Di Antara Hal-hal yang Digagas Rosululloh (1)


Salah satu hal terpenting dan terepic dalam takdir yang ditetapkan oleh Alloh adalah ketika Alloh mengutus Muhammad bin Abdulloh menjadi rosul. Alloh sematkan banyak hal luhur di dalam diri beliau. Keluhuran yang menjadikan beliau layak dijadikan sebagai teladan dan panutan dalam banyak hal.

Banyak sekali sikap beliau yang memberikan kesan istimewa. Baik dalam hal teologis maupun dalam hal humanis (bahkan juga ekologis). Terkhusus dalam hal humanis, tidak sedikit orang di luar pemeluk agama islam yang memberikan apresiasi dan mengaku kagum dengan apa yang Rosululloh lakukan. Pun juga dengan apa yang beliau utarakan kepada para sahabat mengenai "cara hidup" umat islam yang semestinya. Sabda beliau (yang kemudian disebut sebagai hadis) menjadi pegangan dan ruler bagi umat islam dalam menjalani hidup. Adapun isinya adalah kebaikan-kebaikan yang layak untuk didukung dan diamalkan. Ini yang kemudian menjadi perilaku baik -semestinya- tersemai dalam diri umat islam.

Adapun beberapa hal itu akan penulis paparkan dalam tulisan ini. Hal-hal baik yang berkaitan dengan interaksi. Tentu tidak mencakup secara keseluruhan. Ini hanya sebagian kecil dari fakta luhurnya Nabi Muhammad saw.

Akhlaqul Karimah
Kesadaran fundamental akan pentingnya akhlak bukan hanya topik pengetahuan. Tanpa perintah dan anjuran pun nurani manusia telah menyiptakan rasanya sendiri untuk menyadari bahwa akhlak adalah integritas tak terbantahkan yang mesti dijaga. Peradaban yang dalam Islam diteguhkan dengan pedoman yang sakral al-Qur’an & al-Hadis untuk menggenggam akhlak sebagai dasar perilaku, yang dalam hal ini, juga bisa menjadi “amunisi” untuk meraih kemajuan peradaban. Dalam bab pertama buku ini dijelaskan dengan cukup detail bahwa peradaban sebelum islam maju dalam berbagai bidang, namun seringkali kehilangan kendali sebab mengesampingkan sisi akhlak.

Orang-orang seperti Jodie (penulis asal inggris) serta Alexis Carrel dengan basic pengetahuan pada umumnya seorang orientalis, tentu agak janggal untuk mengemukakan bahwa akhlak adalah bagain fundamental dalam sebuah peradaban. Pasti ada hal yang mendasari kemunculan pendapat tersebut. Setidaknya ada dua hal yang (menurut saya) menjadi dasar mereka (dan orientalis yang lain) mengemukakan kekuatan akhlak dalam sebuah peradaban. Dan ada potensi-potensi lain yang mendasari di luar kemampuan analisis saya.

Pertama, Nurani. Seperti sudah saya kemukakan di awal bahwa nurani manusia secara mandiri menyiptakan kesadaran pentingnya akhlak dalam sebuah peradaban. Dari nurani mereka yang tidak nyaman dengan realitas yang mereka lihat pada beberapa peradaban yang hidup tanpa akhlak. Maka mereka memunculkan pendapat yang demikian.
Kedua, kesadaran kitab suci sebagai pegangan ilmiah. Ini yang barangkali jarang disadari oleh banyak orang, termasuk umat islam di era ini. Saya menerka-nerka bahwa kitab sucilah yang mendasari kemunculan pendapat mereka. Bagaimana tidak, akhlak adalah ajaran teologis yang dibahas dalam kitab suci –al-Qur’an khususnya, yang dalam hal ini ditopang oleh penjelasan hadis- sebagai pedoman primer. Jika kesadaran kitab suci tidak diposisikan sebagai pegangan ilmiah dengan isi yang konkrit, akhlak yang –dalam islam- menjadi dasar kehidupan, tentu mereka tidak akan setuju dan tidak akan mereka teruskan dengan mengeluarkan pendapat bahwa akhlak adalah dasar peradaban. Artinya, mereka memilih mengesampingkan fanatisme agama dengan menerima al-Qur’an sebagai sebuah kitab ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Sekali lagi, berbagai peradaban seringkali mengesampingkan akhlak. Akan tetapi dalam Islam, akhlak dijadikan sebagai laku primer yang mesti digenggam dengan kuat. Bahkan secara jelas telah diterangkan dalam hadis, “Sesungguhnya aku (Rosululloh) diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Maka tak heran, Peradaban islam mengalami kemajuan yang tidak diperoleh oleh peradaban yang lain sebab akhlak dijadikan sebagai pegangan primer.

