Merasa Memiliki



Pada waktu ketika orang-orang memulai aktivitasnya, aku bersama teman-teman sebaya duduk-duduk di depan kelas sembari mengisap racikan rempah-rempah Nusantara -yang biasa anak-anak menyebutnya jamu bakar ketika melihat jemariku mengapitnya-, salah satu dari dua temanku membicarakan soal rezeki. Entah apa yang membuat mereka membicarakan hal itu, yang jelas aku mendengar omongan mereka seperti itu.

Salah satu temanku itu bilang, bahwa "rezeki itu apa yang ada pada dirimu dan kamu gunakan". Seketika itu pun aku teringat dawuh dari Romo Guru Miftahul Luthfy Muhammad al-Mutawwakil yang pernah di sampaikan kepada santri-santrinya, termasuk diriku. Dan aku menyampaikannya kepada kedua temanku, makna dari pesan yang telah di dawuhkan oleh Romo Guru, "bahwa orang hidup itu sejatinya di kejar rezeki dan mati, tetapi orang sekarang malah bersusah payah mengejar rezeki".

Dan aku pun juga menambahkan sebuah perumpamaan terkait dengan rezeki. Ketika seseorang dengan gigih ingin mewujudkan keinginannya dari apa yang ia punya, uang misalnya. Dengan rasa semangat mewujudkan keinginannya, ia menyalakan sepeda motor dan melaju sekencang yang ia mampu menuju ke sebuah toko. Namun takdir berkehendak lain. Pada saat di tengah perjalanannya, ban sepeda motor yang ia gunakan bocor hingga sampai membutuhkan biaya untuk membeli ban, karena bannya sobek. Keinginannya untuk membeli sesuatu pun gugur, karena uang yang ia bawa sesuai dengan harga benda yang ia inginkan. Akhirnya, ia kembali pulang dengan membawa wujud dari nasib yang ia terima, bukan yang ia inginkan.

Perumpamaan yang telah ku sampaikan kepada kedua temanku mengandung pembelajaran, khususnya pada diri saya pribadi. Bahwa di dalam kehidupan ini sejatinya hanyalah amanah. Tak pantas, jika merasa memiliki benda yang diamanahkan untuk digunakan sebagai sarananya dalam melaksanakan tugas sebagai abdu, tetapi malah menggunakannya dengan rasa yang begitu ambisius hingga menjadikannya lupa kepada sang pemberi.

Posting Komentar

0 Komentar