Pesimisme itu (terkadang) Perlu


“Barangkali kamu perlu memercikkan pikiran pesimismu diatas pikiran optimismu yang berkobar-kobar, agar setidaknya ia tidak membakar hal-hal yang seharusnya tidak terbakar.”
------------------------
Belajar dari pemilu 2019 lalu, yang menimbulkan buntut panjang yang berupa kubu-kubu yang saling berbenturan, saling ejek dan saling menjatuhkan satu sama lain.  Saya menjadi tahu, bahwa sah-sah saja untuk sibuk memersiapkan rencana-rencana yang akan dilakukan setelah tercapainya sebuah tujuan, tetapi jangan sampai lupa bahwa dalam setiap usaha, pasti akan ada potensi gagal, atau setidaknya potensi hasil yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ya, itu sangat mungkin terjadi. Maka, alangkah baiknya jika kita juga memersiapkan diri untuk meghadapi kegagalan, agar kita bisa lebih legowo, lebih tegar, dan tidak hancur olehnya.

Dari situlah, saya bisa belajar bahwa dalam beberapa kasus, menyelipkan pikiran pesimis itu perlu, untuk mengurangi beban jika menemui kegagalan. Saya tekankan hanya dalam beberapa kasus, tidak semuanya. Bayangkan saja, jika kita hanya memelihara optimisme saja, maka orientasi kita adalah keberhasilan, dan hanya sedikit, atau bahkan tidak ada pikiran mengenai kegagalan. Tentu ini sangat berbahaya, karena bisa jadi ketidak siapan dalam menghadapi kegagalan itu akan berdampak pada kondisi psikis dan juga nantinya pada tindakan-tindakan kita seterusnya.

Sudah menjadi hal yang lumrah, ketika usai pengumuman pemilu, banyak orang yang mendadak stres, depresi, ada juga yang melakukan tindakan-tindakan vandal akibat tidak siap menerima kegagalannya atau tidak terima caleg pilihannya gagal. Salah satu penyebabnya adalah ketidak siapannya menghadapi kekalahan. Dan jika ditarik lebih jauh, bisa jadi ketidak-siapan itu akan menimbulkan dendam dan benci yang berkelanjutan, ini malah lebih berbahaya lagi. Bandingkan jika bukan optimisme saja yang kita utamakan, tapi kita sellipi juga dengan pesimisme, maka akan terjadi keseimbangan. Artinya kita tetap semangat dan siap menyongsong keberhasilan, dan di sisi lain kita sangat siap menerima jika menemui kegagalan.

Tidak dalam ranah perpolitikan praktis saja, tetapi dalam urusan mengutarakan perasaan kepada seseorang pun juga perlu menyelipkan pikiran pesimis. Ini semata-mata untuk mengurangi rasa sakit ketika tertolak. You know lah, bagaimana kondisi muda-mudi yang tertolak cintanya, bahkan mungkin setiap kita pernah mengalami ketertolakan itu? hayo ngaku? Heuheuheu. Ya begitulah, sakit itu akan terasa semakin sakit jika diratapi, tetapi akan nikmat jika dinikmati, begitulah teorinya, teori saya sendiri maksudnya, heuheuheu.

Kembali kepada pesimisme, saya tekankan, kepada calon anggota legislatif dan para pendukungnya, juga kepada orang-orang yang tengah memerjuangkan perasaannya, jangan hanya bermodal optimisme, imbangilah dengan pesimisme, sehingga langkahmu nanti akan seimbang. Jikalaupun nanti terpeleset, rasa sakit itu tidak akan terlalu dan berkepanjangan, karena sudah dipersiapkan sebelumnya.



Posting Komentar

0 Komentar