Simplicity

Bilqolam.web.id

Gaya hidup manusia berbeda-beda. Ilmu pengetahuan fisika merumuskan, Tekanan (P) berbanding lurus dengan Gaya (F), orang yang merasa hidupnya penuh "tekanan", bisa jadi karena dia banyak "gaya", atau orang yang banyak gaya, hidupnya akan memunyai banyak tekanan.

Sederhana saja, hidup dengan sederhana. Sederhana itu apa adanya, tidak dibuat-buat, tidak memaksakan diri, tidak ngoyo.

Cak lontong pernah bilang:

"Miskin dan sederhana itu beda. Miskin itu kondisi hidup, sederhana itu cara hidup."

"Sederhana berjalan sejajar dengan orang yang bijaksana."

Cara hidup sederhana bisa dilakukan oleh siapa saja, miskin ataupun kaya. Hidup sederhana tidak mewakili keduanya, orang tidak dapat disebut miskin hanya dengan ia melakukan cara hidup yang sederhana, begitupun sebaliknya.

Banyak sekali orang kaya, berkecukupan, memilih gaya hidup yang sederhana. Tapi tak sedikit juga orang dengan kondisi miskin, kekurangan, malah ngoyo dan memaksakan diri hidup berlagak seperti orang kaya. Itu menyakitkan.

Berapa banyak orang yang hanya sebab gengsi, pengen dianggap, pengen mendapat pujian, memaksakan dirinya yang dalam kondisi miskin seolah-olah ia orang yang kaya.

Hidup yang demikian hanya akan mendatangkan banyak "tekanan", sebab terlalu banyak "gaya" dalam hidupnya. *Lihat rumus di atas.๐Ÿ‘†๐Ÿ‘†๐Ÿ‘†

Namun seperti itulah, gaya hidup kekinian yang tak lagi bisa membedakan mana kebutuhan mana keinginan. Kondisi yang ingin disebut orang yang kaya menjadikan seseorang mau melakukan apa saja, terlihat manis di kamera, penuh masalah dalam realita.

Apa yang disuguhkan kepada orang yang ada di depannya, berbanding jauh dengan realitas yang ada. Semua hanya seolah-olah.

Menjadi apa adanya lebih indah daripada terlihat wah namun hanya seolah-olah. Makan tahu tempe dengan uang sendiri lebih menyehatkan daripada makan di restoran tapi pakai uang hutangan. ๐Ÿ˜…

Menjadi bijaksana, apa adanya, Sederhana saja.๐Ÿ˜Š

Posting Komentar

0 Komentar