Salah Titik

 

Huruf Hijaiyah, atau huruf arab memiliki kesamaan bentuk yang seringkali membuat orang salah membacanya jika tidak teliti benar. Misalnya ba' dan ya' yang berbeda jumlah titiknya saja. Na'asnya, kesalahan pembacaan tersebut berkait makna yang berubah. Dan bukan tidak mungkin, maknanya jauh dari apa yang sesungguhnya dimaksud.

Ada cerita masyhur mengenai salah tulis titik yang tidak tanggung-tanggung, berujung kematian! Seperti yang ada dalam buku "Islam Versus Ekstrimisme" yang menggambarkan betapa fatalnya kesalahan titik. Iya, hanya karena salah titik.

Di buku tersebut diceritakan, ada seorang dokter bernama Tuma al-Hakim. Dokter ini dalam praktik pengobatannya hanya berdasar buku belaka. Suatu hari ia mendapati sebuah redaksi hadis berbunyi; "al-Habbah as-Sawda' Syifa'' likulli Da'," Namun Tuma al-Hakim mendapati huruf ba' pada kata al-Habbah dengan dua titik; hingga menjadi ya', karena kemungkinan salah cetak atau lainnya. Maka ia membacanya menjadi al-Hayyah as-Sawda'. Tentu maknanya berubah total, semula makna yang benar adalah "Jinten hitam (al-Habbah as-Sawda)' adalah obat dari segala penyakit", berubah drastis menjadi "Ular Hitam (al-Hayyah as-Sawda' ) adalah obat bagi segala penyakit." Akibatnya, Tuma al-Hakim membunuh banyak orang karena kebodohannya, mereka mati terkena bisa ular ganas dan ia anggapnya sebagai obat.

Betapa kesalahan kecil dalam titik berujung pada dampak yang besar. Itulah mengapa, kejanggalan dalam sebuah kitab yang dirasakan oleh para Guru kita, Kiai kita, kemudian mengkomparasikan dengan kitab yang sama dari penerbit berbeda. Disitu akan tampak salah tidaknya cetakan kitab yang dibaca. Itulah sebabnya, para Ulama' kita seringkali membeli kitab yang sama dari penerbit berbeda. Setidaknya itu akan memberikan meminimalisir kesalahan yang ada dengan membandingkannya. Sebab bukan tidak mungkin, seperti cerit tadi, kesalahan-kesalahan kecil bisa berdampak besar.

Ini bentuk kehati-hatian serta dalam rangka bukti nyata keilmiahan para ulama' kita dalam menjaga keilmuan. Maka penting untuk memiliki keilmuan mumpuni untuk memberikan transmisi ilmu, sebab kesalahan-kesalahan seperti ini bisa jadi tidak disadari jika tidak benar-benar terbiasa.

Cerita kesalahan titik dari Tuma al-Hakim tersebut juga menjadi perenungan, betapa pentingnya guru bagi siapapun. Sebab selain mengkomparasi dengan kitab yang lain, Guru bisa menjadi sosok yang bisa dijadikan pertimbangan dalam mengompromikan sesuatu yang janggal dari apa yang dibaca.

Lah, yang lucu itu mengubah kata yang sudah benar dalam sebuah kitab tanpa menkroscek dan membandingkan dengan kitab yang lain hanya karena alasan tidak tahu maknanya. Ini PR bagi kitorang yang masih pemula untuk lebih berhati-hati dalam mengkaji dan memaknai kitab. Semoga kita menjadi orang-orang yang -dalam istilah RomoGuru Siddi Miftahul Luthfi Muhammad- "Sadar dan Disiplin" dalam keilmuan. Memelajari, dan mengkajianya, lebih-lebih mengimplementasikannya. Semoga kita dimampukan oleh Alloh menjaga khazanah keilmuan dengan tepat dan benar. Amiin.

Posting Komentar

0 Komentar