manis yang akan membuatmu tercengang). Yang lantas disusul dengan lirih suaranya.

“Nggak ada. Habis mungkin stocknya!”

“Oh, ya?” Jawabku sambil aku bumbui wajah sok tercengang dan kaget.

Kalau kau pernah melihat film-film romansa. Begitulah yang kulakukan waktu itu. Aku segera bangkit mencari buku yang sama dengan apa yang baca. Aku meninggalkannya di tempat duduknya. Dan untungnya buku itu memang benar-benar tak ada.

“Tanda baik.” batinku.

Aku kembali ke tempat duduknya membawa dua buku. Satu buku yang tadi aku baca dan satu lagi, aku mengambil sekenannya.

“Ini” aku sodorkan buku yang ia cari.

“Oh ada, ya?”

“Bacalah. Aku akan membaca yang lain”

“Tak apa?”

“Tak apa!” Sambil aku mengatakan “tak apa”, aku beri ia senyum sedikit agar ada kesan aku melakukannya dengan tulus. Anak melayu macam kita harusnya punya keahlian macam tu. Aku sudah punya keahlian sejak kecil. Kau yang sudah kepala tiga, mengapa tak kunjung punya?

“Jadi merepotkan. Terima kasih”

“Tak perlu. Sudah seharusnya” lagi-lagi kata ini sambil kuberi senyum.

Ia tersenyum manis lagi, lalu menyodorkan tangannya.

“Ardilla!”

Ardilla namanya. Tak usah kuminta. Ia yang mengulurkannya. Begitulah cinta datang. Tak kau sangka, tak kau nyana. Ia datang dengan seutas senyum yang kelak senyum penuh cinta seperti itu akan membuat saraf-saraf pegal dalam tubuhmu berguguran dan membuatmu ingin terus saja memandanginya yang sedemikian mempesona.

:::

 

Cerita selanjutnya, lebih membahagiakan lagi. Takkan lah banyak kuceritakan kepadamu yang masih saja sendiri. Tak akan lah kau paham apa yang kukatakan. Kau tak pernah merasakannya. Cinta hanya bisa dipahami oleh orang yang mengalami.

Tapi tak apalah kuceritakan sedikit tentang perjalanan cintaku bersama Ardilla. Simak lagi, Boy. Tak usah pasang muka masam. Aku sedang berbagi bahagia. Bukan sedang memanas-manasi.

:::

Jadi pasca pertemuan itu, aku jadi semakin sering bersamanya. Seringkali di perpustakaan. Tapi tak jarang kita jalan bak kekasih yang sedang dimabuk asmara. Kita bercanda sepanjang jalan. Banyak hal yang aku bicarakan dengannya dengan tema yang berbeda-beda. Wajar saja, aku rajin baca, ia juga sama. Maka banyak yang kita bicarakan. Tak habis-habis keseruannya.

Sudah sering sekali kita ditegur pengendara lain karena masih saja tertawa-tawa penuh cinta ketika menunggu lampu merah yang tak kunjung hijau.

“Pacaran tak tahu tempat”, “Norak”, “Lebay”, dan lain-lain.

Tapi aku tak ambil pusing. Tahu apa mereka soal cinta kita. Mereka tak tahu saja, bahagia yang kami tunjukkan sama sekali belum menggambarkan apa yang sesungguhnya kami rasakan. Tak ada sekuku jari dari cinta yang bersemayam di hati kita masing-masing.

Dari kejadian itu, aku membayangkan betapa geramnya kau membaca ini, Boy. Kau mungkin akan bilang ini lebay. Kalau memang begitu, itu hanya karena kau tak pernah merasakan cinta. Sama seperti mereka-mereka yang melarangku berbahagia dengan Ardilla. Kemungkinan besar itu didasari hasud dan iri yang memenuhi hati mereka. Sungguh bukan akhlak yang baik!

Karena kita semakin yakin bahwa kita saling cinta dan sama-sama enggan berpisah. Maka kita sepakat akan menikah. Menikah, Boy. Benar-benar menikah! Tau kau apa itu menikah? Pasti kau tak tahu! Karena kau jelas belum pernah melakukannya!

Aku datang ke rumahnya, bertemu keluarganya. Bertemu bapaknya. Bertemu ibunya. Mereka menyambut dengan sangat hangat Boy. Lebih hangat dari teh yang biasa kita beli di warung Mak Lastri. Jauh lebih hangat. Hangatnya sampai ke hati. Benar-benar cerita cinta yang indah. Tak ada aral melintang. Semua berjalan mulus dan lancar bak mengendara di jalan tol jam 2 dini hari.

Begitulah kalau cinta memang sudah saatnya bersama. Kita akhirnya melangsungkan pernikahan. Orangtua kukabari. Itulah alasan mengapa sampai saat ini kedua orangtuaku masih di sini bersamaku. Tak lagi pulang ke kampung. Toh anaknya kini sudah mapan di usia kepala 3. Tak ada alasan mereka tak nyaman bersamaku di sini. Maka engganlah mereka kembali.

Kini, usia pernikahanku sudah 7 tahun. Aku punya 3 anak. Dua perempuan. Kuberi nama ia “Kinasih Nun Ranum”. Satu lagi. Kuanugerahi ia nama, “Asmara Lipur Lara”. Yang laki-laki, aku namai “Bintang Cahya Jiwa”. Mereka bertiga semakin menyemarakkan cinta kita yang semakin hari semakin bertambah tinggi.

Itu saja ya Boy. Aku takut kau makin iri kepadaku. Aku sudah sebahagia ini. Dan aku yakin, kini kau masih melajang. Pasti belum bersitri. Dan ibumu pasti mengomel setia hari. “Kapan kau beristri, naaaak. Sudah 35 umurmu. Masih juga burungmu tak mau kau gunakan dengan baik!”

::: Bersambung

Posting Komentar

0 Komentar