Di Antara Hal-hal yang Digagas Rosululloh (2)




Mengusung Kebebasan
Kebebasan adalah hak mutlak yang dimiliki manusia. Sinisme sebagian umat islam pada orang yang berbeda pendapat hingga memunculkan konflik adalah hal yang sama sekali tidak pantas terjadi. Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dilegalkan dalam Islam pernah mencatatkan sejarah brilian. Munculnya para ahli dalam fiqh yang dalam perjalanannya memunculkan berbagai ijtihad berbeda. Namun klaim kebenaran tidak ditonjolkan hingga semua pihak bebas untuk merasakan atmosfir pengetahuan yang dominan.

Meski seperti yang banyak dipahami, ada sejarah kelam yang melibatkan para ilmuwan dengan pemerintahan yang berhadap-hadapan karena perbedaan pandangan. Padahal di kalangan antar ilmuwan, perbedaan merupakan sesuatu yang niscaya dan tidak mungkin bisa dihindari. Tergambar secara gamblang dalam banyaknya perbedaan pandangan para tokoh besr islam macam Imam Syafi’i dengan sang guru (Imam Malik), juga Imam Hambali dengan sang guru (Imam Syafi’i). Kiranya itu cukup menggambarkan sikap legowo dan bisa menerima realitas perbedaan dan memberikan kebebesan seluas-luasnya atas dasar ilmu pengetahuan.

Kebebasan berpikir itu pula yang pada akhirnya melahirkan banyak ilmuan muslim terkemuka. Bukan hanya berbeda pendapat, bahkan islam pun tidak mengotak manusia dengan harus memeluk agama islam. Kebebasan berkeyakinan dipegang erat oleh umat islam dengan dasar surat al-Baqoroh ayat 256, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam)” serta surat al-Kahfi ayat 29, “Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir”.

Kemandegan yang terjadi pada pengetahuan adalah ketika kebebesan berpikir dan berpendapat diberangus untuk menjaga eksistensi pengetahuan yang telah ada. Dalam hal ini, Gus Mus pernah berutur, bahwa “Silakan berpikir paling gila sekalipun, tapi jangan pernah berhenti belajar”. Pada posisi inilah, Islam akan mengorbitkan para pemikir yang terlatih. Tidak taklid buta pada ijtihad yang telah ada. Yang menjadi kunci adalah, jangan berhenti belajar. Belajar yang terus dilakukan akan memuarakan pada kedewasaan berpikir dan kearifan dalam merenung. Maka tidak sedikit orang yang di masa muda begitu getol menyuarakan pendapat yang berbeda, namun pada akhirnya akan kembali pada jalur lazimya pengetahuan yang telah ada. Kuncinya adalah tidak berhenti belajar. Dengan cara berpikir yang jauh lebih matang.

Keluarga Sebagai Pilar
Keluarga adalah sendi penting terciptanya sebuah peradaban berkualitas. Dalam teori revolusi, keluarga adalah skup terkecil dari revolusi budaya. Perbaikan dalam keluarga sebagai akar budaya turut memprakarsai revolusi budaya pada skup yang lebih besar. Maka dalam islam, pernikahan benar-benar dijaga dan ditata sedemikian rupa demi terciptanya sebuah bangunan keluarga yang berkualitas.

Sejak dari awal, Rosululloh saw. sudah mewanti-wanti, agar dasar utama yang dijadikan pedoman ketika menikah adalah agamanya, “Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaan nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita yang baik agamanya niscaya kamu akan selamat”.

Sebab pernikahan tidak hanya bertemunya laki-laki dan perempuan dalam perjanjian yang kuat (mitsaqon golidho), namun juga soal regenerasi. Dan baiknya generasi masa depan ditentutan oleh kualitas dalam diri perempuan. Yang dalam istilah Abuya Mifathul Luthfi Muhammad, “Laki-laki bagaikan tebu. Dan perempuan adalah pabrik gula. Kualitas pabrik gula yang bagus akan menyiptakan gula yang bagus pula”. Dan dalam qiyasan yang lain, “Perempuan bagaikan cetakan. Sedang laki-laki bagaikan tanah liat. Kulitas alat cetak menentukan hasil dari cetakan yang dibuat”.

