Sejarah dan Fadilah Sholawat Awwalin wal Akhirin

Dikisahkan, suatu hari ketika Rosulullah saw. berada di masjid, tiba-tiba seorang lelaki bercadar datang menemui beliau.

Lelaki itu membuka cadar yang menutupi wajahnya dan berkata dengan fasih,
"Salam sejahtera untukmu duhai manusia yang memiliki kemuliaan yang menjulang tinggi dan tak tertandingi."

Nabi saw. kemudian mendudukkan lelaki tersebut di antara beliau dan Abu Bakar r.hu. Sahabat Abu Bakar memandangi lelaki tersebut kemudian berkata kepada Rosulullah saw.,
"Duhai Rosulullah, mengapa engkau meletakkannya di antara aku dan engkau sedangkan aku mengetahui bahwa di muka bumi ini tidak ada seseorang yang engkau cintai melebihi diriku?"

Rosulullah saw. kemudian bersabda, "Duhai Abu Bakar, Jibril memberitahuku bahwa lelaki ini suka bersholawat kepadaku dengan sebuah sholawat yang belum pernah dibaca oleh siapapun sebelumnya." Sayyidina Abu Bakar pun lantas berkata, "Duhai Rosulullah ajarkanlah kepadaku sholawat yang ia baca agar aku dapat bersholawat kepadamu dengannya."

Rasulullah kemudian menyebutkan sholawat tersebut :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد في الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ، وَفِي الْمَلأِ الأَعْلَى إِلَى يَوْمِ الْدِّينِ.

Allahumma sholli 'ala sayyidina muhammadin wa 'ala a-li sayyidina muhammadin fil awwalina wal a-khirin, wa fil mala-il a'la ila yaumiddîn

Sahabat Abu Bakar kemudian bertanya, "Duhai Rasulullah, apakah balasan yang akan diperoleh seseorang yang membaca shalawat ini?"

Rasulullah saw. menjawab, "Duhai Abu Bakar, engkau telah menanyakan sesuatu yang aku tidak mampu menghitungnya. Seandainya lautan menjadi tinta, pepohonan menjadi pena dan para malaikat menjadi juru tulis. Maka lautan akan kering, pepohonan akan habis sedangkan para malaikat belum selesai mencatat pahala shalawat ini."

Romo Guru kami juga dawuh, Sholawat merupakan amal ibadah yang paling mudah untuk dilakukan dan pasti diterima. Selain itu, sholawat itu bisa dibaca dengan kondisi apapun, dalam kondisi suci maupun tidak, ketika serius atau cuma sekedar "rengeng-rengeng", duduk maupun tiduran.

Dibeberapa kesempatan, Romo Guru kami sering memberi hadiah kepada para santri redaksi sholawat-sholawat yang yang "asing" di telinga kami. Mungkin karena keterbatasan pengetahuan kami. Akan tetapi, sebagai santri, kita hanya sami'na wa atho'na, tanpa bertanya dalilnya mana? Shohih atau tidak? Fadilahnya apa? Dibaca berapa kali? Atau yang lain sebagainya.

Adapun diantara sholawat-sholawat yang pernah Romo Guru kami hadiahkan adalah sholawat awwalin wal akhirin tersebut. Meskipun awalnya tidak tahu sejarah dan fadilahnya, kami senantiasa mengamalkan sholawat yang Romo hadiahkan tersebut. Sebab kami yakin, apa yang diajarkan Guru kami pasti baik, dan bukan tanpa dalil. Hanya saja kadang dalil itu diberitahukan atau hanya didiamkan. Sebab suatu ketika pengetahuan itu pasti akan dibukakan oleh Alloh sehingga tahu dengan sendirinya.

Selamat mengamalkan.


Posting Komentar

0 Komentar