TROTOAR



Mbak Jah, seperti yang mbak Jah ketahui, aku senang sekali berjalan sendirian di trotoar kota yang asing. Lalu membiarkan pikiranku bebas, lepas, bahkan liar. Berpikir segala hal yang kadang saling terkait atau lepas sama sekali satu sama lain. Kadang pikiran tertata rapi seperti susunan paving trotoar yang aku lalui. Tapi lebih sering seperti benang kusut yang mustahil terurai, yang akhirnya terabaikan di samping tong sampah samping trotoar itu. Pikiran dari problem personal sehari-hari seperti tunggakan bayar kos-kosan, tabung gas yang sudah tidak lagi berisi gas, meteran listrik yang mulai berisik dengan bunyi tit atau kucing tetangga yang buang hajat tepat didepan pintu kos-kosan. Tak jarang pikiran tentang hal yang lebih keren seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya dalam lingkup  nasional maupun global. Sehingga tak jarang pula aku merasa pikiranku adalah sesuatu yang brilian dan bisa menciptakan dunia yang lebih baik. meskipun aku akui kadang juga pikiran tentang hal-hal indah berlendir.

Mbak Jah, aku tahu itu berbahaya, seringkali aku tenggelam begitu dalam di dalam palung praduga dan hipotesa tanpa dasar atau tersesat dalam labirin atau rimba raya teori tanpa bukti. Sampai aku terselamatkan ketika tetiba menabrak tiang lampu jalan yang yang sudah karatan. Atau ketika kakiku tersandung oleh tonjolan paving yang baru kusadari ternyata tidak tertata terlalu rapi. Atau ketika tercium oleh indera penciumanku sedapnya aroma kuah bakso atau sate yang sedang dibakar dan membuat kakiku melangkah menepi.

Mbak Jah, sebenarnya kali ini aku tidak ingin bercerita tentang trotoar kota asing dan pikiran-pikiran yang ada di dalamnya. Aku ingin mengenang tentang trotoar kota yang sangat kita kenal. Trotoar yang pernah kita lewati bersama sambil bergandengan tangan. Trotoar yang ditata sedemikian rupa lengkap dengan taman indah di sepanjang sisinya. Trotoar dan taman indah ini tentunya tidaklah dibuat untuk para penunggang sepeda motor atau pengemudi dan penumpang mobil yang melaju terburu-buru. Mereka terlalu sibuk untuk sekedar menikmati keindahan trotoar ini. Setidaknya keberadaan kita, sebagai pejalan kaki—yang sekarang semakin langka— membuat semua usaha penata kota tidaklah terlalu sia-sia.

Mbak Jah, semoga mbak masih ingat ketika kita duduk berdampingan di kursi trotoar tersebut. Kursi besi dengan ornamen ikan koi berjumlah sembilan lengkap dengan teratai yang bunganya sedang mekar. ” merapat sini oh mbak” aku berkata sambil malu-malu,”itung-itung buat latihan, biar nanti pas di pelaminan kita tidak terlalu canggung, anggap saja deretan tanaman palem kuning, bunga kana, pucuk merah dan tabebuya sebagai tamu undangan. Dan  trembesi-trembesi yang tinggi menaungi itu sebagai tamu tenda resepsi kita...hehe.” Tentu saja mbak Jah tidak ingat, saat itu aku memang tidak berani meminta mbak Jah untuk mendekat, tidak pula dengan kalimat-kalimat seterusnya. aku tidak seberani itu mbak.


Mbak Jah, setelah beberapa musim berlalu, ketika rumpun palem kuning sudah beranak pinak, ketika populasi bunga kana semakin berjejal, ketika pucuk merah kian dramatis menampilkan gradasinya, ketika tabebuya sudah meluruhkan semua bunganya,  ketika trembesi semakin tinggi dan rimbun menaungi, di atas  kursi besi dengan ornamen ikan koi berjumlah sembilan lengkap dengan teratai yang bunganya sedang mekar, aku duduk sendiri, mengenangmu dan menulis untukmu tulisan ini.

Posting Komentar

0 Komentar