Rukuh Teruntuk Emak

Nay, kau jangan perna lelah mengetuk pintu kekasimu

merengekla kepada kekasimu bila perlu

kekasih akan tersenyum

karena kau tak salah melabuhkan keingginanmu kepada kekasih


aroma, suasana bulan suci romadhon mulai terasa, bulan yang dinanti-nantikan oleh umat muslim begitu pula sawor yang inggin segera berpuasa, teraweh lan dilanjut semaan qur’an, tapi sawor sering merasa malu ketika waktu bagian dia untuk membaca qur’an mendadak gemetar karena tidak terbiasa membaca qur’an disemak orang banyak, maklum sawor santri baru yang belum bisa membaca al-quran.

setiap menyambut bulan suci romadhon mas dan mbak sawor memberi sesuatu kepada emaknya, sawor meriang inggin juga rasanya memberi sesuatu kepada emaknya, meski emaknya memaklumi karena sawor masi nagawulo dan mondok jadi tidak berharap pemberian dari sawor tapi sawor sering dinasihati oleh yai nya, “ lek boto opo-opo nyuwono nag gusti alloh” meriang sawor sedikit meredah karena seringnya nasihat dari yai nya itu.


setiap selesai sholat fardu sang imam membaca doa seiring sawor mengamini doa sang imam dalam hati sawor mengutarakan keingginanya, “duh gusti kulo nyuwon ruko enggal damel emak kulo agar dipakai untuk sholat terawih”.

Dihari kedua sawor pun mengulangi keingginanya yang diutarakan sambil mengamini doa sang imam, dihari ketiga setelah solat sang imam berdoa seiring mengamini doa sang imam sawor dalam hati, “ duh gusti kok dereng ndugi rukonya, mantun niki romadon gusti”

pagi hari setelah mengaji bersama yai, wor, kata cak feri nanti setelah sarapan kau ikut aku mbenerin pompa kolam ikan koi yang disebelah kamar kanjeng guru, iya cak jawab sawor. 


sawor senag kalu diajak cak feri pasti ada pengetahuan baru yang belum perna dia ketahui, sawor sebagai kulinya kuli cak feri hanya melihat apa yang dikerjakan cak feri sambil menunggu perinta dari cak feri.


sawor duduk disebelah kolam bersama cak feri dan kanjeng guru, kanjeng guru menyodorkan gagang obeng amerika yang didalam gagang itu kemasukan mata obeng fortebel sambil dawuh ‘’ sopo seng isok ngetok’no mata obeng fortebel iki tak kek’i duwek’’ sawor hanya tersenyum, pundi kulo cobine jawab cak feri, dilihatilah dari segalah penjuru sisi melik gagang obeng amerika itu, isok gak cak ? saut sawor, gak isok wor, kene tak cobak’e cak. Entah sawor ilham dari mana langsung mengambil tang dan memegang gagang obeng amerika dengan erat dan mencoba menjabut berbentuk lingkaran berbahan logam yang tepat di pantat obeng amerika itu dengan tang, setelah terlepas lingkaran berbahan logam itu sawor gengoyang-goyangkan gagang obeng amerika itu dan keluarlah mata obeng fortebel itu.

sawor hanya tersenyum dan bilang ‘’ loh isok’’  sambil cengegesan hehehe.

sek enteni tak jukuk’no duwek’e dawuh kanjeng guru, sawor hanya diam.

disodorkanlah empat lembar uang berwarna biru ‘’ iki loh wor’’, loh sak estu tah niki, cak feri keki sakno ndelok’i ae dawuh kanjeng guru yawes aku tak melbu kamar dawuh kanjeng guru.


disodorkanlah selembar ulang berwarna biru kepada cak feri, iki loh cak gawe sampean kata sawor, gak usah wor gawe kowe wae.

waktu disodorkanya empat lembar uang berwarna biru kepada sawor hatinya suda menangis teringat keingginanya ruko itu emak agar emak sawor memakai ruko baru ketika terawih.


sek cak kata sawor, dia bergegas menuju dapur dan sujud syukur mata sawor pun berkeliangan air karena begitu kerenya gusti alloh mengatur skenario agar sawor bisa membelikan emaknya ruko baru.


keesokan harinya sawor diajak qodir untuk mengantarnya kepasar turi untuk membeli kebutuhan zenmart, sebelumya sawor tidak bilang kalu dia juga mau beli ruko untuk emaknya, dikantongilah uang dari kanjeng guru.


keliling-keliling pasar turi membeli keperluan zenmart sawor pun sambil melihat toko yang jual ruko, ketika melihat ada toko ruko sawor bilang ke qodir sek dir ndelok-ndelok ruko-ruko iki loh kok koyok’e apik cocok gawe emakku, emang kowe nduwe duwek gawe tuku ruko? Kata qodir , nduwe lah jawab sawor sambil cengegesan hehehe.


Sawor melihat ruko berwarna putih berbordil motif bunga-bunga, dalam hati sawor kok sama yang dipakai bunyainya, berapa uang ini mbak? tanya sawor sangking pedenya.


270rb mas, wah pas’e piro mbak kata sawor, 200rb yo sawor mencoba menawar karena uangnya cuman 200rb hehehe, gak bole mas, yaudah 235rb saja, waduh jawab sawor, lapo wor tanya qodir? Duwekku kurang hehehe, kurang piro 35rb tak enyang 200rb gak oleh kok. Wes tak tambahani kene 35rb kan iyo, suwon ya dir. jadi beli mbak bungkus yang rapi kata sawor ke penjaga toko.


sesuda sampai dari pondok sawor bergegas memeking ruko yang dia beli untuk dipaketkan ketukang pos, paketan ruko untuk emaknya diselipi selembar kertas yang ditulis sawor:


‘’ emak, ini hadia ruko dari alloh untuk emak , saya membeli ruko ini uangnya dapat hadia dari putra yai saya, dipakai untuk terawe ya mak’’

Posting Komentar

0 Komentar