Pelajaran di Balik Kegagalan

 


Beberapa hari yang lalu Guru mengutus kami untuk untuk mewiridkan suatu ayat beberapa puluh kali hanya dalam kurun waktu 3 hari, tepatnya 70.000 kali, dalam rangka melatih diri (riyadloh). Jumlah yang banyak, bagi saya yang banyak lalainya ini. Tetapi tentu saya cukup PeDe bisa menyelesaikan tugas itu, walaupun kalau dihitung-hitung secara matematik, sudah pasti ramashok! Karena untuk melafalkan sekali saja, paling tidak butuh waktu 12 detik, atau 10 detik, itupun kalau sedang pol-polan fokusnya. Kalau demikian, berarti tiap jamnya hanya akan dapat sekitar 400 sampai 600, tinggal kalikan 72 (3 hari) saja, itu belum terpotong waktu makan, tidur dan bersih-bersih, halah wes… hitung sendiri lah pokoknya, heuheuheu. 

 

Hari pertama adalah waktu di mana semangat masih sangat menggebu-gebu, dengan fokus yang penuh dan elan yang utuh. Hari berikutnya jangan ditanya, sudah banyak angop-nya. Memang dalam proses riyadloh itu salah satu hal yang berat adalah menjaga konsistensi. Bisa jadi fisik masih mampu, tetapi semangat belum tentu, mungkin juga sebaliknya, motivasi masih tinggi, tapi mata sudah tidak sabar untuk bermimpi, oleng juga akhirnya. 

 

Walhasil, tibalah hari pamungkas dan angka counter yang saya bawa kemana-mana untuk menjumlah wirid tidak beranjak dari 4 digit angka. Itu berarti seperempatnya saja belum, lhakok seperempat, sepersepuluhnya saja masih kurang beberapa ratus. Akhirnya tidak ada satupun murid yang bisa menyelesaikannya tepat waktu. 

 

Meskipun demikian, saya tidak menganggap riyadloh ini gagal. Memang tidak ada yang mampu mencapai target yang diharapkan, tetapi ada banyak pelajaran yang kami dapatkan, dan mungkin akan sangat berguna setidaknya bagi diri saya sendiri, di waktu yang akan datang. Karena secara tidak langsung riyadloh ini menjadikan pikiran saya jarang sekali kosong, karena ayat-ayat itu selalu timbul dan tenggelam dalam pikiran, bahkan hingga sekarang, yang berarti menjadikan saya lebih sering berdzikir daripada sebelumnya. Tentu itu adalah sebuah “breakthrough” yang luar biasa, untuk manusia yang belum tahu diri seperti saya ini.

 

Kalau mau sedikit merenungkan riyadloh dari guru kami ini, akan timbul semakin banyak hutang rasa, karena memunculkan habbit baru adalah adalah hal yang tidak mudah, apalagi dzikir yang durasinya sepanjang waktu dan beliau mengusahakan itu tanpa kami menyadari, dan setidaknya itu berhasil sejauh ini, walaupun belum bisa penuh sepanjang waktu berdzikir. Kemajuan “kecil” itulah yang bagi saya sangat berharga dari tugas riyadloh kali ini.

 

Pada akhirnya, saya tentu berharap pelajaran dari “kegagalan” tugas ini tidak hilang dengan lekas, dan semoga selamanya membekas, amin. Wallohu A’lam.

 

Posting Komentar

0 Komentar