Senapan dan Si Longor

Ini kisah tentang pengalaman saya ditembak. Dengan senapan angin kreasi sendiri karya santri, pelurunya hanya dari bahan malam dipilin bundar bergaya gotri. Walau terbuat dari bahan yang 'empuk', tapi sakitnya kok lumayan ampuh. Ada lingkaran kecil di kulit, seperti cincin berwarna merah dan kebiruan. Sedikit lebam. Rasanya panas mak clekit!

Setidaknya ada hikmah di balik permainan menjurus ekstrim ini. (Sedikit bumbu supaya terlihat keren dan gagah).

Bahan yang lunak seperti malam pun mendadak "menjadi" keras ketika ia ditembakkan dengan kuat dan fokus pada arah tujuannya. Beruntung angin yang dipompa terbilang masih belum seberapa, tapi jika lebih bisa saja merobek kulit lebih dalam. Wong kardus minuman saja berlubang terkenanya.

Senapan sudah di tangan, angin sudah dipompa, peluru siap ditembakkan, sasaran sudah dibidik, calon korban cuma bisa diam menunggu ditembak sang tersangka.

Saya sering menyangka urutan itu menjadi hukum pasti, bahwa saya pasti akan tertembak. Karena runtutannya sudah begitu jelas. Secara hitung-hitungan, 100% pasti ketembak. Dan hasilnya, seperti cerita saya panjang lebar di atas.

Giliran saya untuk menembak, misi membalas pun mulai menyeringai. Sekarang kamu yang kena, batin saya.

Saya pun mulai melakukan persiapan dan langkah-langkah yang seperti diajarkan. Tak lama, tembak! Alih-alih menghantam sasaran, peluru itu hanya menggelinding keluar dari ujung senapan. Mak cepluk, jatuh ke tanah.

Lho?? Ternyata hukum kepastian saya urung terjadi.

Di keseharian, saya sering meyakini hukum "pasti" semacam itu. Ambil contoh tentang makan. Jika makanan sudah siap di meja, dan memang saya lagi di rumah, maka "pasti" makanan itu bisa saya makan. Tapi apa selalu begitu? Entah, mungkin anda punya jawabannya sendiri.

Atau hal yang paling "mudah" dilakukan, yaitu membalik telapak tangan. Pasti bisa saya lakukan sendiri atas kehendak dan kemampuan sendiri?

Terhadap hal-hal kecil, hal yang tampak remeh, hal yang sepertinya mutlak menjadi kekuasaan saya sendiri, selalu dengan mudah menggelincirkan persepsi, setidaknya saya.

Lalu setelah saya gagal dengan senapan itu, sang tersangka penembak jitu itu mengatakan, "iku mau aku ape ngandani kowe, nek takdire kowe ketembak yo mesti kenek. Nek takdire ora, yo gak kenek"

Ah, longor...


Posting Komentar

0 Komentar