Mengalokasikan Hak
Pada posisi ini, akan terlihat dengan gamblang bahwa peradaban islam mengusung sistem yang unggul dari peradaban-peradaban sebelumnya. Ketika hak-hak sebagian orang yang pada peradaban lain dikerdilkan, hal tersebut tidak berlaku pada islam. Seluruh aspek kehidupan mendapat hak sesuai dengan kadar yang harus didapat. Bukan hanya terhadap manusia, bahkan terhadap hewan dan lingkungan pun islam tidak ketinggalan untuk memberikan hak.

Kasih sayang (welas-asih) dalam hal ini menjadi bagian penting yang tidak bisa ditanggalkan. Hak-hak manusia dalam berbagai aspek secara umum mendapat perhatian yang serius dalam islam. Rosululloh saw. sebagai uswatun hasanah banyak memberikan teladan dalam hal ini. Bukan hanya kepada umat islam saja, namun juga kepada non-islam. Hak kehidupan, kenyamanan, kesejahteraan diberikan tanpa pandang bulu. Bahkan kepada kaum minoritas pun Rosululloh saw. senantiasa memberikan rasa aman. Secara logika, bisa saja kaum minoritas diberangus dan dihabiskan. Namun hal tersebut tidak dilakukan. Bahkan Rosululloh saw. cenderung memberikan rasa aman kepada mereka.

Hal tersebut juga terjadi pada perempuan. Laki-laki dengan kekuatan fisik tentu bisa saja berbuat semena-mena kepada perempuan. Tapi islam tidak mengajarkan demikian. Perempuan mendapat perlindungan sedemikian rupa yang tidak pernah diberikan oleh peradaban-peradaban sebelum islam. Islam menetapkan bahwa perempuan sama dengan laki-laki dalam masalah kemampuan dan kedudukannya. Di waktu yang hampir bersamaan (586 M), orang-orang prancis mengadakan muktamar membahas kedudukan perempuan. Apakah perempuan itu manusia atau bukan? Dan akhirnya diputuskan bahwa perempuan adalah manusia yang diciptakan “hanya” untuk membantu laki-laki.

Bukan hanya itu saja, namun hak terhadap pekerja pun dalam islam diatur sedemikian rupa Padahal dalam berbagai peradaban sebelumnya, pembantu menjadi sosok bulan-bulanan yang senantiasa berada pada posisi terendah dalam kasta peradaban.

Sesungguhnya hampir seluruh yang mendapat hak adalah obyek yang sesungguhnya berada dalam kuasa manusia. Hak perempuan, hak pekerja, hak orang sakit, hak anak yatim, fakir miskin, serta janda, hak kaum minoritas, hak binatang, hak lingkungan. Semua berada dalam kendali jika mau. Akan tetapi kasih sayang senantiasa dikedepankan. Hadis Rosululloh saw. dan berbagai siroh nabawiyah menceritakan cukup detail bahwa Rosululloh telah meneladankan untuk memberikan hak kepada mereka yang seharusnya mendapatkan dengan kadar yang sudah ditetapkan.

Bersambung 

Posting Komentar

0 Komentar