Kesalahan Terbesar Mas Markes

Mas Markes barangkali adalah satu dari sekian rider MotoGP yang paling punya potensi menggeser kedigdayaan Bapak Valentino Rossi dalam sejarah MotoGP. Soal torehan juara dunia, Bapak Rossi masih memimpin. Bapak Rossi adalah sejarah berkilau MotoGP. Mas Markes harus berjibaku dan mengeluarkan energi terbaik untuk menguatkan diri bertahan dan terus mengejar torehan kemenangan demi kemenangan untuk mengkusamkan kilau sejarah Bapak Rossi. Tanpa itu, Mas Markes tak akan pernah mengukir sejarah sempurna.

 

Peluang Mas Markes masih terbuka nan menganga. Ia masih muda, peluang menyabet juara masih bisa dilakukan hingga bertahun kemudian. Na’asnya, itu berbarengan dengan usia Bapak Rossi yang terus tertambah. Bapak Rossi sudah menginjak kepala empat. Adrenalinnya jelas menurun. Itu artinya torehan juara Bapak Rossi sudah bisa dipastikan tidak bisa bergerak lagi, sedang Mas Markes masih berpeluang besar menambahnya.

 

Soal kemampuan, Mas Markes sudah di jalur yang benar. Ia punya skill dan kemampuan yang tidak layak diragukan. Sayangnya kemampuan itu belum cukup untuk mendosok Bapak Rossi sebagai ikon dan daya tarik MotoGP. Tidak bisa dipungkiri, bagi pecinta MotoGP, Bapak Rossi adalah magnet utama.

 

Kita bisa mlihat itu ketika race sedang berlangsung -tentu saja berkaca pada motoGP tahun lalu, sebelum pandemi menyerang bumi-. Bendera hijau bertulis 46 masih mendominasi dikibar-kibarkan di bangku penonton. Fakta lainnya, bagi beberapa orang, jatuhnya Bapak Rossi adalah akhir dari balapan. Jika sudah demikian, bagi yang menonton di rumah mematikan televisi adalah pilihan paling bijak, sebijak ucapan Bapak Mario Teguh.

 

Bapak Rossi adalah petarung di race. Ia sering menang dengan cara dramatis. Podium nomor satu diraih dengan cara yang ciamik dan memanjakan penonton. Ia jarang berada di garis depan dengan bersepeda sendirian tanpa pembalap lain di belakangnya. Betapa banyak battle yang dilakukan Rossi dengan berbagai lawan berbeda untuk meraih podium pertama.

 

Sebaliknya, Markes sering sekali bersepeda sendiri bak tidak sedang balapan. Musuhnya jauh di belakang ketika ia sudah berada di nomor wahid. Jelas bagi penonton ini tayangan yang menjemukan sekali. Tidak ada battle yang seru, tidak ada salip menyalip yang mendebarkan. Balapan macam apa begitu itu!

 

Tapi sepertinya bukan itu masalah utama Mas Markes tidak bisa menjadi ikon utama MotoGP. Bahkan mungkin pasca Bapak Rossi pensiun sekalipun. Orang akan mencari sosok lain yang asal tidak Mas Markes.

 

Masalahnya terbilang politis, tapi ini bisa jadi adalah masalah utamanya. Kita ingat ketika Mas Markes dulu menabuh genderang perang dengan Bapak Rossi hingga Bapak Rossi geram dan sampai hati njejek Mas Markes yang kemudian berguling bergerak bebas di atas pasir. Pasca itu race itu, Mas Markes seperti sosok yang mencoba menghalangi Bapak Rossi juara dengan melindungi Om Lorenzo dari kejarannya sendiri. Betapa ia sama sekali tak menyalip Om Lorenzo pada race terakhir MotoGP di Jarez. Padahal kesempatan jelas-jelas ada.

 

Anehnya, itu terjadi pasca ia memlokamirkan diri sebagai penggemar Bapak Rossi. “Proklamasinya” sebagai penggemar Bapak Rossi ketika itu jelas angin segar bagi fans The Doctor. Sebab umur pria yang asal Italia itu tak lagi muda dan beberapa tahun kemudian pasti pensiun. Lakok mak bedunduk, Mas Markes tiba-tiba menabuh genderang perang pada idolanya. Sungguh durhaka yang tak terkira.

 

Itulah sebabnya sampai entah kapan Mas Markes tak akan menjadi magnet besar di MotoGP. Ia hanya akan menjadi pembalap biasa yang tak sebesar Bapak Rossi, sekalipun mungkin gelar juaranya nanti lebih banyak. Mengapa? Karena Mas Markes memilih tak menjadi penerus Bapak Rossi. Ia memilih menjadi musuh yang dibenci, setidaknya oleh fans Valantino.

 

La mau bagaimana, lawong bagi banyak orang, balapan motoGP adalah balapan Rossi. Sulit rasanya ikon balapan MotoGP yang adalah balapan Rossi kemudian diberikan kepada orang yang bukan penerusnya, apalagi musuh!

Posting Komentar

0 Komentar