To Hold Back Each Other's True Fate is not of Our Nature, Let's be Mature.



Ketika ngAji tafsir surat al-Kafirun, guru kami mengajak agar kitatidak  menghawatirkan akidah seseorang. Artinya, kita tidak perlu khawatir keimanan seseorang akan goyah hanya karena hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan. Karena salah satu hikmah yang bisa kita petik dari surat al-Kafirun adalah bahwa jika kita memang seorang muslim, kita sudah pasti tidak akan (skali-kali) menyembah tuhan mereka. “walaa ana abidun ma abad tum”

Kita sebagai bangsa Indonesia, yang mengaku bhinneka tunggal ika, seharusnya sudah tidak lagi memermasalahkan hidup berdampingan dengan orang yang berbeda keyakinan. Jika kita masih memermasalahkan hal itu, itu sama saja kita mencoreng muka kita sendiri. Menelanjangi diri kita sendiri. Memermalukan diri kita sendiri.secara tidak langsung kita telah kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia yang bhinneka tunggal ika.

Tentu saya merasa nyesek, ketika melihat atau mendengan kabar bahwa saudara sesama muslim saya didlolimi golongan lain, tetapi saya lebih nyesek lagi sekaligus malu ketika melihat saudara musim saya yang mendlolimi golongan lain.

Beberapa waktu lalu, sempat trending berita mengenai gerakan penolakan renovasi gereja di Karimun oleh oknum ormas yang menagatas namakan ormas Islam. Tentu berita semacam ini bukan pertama ini saja terjadi. Hal ini secara tidak langsung memberitahu khalayak, betapa rapuh dan lemahnya keyakinan mereka, sehingga khawatir dan alergi melihat agama lain melangsungkan ibadah mereka.

Bukan hanya itu, kita seringkali menemui banyak orang yang latah musiman tiap peringatan Tahun Baru atau Hari Valentine. Mereka beramai-ramai mengaggap peringatan tersebut berpotensi merusak akidah, bahkan menggolongkan sesamanya yang ikut merayakan (baik yang sengaja atau tidak, dan yang suka rela atau karena tuntutan provesi) sebagai golongan kafir, karena dianggap tasabbuh. Ya, Semudah itu mengatakan seseorang menjadi kafir.

Kita seharusnya kembali kepada hikmah surat al- Kafirun, bahwa yang Islam tidak akan kafir, dan yang kafir tidak akan Islam, karena keyakinan tidak akan mudah berubah begitu saja. Apalagi hanya karena rumahnya dekat dengan gereja, atau hanya karena mengikuti sebuah trend yang sudah mengglobal.
Dari pada kita menentang renovasi gereja, lebih baik kita renovasi akidah kita masing-masing, kita koreksi, mana yang harus dibenahi, saya pun menulis ini dengan tujuan merenovasi hati saya sendiri. Mari kesampingkan ego, dan menata hidup lebih baik lagi.


Posting Komentar

0 Komentar