Awas Corona!



Masa Waspada (MAWAS) telah diberlakukan di Pondok Pesantren Tambak bening.
Tidak abai dan tidak panik utk menghadapi pandemi covid-19 : WASPADA.
Bila kita menantang, kita terkesan takabur.

Bila kita mengundang, kita terkesan tunduk. Tapi bila covid 19 itu memaksa datang di luar kuasa kita, kita harus melakukan perlawanan dan berjuang bersama mengalahkannya.

Di setiap kajian ponpes Tambak bening  berada dalam Masa Waspada (lockdown), kami menyelenggarakan solat jum’at ditambah qunut nazilah, yg termohon baik utk para warga tambak bening, masyarakat surabaya, para santri maupun seluruh bangsa Indonesia.

Pada kesempatan  itu kami memberi semacam air yang sudah disterilkan oleh pondok yang intinya untuk tetap meyakini bahwa doa dan ikhtiyar itu wajib dilakukan sebelum kita tawakkal (berserah diri) pada Alloh.

Termasuk dlm menghadapi ujian kemanusiaan berupa covid-19 ini.
Maka dari itu, disamping kami membelajar-rumahkan penduduk sekitar (santri kalong), kami juga tekankan pola hidup sehat dan bersih pada para santri mukim disini.
Jika ada yg bertanya, mengapa mengadakan kerumunan dan tidak menerapkan social distancing (jaga jarak) antar mereka..?

Kami ini bagaikan keluarga besar dalam rumah yg besar pula.
Para santri itu tidur, makan, sekolah, mengaji, belajar dan solat bersama.
Persis sebuah keluarga dalam satu rumah.

Maka kami pun memperlakukan mereka layaknya anak2 kami yg belajar di rumah.
Dan setahu saya, social distancing itu tidak diterapkan utk orang serumah, tapi untuk yg beda domisili.

Namun jika pengetahuan saya ini keliru, mohon doanya saja, semoga upaya kami untuk menjaga amanat dgn sepenuh jiwa dan hati ini membuahkan keselamatan dan keberkahan dlm ridha Alloh swt... Aamiin yaa robbal alamin.
Bismillah.. Alloh bersama kita..

Mohon dengan sangat kepada para penceramah...
Mohon sudahi narasi² ceramah/tausyiyah yg sekedar mengesankan bahwa Anda orang yg sdh tahu bila covid 19 ini telah "diramalkan" kanjeng Nabi atau bahkan sdh tersurat di kitab suci.

Derajat kadar kemanusiaan kita bisa dilihat dari seberapa tinggi rasa empati kita pada sesama manusia.
Akhir² ini saya perhatikan, betapa banyak orang mulai kehilangan rasa kemanusiaannya dalam menyikapi ujian Alloh berupa tersebarnya virus corona ( covid-19) yg membahayakan jiwa itu. Mereka tidak mencoba berempati dengan berusaha "menghibur" apalagi membantu sesamanya yg sedang terpapar virus itu, tapi justru mereka menjadikannya sebagai sebuah "hiburan" bagi dia dan kelompoknya dengan bawa² nama Tuhan, hanya sekedar untuk memperhalus ucapan: "Rasain luu..."

Saya tidak tahu, kepada siapa mereka ber-nabi. Setahu saya, para Nabi yang saya dengar, selalu mengajarkan rasa kasih sayang pada sesama makhluk Alloh. Sehingga sepatutnyalah perikehidupan mereka dalam bermasyarakat, meneladani perilaku Nabi yang mereka anut. Kalaulah mereka begitu sulit atau terlalu jauh untuk menyontoh akhlak kanjeng Nabi. Apalagi mengatakan bahwa virus itu produk iluminati, Freemason dan semacamnya. Itu justru menunjukkan bila Anda kurang yakin bahwa tidak ada suatu kejadian pun di muka bumi ini tanpa seizin Alloh.

Yang kami dan ummat butuhkan sekarang, bagaimana sikap dan langkah nyata kita menghadapi dan mengatasi virus corona ini agar kami tetap selamat dan sehat, sehingga tetap dapat menjalankan perintah Alloh untuk menjadi khalifahNYA di muka bumi ini.
Misalnya, bagaimana dgn kebiasaan salaman kita? Bagaimana dgn silaturrahim kita bila bepergian, haruskah kita jaga jarak dgn yg di sebelah, sehingga berlaku istilah hati boleh dekat tapi raga harus berjarak..

Nasihat² praktis dan solutif itulah yg kami butuhkan sekarang.. selain doa, tentunya yha begitu itu.

Posting Komentar

0 Komentar