Pendidikan terhadap keluarga, anak khususnya, sebagai generasi yang melanjutkan perjuangan dalam meneguhkan agama Alloh menjadi aset masa depan yang penting. Karaktersitik anak dan orang tua yang cenderung sama –setidaknya jauh lebih sama dibandingkan dengan karakteristik dengan orang lain- akan mudah memberikan pendidikan. Maka dalam islam, al-usroh itu madrosatul ula, keluarga adalah pendidikan pertama. Dan ini penting untuk menguatkan sendi keluarga dan menyatukan misi.

Dan akhlak baik tersebut sesungguhnya tidak ada berkutat pada keluarga sendiri (suami-istri-anak), namun juga pada lingkup yang lebih luas (keluarga jauh). Seringkali keluarga jauh dilupakan sebab intensitas bertemu yang minim. Dan dalam islam, hubungan tersebut tidak diperkenankan putus, Rosululloh saw. bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi”.

Masyarakat
Satu realitas yang tidak bisa dibantah bahwa islam telah menunjukkan kemajuan dalam hubungan interaksi sosial. Kekuatan individu yang disatukan dalam wadah besar bernama masyarakat. Rosululloh saw. bersabda, Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan”.

Rasa bersaudara antar umat islam dalam wadah masyarakat setidaknya telah disiapkan oleh Rosululloh saw. untuk mengarungi kehidupan dengan persatuan. Seperti halnya akhlak dalam makna luas, hilangnya rasa bersaudara adalah keprihatinan yang menyesakkan. Bukan hanya bagi umat islam saja, namun nurani manusia pun akan dengan otomatis merasakan fenomena tersebut sebagai keprihatinan. Atwater secara terang-terangan menunjukkan keprihatinan akan hilangnya rasa bersaudara, “Rasa sakitku telah membantuku untuk mengetahui bahwa ada yang telah hilang dalam masyarakat. Hal itu kurasakan dalam diriku juga. Rasa itu adalag kurangnya rasa cinta dan kasih sayang, sedikitnya rasa persaudaraan”.

Tak ayal, ketika Rosululloh saw. hijrah ke Madinah. Salah satu hal yang dijadikan sebagai agenda utama adalah memersaudarakan kaum Muhajjirin dan Anshor. Ini momentum sakral untuk membangun sebuah masyarakat yang berbeda kultur, untuk saling menguatkan, saling menanggung (takaful). Tanpa rasa bersaudara, barangkali membangun masyarakat dengan konsep  baru akan sukar diwujudkan.

Rosululloh saw. telah mengajarkan untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan dan ikut prihatin dan bertanggungjawab terhadap individu masyarakat yang hidup bersamanya, berupa berbagai macam sedekah kepada setiap jiwa. Diriwayatkan oleh Abu Dzar, Rosululloh saw. bersabda, “Setiap jiwa dalam tiap hari saat matahari terbit terdapat sedekah atas dirinya”.

Aku bertanya, “Ya Rosululloh, darimana kita akan bersedekah sedang kita tidak mempunyai harta?” Rosululloh menjawab, “Pintu-pintu sedekah itu di antaranya; menunjukkan jalan untuk orang yang buta, membantu orang yang bisu dan tuli hingga dia paham, menunjukkan tempat orang yang tidak mengetahui tempat yang mana kamu mengetahui tempatnya, mengalirkan air dengan seluruh curahan kepada mulut-mulut orang yang membutuhkan air, membantu mengangkat beban dengan lenganmu, dengan segala kemampuan meski terbatas. Semua itu termasuk pintu-pintu sedekah darimu untuk dirimu”

Nilai-nilai ini menunjukkan tanda unggulnya peradaban yang didahului oleh islam atas semua aturan dan undang-undang yang ada setelah itu. Memberi petunjuk kepada orang buta, mendengarkan dan membantu orang yang bisu dan tuli.

