Filosofi Tangga



Untuk menuju ke atas, tentunya memerlukan tangga sebagai jalannya. Dan di dalam tangga terdapat anak tangga sebagai tingkatan, jika kita mendudukinya.

Menduduki anak tangga menandakan kita naik tingkatan, dan jika naik lagi akan bgtu pula hingga pada titik di mana kita sampai pada tujuan.

Begitu juga dengan kita hidup di dunia. Layaknya anak tangga yang kita duduki dan bisa bertambah sampai pada tingkatan teratas. Yaitu, tingkatan untuk bisa mengenal Allah secara dhohir dan sampai kepada Alloh secara batin.

Untuk mengenal Alloh swt., tentunya tidak bisa bagi kita melihat secara (dhohir) langsung, apalagi bertemu dengan-Nya. Namun, secara batin kita bisa menghadirkan Alloh pada setiap laku kita di muka Bumi.

Alloh swt., telah memberi kemudahan bagi kita untuk bisa mengenal-Nya. Dengan memberi cara secara menurun seperti turun dari anak tangga satu ke anak tangga satunya dengan tingkat lebih rendah.

Seperti diutus-Nya Kanjeng Nabi saw., sebagai penerima wahyu untuk umat hingga akhir zaman yang menjadi turunan anak tangga, dan turun lagi kepada para sahabat, turun lagi kepada para taabi'in, turun lagi kepada taabiut taabi'in, dan turun lagi hingga pada para ulama yang sekarang ini menjadi penerus ajaran Nabi saw.

Tetapi, berbeda bagi kita sebagai umat akhir zaman. Yang perlu menaiki anak tangga yang sudah Alloh tunjukkan untuk bisa mengenal-Nya.

Dengan berniat kuat mendekatkan diri kepada Alloh swt., yang diwujudkan berkumpul dengan para ulama yang sanad keilmuannya hingga sampai ke Kanjeng Nabi saw., dan berteman dengan orang-orang sholeh.

Maka, bersyukurlah jika kalian berteman dengan orang yang berilmu, dan manfaatkan waktu kalian jika bersamanya dengan mengambil ilmu-ilmu yang telah mereka lakukan.


Posting Komentar

0 Komentar