Kisah Inspiratif, Anak Professor Berhasil jadi Pemulung yang Bahagia






Mbak, seringkali kita mendengar orang tua berucap, “ biarlah aku saja yang bekerja keras, banting tulang, terpanggang panas matahari, basah kuyup oleh hujan badai, asal anakku bisa hidup lebih baik, kerja di tempat teduh, tak perlu bermandi keringat dan menguras tenaga ” atau mungkin ada pula redaksi kalimat yang lebih dramatis. Intinya umumnya orang tua ingin anak mereka lebih sukses dari mereka, tanpa mengalami kesusahan dan kesulitan seperti yang mereka alami dengan jalan memberi pendidikan yang setinggi-tingginya bagi anak mereka.
Mbak sudah nonton sekuel terakhir film Ip man yang diperankan Donny Yen? Dalam satu babak film IP man tersebut, sang master wing chun justru melarang anaknya untuk belajar seni beladiri seperti yang dikuasainya. Padahal sang anak bersikeras untuk menjadi master wing chun seperti sang ayah dan merasa punya passion untuk itu. Tapi Ip man merasa bahwa seni beladiri itu tidak akan ada gunanya di masa depan. Ip man memaksa anaknya untuk belajar sampai ke perguruan tinggi agar bisa menjadi orang terpelajar sehingga memiliki masa depan yang lebih baik dari dirinya. Seolah sang master lupa bahwa seni beladiri wing chun itulah yang membesarkan namannya. Ip man bahkan sampai hati memukul anaknya karena dengan keras menolak untuk melanjutkan sekolah.
Mbak, saya tidak bermaksud untuk menyalahkan orang tua yang berpendirian seperti tersebut di atas. Karena orang tua saya atau barangkali orang tua mbak juga seperti itu. Mereka pasti memiliki alasan yang melatarbelakangi. Disamping  mereka juga pasti punya niat baik dibalik tindakan dan tak mungkin menjerumuskan anaknya. Tapi, pendirian yang demikian, dalam kadar yang berlebihan justru bisa menjadi blunder fatal. Bahkan jika sudut pandangnya sedikit digeser, yang terlihat justru egoisme orangtua yang ingin selalu menjadi pahlawan penolong dan menjadikan anak hanya sebagai objek. Sayangnya ini sering tidak disadari orangtua. Lebih parah lagi kebanyakan anak juga tidak menyadarinya dan terpaksa menuruti kemauan orang tua. Padahal seringkali anak punya passion berbeda. Tidak begitu jadi masalah jika apa yang dicita-citakan orang tua berhasil. Tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, bisa jadi kedua belah pihak (anak dan orang tua) akhirnya akan saling menyalahkan.
Mbak pasti juga sering membaca atau mendengar cerita-cerita seperti penjual nasgor berhasil menyekolahkan 3 anaknya hingga jenjang magister, Tukang pijat yang anaknya menjadi dokter spesialis, anak tukang reparasi sepeda yang jadi insinyur pesawat dan sebagainya, dan sebagainya. Memang terlihat membanggakan, bagi para orang tua. Tapi semua itu belum tentu baik bagi anak. Kemungkinan besar mereka memang memiliki bekal pengetahuan yang cukup dari pendidikan yang ditempuhnya. Namun karena dari awal mereka menjadi objek dari keinginan orang tua dan tidak terlatih berada dalam keadaan susah, mereka akan tidak siap menghadapi skenario hidup yang penuh kejutan.
Mbak, dari penjelasan panjang lebar diatas, saya hanya ingin kita nanti memberi perlakuan semestinya kepada anak-anak kita. Biarkan mereka menentukan jalan yang mereka inginkan. Bantu mereka dengan fasilitas secukupnya tanpa terkesan memanjakan mereka. Seperti yang kita yakini apapun profesi seseorang, pasti itu mempunyai kemanfaatannya masing-masing, meskipun itu kuli batu, buruh tani ataupun pemulung. Jadi apapun mereka kelak, sebisa mungkin itu sesuai passion mereka dan atas usaha mereka sendiri. InsyaaAlloh dengan pilihan yang mereka pilih sendiri, mereka akan bisa lebih mudah berbahagia di dalam hidup yang sangat singkat ini.
Tapi sebelum itu semua aku ingin mengajukan pertanyaan  ke mbak, mbak sekarang ada dimana? Bukan, lebih tepatnya aku ingin bertanya, mbak itu siapa?

Posting Komentar

0 Komentar