Ketika asas bersaudara telah terbangun, untuk mengondisikan sebuah masyarakat yang sadar akan keadilan dalam interaksi akan semakin mudah dibentuk. Dalam keadilan, tidak ada tendensi cinta atau benci. Tidak ada yang berbeda antara yang rendah yang tinggi. Bahkan pandangan terhadap muslim dan non-muslim pun tidak boleh diikut sertakan dalam menegakkan keadilan. Segalanya harus diretas menjadi sama rata, netral.

Ini yang disabdakan oleh Rosululloh saw. dengan tegas, “Sesungguhnya yang membuat binasa kaum sebelum kalian adalah jika di antara mereka yang mencuri berasal dari kalangan bangsawan, mereka membiarkan saja. Jika yang mencuri itu dari kalangan orang-orang lemah, mereka menerapkan hukuman. Demi Alloh, andai Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya”.

Keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu tersebut didasari rasa welas asih (kasih sayang) yang dikedepankan dalam kondisi bagaimanapun. Dan umat islam terhadap umat islam yang lain harus senantiasa mengondisikan welas-asih. Bagaimana tidak, ajaran Islam telah dengan gamblang mengajarkan pentingnya welas asih dalam kehidupan sehari-hari. “Berbelas kasihlah kepada semua orang yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan dikasihi oleh semua penghuni langit”.

Bukan hanya manusia, islam juga mengajarkan kasih sayang diberikan kepada makhluk lain. Rosululloh saw. menceritakan kepada sahabatnya bahwa surga pintu-pintunya kepada seorang pezina yang tergerak hatinya oleh seekor anjing. Sebagaimana dalam sabdanya, “Ketika seekor anjing itu mengitari sebuah sumur dan rasa dahaga hampir membunuhnya, ada seorang pezina dari Bani Israil melihatnya lalu melepaskan sepatunya, lalu memberikan minum. Wanitu itu diampuni dosanya lantaran perbuatan tersebut.

Menerapkan Kedamaian
Barangkali seringkali menjadi tanda tanya, jika islam adalah agama yang damai, bagaimana mungkin mereka berpegang? Ini perlu diluruskan bahwa Rosulullah saw. senantiasa menginginkan jalan damai dalam menyebarkan agama islam. Rosululloh saw. mengajarkan, “Jangan kamu berangan-angan untuk bertemu musuh. Berdoalah kepada Alloh agar diberi keselamatan”.

Rosululloh saw. menghindari peperangan dan pertumpahan darah. Perang hanya akan dilakukan jika ada yang mulai memerangi terlebih dahulu. Maka salah besar jika perang dilecut oleh umat muslim. Bahkan Rosululloh saw. seringkali menggunakan diplomasi untuk menjaga stabilitas. Seperti diplomasi yang melahirkan perjanjian dengan penduduk yahudi Madinah. Potensi perang bukan tidak ada. Maka Rosululloh saw. memilih jalan diplomasi sebagai alternatif menghindari peperangan.

Dan jika pada akhirnya tidak ada pilihan lain selain berperang, islam tetap membatasi dan menggunakan adab dalam berperang.
·         Tidak membunuh para wanita, orang tua, dan anak-anak.
·         Larang membunuh ahli Ibadah.
·         Larangan untuk berlaku curang.
·         Tidak membuat kerusakan di bumi (tidak meluluh lantakkan).
·         Memberi infaq kepada para tawanan.
·         Larangan mengerat (mutilasi) mayat.
Bahkan dalam kondisi peperengan pun, masih ada etika da kemanusiaan yang digunakan. Hal-hal mulia itulah yang digagas oleh orang yang juga paling mulia. Alangkah indahnya apabila apa yang digagas oleh Rosululloh saw. Dipraktikkan oleh umatnya.

Posting Komentar

0 Komentar