Pendidikan


Kemarin saya diutus Romo untuk menuntaskan tugas, yang sudah diamanahkan beberapa bulan yang lalu. Tugas mengoreksi buku yang bagi saya sangat membosankan. Beliau memberi saya waktu 2 hari kedepan untuk menyelesaikannya. Waktu yang singkat untuk rasa malas yang semakin liat. Saya mengambil sedikit waktu untuk sekadar menghirup nafas panjang dan berpikir, apa yang menjadikan saya berat mengerjakan tugas-tugas ini? Bukankah ini adalah pilihan saya sendiri? Bukankah ini yang saya inginkan sejak dulu?

Semakin lama pandangan saya menjelajah objek-objek yang ada di depan mata, saya merasa semakin dekat dengan jawaban. Saya teringat dawuh Romo yang disampaikan Yai Syuaib beberapa waktu lalu ketika mengaji, bahwa segala kebosananmu sekarang ini, boleh jadi kelak adalah mutiara dalam hidupmu. Saya jadi sadar, bisa jadi apa yang saya jalani sekarang ini adalah sebuah proses pendidikan yang diterapkan Romo kepada saya. Lebih jauh lagi, saya sadar ternyata kehidupan itu adalah serangkaian pendidikan yang outputnya adalah menjadikan seseorang itu sadar posisinya sebagai Abdulloh. Namun dengan berbagai potensinya, manusia terkadang tidak bisa mencapai output yang ideal tersebut. Tidak mampu mengidentifikasikan dirinya sebagai abdulloh. 

Maka, kemudian orang-orang berlomba untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan cocok untuk dirinya, yang artinya mereka ingin memeroleh posisi hidup yang ideal dengan karakter dirinya. Sehingga tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan gocek yang tidak sedikit, untuk mendapatkan pendidikan yang dirasa lebih baik. Tidak ada salahnya memang. Seseorang berhak mentasarufkan hartanya untuk sesuatu yang dianggapnya baik.

Namun, dari usaha-usaha kita untuk memeroleh pendidikan yang layak itu, kita harus sadar bahwa Alloh sudah menyiptakan arus besar pendidikan manusia lewat takdirNYA. Pilihan-pilihan kita dalam memilih pendidikan yang kita inginkan adalah bagian kecil dari arus pendidikan yang Alloh ciptakan tersebut. Maka kegagalan, keberhasilan, kebahagiaan, kesedihan, dan segala detil kehidupan yang kita alami adalah bentuk pendidikan dari Alloh, yang kelak jika kita sikapi dengan benar akan menunjukkan jalan menuju pemahaman bahwa kita adalah Abdulloh. 

Akhirnya, kembali kepada kesadaran diri kita masing-masing, bahwa setiap apa yang kita alami adalah bentuk pendidikan, yang seharusnya menjadikan kita lebih baik. Maka, tidak penting dari mana kita memulai, yang terpenting adalah kemauan kita untuk mencapai garis finish, mencapai pemahaman bahwa kita adalah Abdulloh. Hidup bukanlah lomba sprint, kita punya start, lajur dan finish masing-masing, yang tidak sama satu sama lain. Dan dalam perjalanan kita mencapai garis finish itulah, kita dididik, dididik, dan terus dididik, untuk benar-benar bisa sampai garis finish. Begitulah. Semoga kita bisa sampai finish, tentunya dengan kecepatan kita masing-masing.

Oh iya, dengan kesadaran itulah, akhirnya saya bisa enjoy, meski harus bermalam-malam ria untuk mengerjakan tugas dari Guru saya itu, heuheuheu. Terimakasih, semoga kesadaran itu tetap menyala.


Posting Komentar

0 Komentar