Manajemen Ekspektasi ala Kopites.

 



Melihat torehan trofi dan gaya bermain yang hampir tidak pernah tidak menghibur penikmat sepak bola, kita mungkin bisa sepakat bahwa setidaknya dalam 3 tahun terakhir, Liverpool adalah salah satu klub sepak bola terbaik di dunia.  Dengan Mo Salah, Sadio Mane, dan Bobby Firmino, yang sangat produktif menelurkan gol demi gol di setiap pertandingannya. Henderson, dan Wijnaldum yang begitu fluid mengisi lini tengah. Dan jangan pernah lupakan Virgil, Alisson dan Flaco yang menjadi tembok tebal penghalau serangan lawan. Sebagai penikmat sepakbola dan juga Penggemar Liverpool(Kopites), tentu kami sangat bersyukur bisa melihat permainan indah Liverpool beberapa tahun belakangan ini.

Tetapi memang perlu diakui juga jika musim ini liverpool mengalami penurunan performa, bahkan dalam 3 pertandingan terakhir, mereka tidak pernah menang sekalipun. Meski sewaktu atikel ini ditulis Liverpool masih berada di puncak klasemen, ujaran rasa kecewa penggemar sudah bertebaran di mana-mana, dan mungkin banyak penikmat bola bertanya-tanya, ada apa dengan liverpool?

Menjawab itu, mungkin kita perlu menengok 10 tahun belakang, di mana bisa melihat liverpool bermain saja sudah menjadi sebuah kenikmatan tersendiri. Jangan dulu mengharap juara, tetap bisa finish di atas Everton saja sudah sebuah prestasi yang membanggakan. Dan ya, paruh musim, masih berkutat di papan tengah adalah hal biasa. Itulah kami 10 tahun yang lalu, sudah terbiasa dengan rasa kecewa sehingga tidak lagi kecewa ketika melihat liverpool kalah-asal tidak kalah dengan emyu . Pelatih dan pemain datang silih berganti, dengan rasa kecewa yang seakan tidak pernah pergi. Brendan Rodgers, Luis Suarez dan Sturridge, sempat menyalakan asa juara, tetapi akhirnya sama saja, gagal juara.

10 tahun yang lalu itu benar-benar membuat kami tidak pernah berekspektasi tinggi ketika menonton liverpool, sampai tahun 2015 Jurgen “The Normal One” Klopp datang. Seorang yang punya passion dan emosi liverpool,  he Said, “We must turn, from doubters to believers”. Perlahan ekspektasi kami meningkat, menonton liverpool bukan hanya untuk melihat mereka bermain, tetapi juga untuk melihat mereka menang dan berselebrasi di depan layar televisi.

Musim pertama Juergen, telah membawa liverpool bermain di dua final dengan pemain seadanya, dan dua-dua nya kalah, sebuah awal yang membanggakan, sekaligus mengecewakan, tapi itu sudah biasa. Setidaknya kami mulai percaya, liverpool tidak salah memilih pelatih.

Musim-musim berikutnya liverpool gas pol!, menempel ketat Manchester city di puncak klasemen, bermain cepat dengan umpan-umpan yang akurat, Trent dan Robbo menjadi fullback pengumpan terbaik waktu itu, Merain 99 poin di akhir musim 18/19, 1 poin dibawah Mancheser city. Di m usim itu pula istilah “Corner taken quickly, origi!” tercipta, kemenangan dramatis 4-0 melawan Barcelona di anfield, menjadi momen emosional sebelum menjurai trofi ke-6 UCL mereka.

Musim 19/20, menjadi musim yang spesial, setelah 30 tahun puasa gelar Liga, akhirnya Liverpool buka puasa juga. Dengan gap poin yang tidak main-main, 18 poin di atas Manchester City. Hal yang tidak pernah saya pikirkan 10tahun terakhir.

Semenjak itu ekspektasi sewaktu melihat liverpool bermain selalu tinggi, kemenangan dengan skor besar selalu menjadi hal yang yang ingin kami saksikan. Melihat pemain muda, Trent, Diogo Jota, dan Curtis, adalah hal yang menarik. Bahkan sesi wawancara seusai pertandingan, tidak pernah saya lewatkan.

Tetapi jika kita mau berpikir lebih jauh, ekspektasi yang terlampau tinggi itu justru menjadi hal yang merusak kenikmatan sewaktu menonton sepak bola. Karena kemenangan dan permainan yang menarik menjadi “goal” yang harus kami dapatkan ketika menonton liverpool, jangankan kekalahan, hasil imbang saja, rasanya sangat mengecewakan. Padahal dalam sebuah pertandingan, hasil imbang dan kalah itu sebuah hal yang wajar selain menang.

jadi, ekspektasi benar-benar berpengaruh dalam hal menikmati apapun, termasuk menikmati sebuah pertandingan sepak bola. Jika realita tidak sesuai dengan yang kita ekspektasikan, tentu, rasa kecewa itu akan ada, apalagi kita realitanya mbeleset jauh dari ekspektasi, sudah pasti nggondoknya gak ketulungan. Solusinya adalah dengan kembali menaruh ekspektasi serendah mungkin, sehingga tidak ada rasa kecewa yang berlebihan.

Begitulah,  Sebagai seorang penggemar Liverpool amatiran. Tentu, saya tidak terlalu kecewa melihat penurunan peforma liverpool musim ini, karena kalah menang dan imbang adalah keniscayaan. Yang jelas bagi saya Liverpool tetaplah salah satu Klub terbaik di dunia. no debat.

 

Posting Komentar

0 Komentar