Kabar Gembira dari Lailatul Qodar untuk para Pekantuk


"Khoirun min alfi syahr; Lebih baik ketimbang seribu bulan".

Demikianlah di al-Qur’an Alloh mensifati malam Lailatul Qodar. Malam istimewa yang selalu dinantikan oleh sebagian besar kaum muslimin di bulan Romadhon setiap tahunnya.

Di malam lailatul qodar, do'a-do'a diyakini mustajabah dan siapapun yang mengerjakan perbuatan bajik di dalamnya, dipercaya sama dengan mengerjakannya selama 1000 bulan. Bukan main.

Karena keistimewa’anya inilah malam lailatul qodar menjadi semacam batu mulia, yang untuk mendapatkannya orang rela berjuang dan berkorban sedemikian rupa.

Bagaimana tidak ? Memang demikianlah adanya.

 Di malam-malam terakhir bulan romadhon, bisa teman-teman saksikan bagaimana beramai—ramai orang bermalam dan menginap di masjid karena mendamba mendapat lailatul qodar ini.

Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut mengapa bermalam di masjid saja sudah penulis katakan sebagai sebuah pengorbanan dan perjuangan. Teman-teman yang sudah beristri rasanya lebih cocok, lebih kredibel, dan tentunya lebih fsih dn krdibel untuk menjelaskan hal ini. Hehe 😊

Berbahagiaah kita para jomblo, karena untuk itu tidak banyak yang perlu kita korbankan dan perjuangkan sebagaimana kawan—kawan yang telah beristri. (Alhamduillaaaah lor)

Mari tinggalkan perdebatan tentang mana yang benar soal kapan waktu ia tiba. Tidakkah kita sudah lelah pada perdebatan-perdebatan semacam ini. Debat kusir tahunan yang berkapanjangan, yang selain tidak pernah menghasilkaan solusi, juga selalu menimbulkan perpecahan-perpecahan disana-sini. Debat mauludan, debat ucapan selamat atal, debat rabu wekasan, dan debat-debat lain yang sungguh menjemukan.

Jadi,

Kembali ke Laailatul Qodar saja lah.

Teman-teman pembaca mungkin juga bagian dari orang-orang yang punya bakat lebih di bidang melek'an. Berjaga diri supaya tidak tidur di “malam-malam” nya Lailatul Qodar. Itu sungguh bakat baik yang perlu di jaga dan di tular-tularkan. Tidak banyak orang yang punya kelebihan pada bidang ini.

Tapi, apalah daya orang-orang semacam penulis ini yang nul puthul di bidang itu. Yang ada malah justru sebaliknya. Ngantuk dan lantas tertidur itu entah bakat atau bukan. Tapi tanpa perlu dijaga dan ditularkan pun nyatanya sudah banyak orang yang punya. Jadi ini mungkin lebih pas disebut wabah ketimbang bakat.

“Wabah virus ngantuk19”. Wah, kedengarannya pas juga. lebih kekinian

Tapi Gusti Alloh sungguh baik. Keyakinan penulis tidak salah. Setiap ketetapannya adalah kebaikan. Termasuk anugerah wabah ngantuk19 ini.

Dan itu terbukti (lagi) ketika kajian Kitab Targhib-nya Imam al-Mundziri sampai pada pembahasan tentang anjuran dan fadhilah Jama'ah Solat Isya dan Subuh. Terdapat satu diantara sekian hadis yang benar-benar menjadi kabar gembira bagi golongan pengidap wabah ngantuk19.

Begini bunyinya.


مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ العِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْ لَيْلَةِ الٰقَدْرِ

 

Barangsiapa melaksanakan Solat Isya' dengan berjama'ah, maka sungguh ia telah mengambil bagiannya dari Lailatul Qodar” (Hr. Imam Thobroni)

 

·        Hadis ini juga dicatat Imam Thobroni dalam Kitab Al-Kabir

 

Pesan utama hadis ini jelas. Supaya penulis, teman-teman pembaca dan kaum muslimin pada umumnya berusaha sekuat tenaga melaksanakan solat 5 waktu dengan berjama'ah. Lebih-lebih di masjid jami'. Tapi dibalik hikmah solat jama'ah yang tak terhitung jumlahnya, satu yang spesifik ini sungguh berbeda. Sungguh menggembirakan. Utamanya bagi pengidap wabah ngantuk19 seperti penulis. Eureka !

Alhamdulillaaah.

Maturnuwun Gusti Alloh. Selalu Engkau berikan solusi bagi setiap masalah. Selalu Engkau sediakan jalan keluar bagi tiap-tiap persoalan. Terutama untuk kami yang punya bakat yang “tidak biasa” ini.

 

 

Posting Komentar

0 Komentar