Adil Rasa Angan


Sudah menjadi jargon di Indonesia:
“Bukan apa yang diberi, tapi siapa yang memberi.”

“Tidak akan dianggap, meski baik. Jika yang memberi bukan siapa-siapa. Namun meski hal biasa, jika dari penguasa, orang kaya, atau orang berderajat lebih darinya. Akan menjadi berbeda. Luarbiasa dianggapnya.”

“Tidak ada apresiasi terhadap kerja kerasmu, ketika posisimu di bawah. Jangan berharap banyak ketika kakimu masih menginjak di tanah.”

“Jadi sia-sia! Da’i banyak ngoceh ‘undlur ma qola wala tandlur man qola’ NGANGGOR!

“Jadi kayalah dulu; Jadi penguasa dulu; Jadi orang dengan pangkat dan derajat tinggi dulu, baru di dengar”

Alternatif lain "Kuasai Media, tulisanmu lebih tajam dari pisau, lebih berbahaya dari racun, lebih berharga dari uang."

Coba amati beberapa keluarga dan kehidupan sosial masyarakat di Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan berideologikan pancasila yang konon salah satu nyawanya adalah ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’. OMONG KOSONG!. Yang terjadi adalah sistem kasta dan pengulangan masa Jahiliyah pra Islam yang tidak ada keadilan di dalamnya. Yang Kaya yang berkuasa. Penguasa menjadi yang terkuat dan tak terkalahkan. Pangkat dan derajat yang tinggi adalah yang disegani. Istri adalah pemuas, pembantu, dan pelampiasan suami. Yang miskin terpinggirkan. Rakyat biasa tak terhiraukan. Welcome to the jungle “yang kuat adalah pemenang” .

SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun. 12 tahun sekolah diajari mata pelajaran pancasila/kewarganegaraan. Tapi tidak paham nilai dan praktik pancasila mulai dari sila 1 sampai 5 tentang keadilan. Percuma, GAGAL PAHAM. Musproh sekolah. Termasuk Mata Pelajaran Akidah atau Keagamaan. Dihapus sajalah itu. Atau yang di Pesantren dan Boarding School. Apa gunanya?.

Benar kata Nabi, di jaman akhir lebih baik hidup sendiri mencil. tidak ada faedahnya berkumpul dengan orang banyak. ATAU kalu memang siap, hidup dengan manusia-manusia liar di hutan belantara.

“Hidup sekarang ini, seperti TANI. Ketika sudah menanam bibit. Harus siap merawat dengan mengotori tangan karena pupuk, menyemprot pestisida yang beracun, dan membunuh hama-hama yang mengganggu.”

Kamis, 19 Maret 2020. // @ENHA Na Asni

Posting Komentar

0 Komentar