Ndingkluk!

 


Ketika kita lupa bahwa apa yang sudah kita inginkan rasanya harus segera terwujud sehingga lalai jikalau segala sesuatu yang dikejar dengan rasa diharuskan tidak akan menuahkan hasil yang memuaskan. Banyak hal yang harus di pikirkan dengan matang agar apa yang diinginkan tidak berjalan sia-sia. Niat terutama agar rasa sombong tidak mencul ketika apa yang sudah diinginkan tersebut terwujud. 

Perlu di sadari Ketika kalian ingin melakukan hal besar dalam hidup. Perlunya kalian untuk melihat kebawah untuk menjadikan diri kita tetap rendah hati, ketika sudah di atas tidak lupa bahwa di atas langit masih ada langit. Banyak orang melupa jika dirinya berasal dari bawah sehingga menjadikan sombong ketika azam yang di inginkannya sudah di kabulkan oleh Alloh bahwa seolah-olah dirinyalah yang paling hebat dan tanpa usaha kerasnya semuanya tidak akan terwujud. 

Mereka lupa bahwa di setiap second detik Alloh selalu bersamanya. Rasa ini sangat sulit muncul di karenakan hawa nafsu lebih besar ketimbang rasa hadirnya Alloh pada dirinya, disinilah setan menang di dalam pertandinganya untuk mengalihkan manusia ke dalam sifat sombongnya, dengan cara mengias-ngiasi hawa nafsunya yang selalu menggebu untuk selalu menuruti hawa nafsunya. 



Orang jawa mempunyai kearifan lokal yang sangat luar biasa. Salah satu contohnya ndingkluk. Orang jawa diajarkan untuk selalu merendahkan badannya ketika melewati orang yang lebih tua berada di papasannya atau di depannya. Hal ini sudah tradisi bagi orang jawa yang mengutamakan kesopanan dan adab untuk melakukan hal yang di lakukannya. Semua itu bertujuan untuk menghormati orang yang lebih tua darinya dan menyayangi yang lebih muda darinya. Agar tidak terlewat batas dalam melakukan apapun dan bisa membuat keputusan bahwasannya yang diinginkan tidak serba “harus”.

Kata filosofi sudah tidak asing lagi bagi kaum muda. Banyak para kaum muda dalam gegojekannya sering menyebut kata “ ojo duwur- duwur nek ngomong, mengko lambemu kesampluk pesawat”. Hal ini menggambarkan bahwa, jika berbicara terlalu tinggi akan membawanya ke dalam kesombongan yang nantinya kesombongan itu akan menjadikan masalah bagi dirinya. 

Disetiap kajian di pondok pesantren para santri sudah mempraktikan filosofi ndingkluk  tersebut, apa lagi setiap kajian bakdo subuh. Suasana yang subhanAlloh bagaiakan ditaman surga dengan suasana yang sejuk yang membuat hati tenram. Wallohu a’lam bisshowab.

 

Posting Komentar

0 Komentar