Capacity


Kita mungkin bisa sepakat, bahwa ilmu itu sangat penting. Dalam islam pun kita juga diajari, betapa pentingnya ilmu, betapa mulianya ahli ilmu. Saya dulu sejak masih ngaji di langgar hingga sekarang  ngaji di Ribath diajari untuk tetap menuntut ilmu ke mana pun, bahkan dengan jarak yang jauh sekalipun. Saya dan mungkin juga kita sering didawuhi guru ngaji dulu, bahwa orang yang menuntut ilmu itu sejatinya dalam kondisi mulia, apalagi orang yang sudah dalam kategori ulama, lebih mulia lagi di sisi Alloh maupun di mata masyarakat.

Karena itulah bagi orang-orang awam seperti saya, peran ulama sangat penting sebagai penyambung ilmu, sebagai pentransmisi ilmu. Tanpa ulama, kita hampir tidak mungkin bisa memahami hikmah-hikmah dari tiap-tiap Kalamulloh juga hadis-hadis Nabi saw.

Memahami al-Quran dan Hadis tanpa bimbingan ulama dan hanya menggunakan otak-atik nalar yang sempit dan kering ilmu ini, adalah salah satu tindakan yang bisa jadi fatal, apalagi jika pemahaman itu kita sebarkan pada orang-orang. Karena tanpa sadar, kesalahan dalam memahami Kalamulloh dan hadis Nabi saw. akan berdaya rusak tinggi  dan sangat luas dampaknya dalam kehidupan manusia, bahkan bisa mengorbankan banyak nyawa. Hanya karena kecerobohan dalam memahami Kalamulloh dan hadis Nabi saw. 

Karena itu, mari kita belajar Kalamulloh dan hadis Nabi saw. kepada guru yang sudah diakui kealimannya. Agar kita memeroleh ilmu yang luas, luwes, dan mendalam, begitu dawuh Guru kami. Jangan sampai kita menelan mentah-mentah Kalamulloh dan hadis Nabi, karena bisa jadi “pencernaan” kita belum memadai untuk mengolahnya, sehingga outputnya, bukan tambah sehat,. Tapi sebaliknya, jadi sakit. Begitulah.

Lebih jauh lagi, bukan hanya kalamulloh dan hadis Nabi saja yang tidak boleh ditelan mentah-mentah, tetapi dawuh dan tingka laku ulama’ pun juga tidak bisa ditelan mentah-mentah.

Saya ambil contoh Guru kami, bahwa beliau pernah dawuh untuk membiasakan hidup mengalir tanpa rencana, agar bisa benar-benar mili sebagaimana arus yang ditakdirkan Alloh. Ya, dawuh Romo Guru ini sangat baik, tetapi harus diolah terlebih dahulu, tidak bisa diuntal mentah-mentah.

Karena untuk hidup tanpa rencana, ada syarat yang harus dipenuhi. Dintara syaratnya adalah memliki pengendalian diri. Bayangkan saja, jika kita memulai hidup tanpa rencana, tapi tidak punya pengendalian diri yang kuat, yang ada kita hanya akan mengikuti nafsu kita, bertingkah sesuka hati kita, tentu ini tidak baik. 

Maka, sebelum memraktikkan hidup tanpa rencana dan mengalir apa adanya, kita harus belajar mengendalikan diri terlebih dahulu. Atau setidaknya, kemenangan kita melawan nafsu leih banyak ketimbang kekalahan kita terhadap hawa nafsu. Baru kita bisa memraktikkanya.

Begitulah seharusnya, kita harus mengukur kapasitas diri kita terlebih dahulu, dawuh mana yang bisa dan suitable dengan diri kita sekarang, jika dirasa belum mampu, dan tidak cocok, boleh lah dikesampingkan, dan mengambil yang cocok terlebih dulu, toh dawuh Guru kita sangat banyak, sehingga kita bisa memilih, mana yang akan kita lakukan dahulu.   

                                    


Posting Komentar

0 Komentar