Pagi

"Jika kau ingin memeroleh mutiara, menyelamlah ke dalam pekatnya lautan. Begitu juga jika kau menghendaki mutiara hikmah, menyelamlah dalam pekatnya malam."
 -------------------------------
Pak Salikin mungkin sudah merdeka dari hiruk-pikuk dunia. Ia telah puluhan tahun mengabdikan diri, untuk menjadi bapak bagi anak-anak yang hendak menuntut ilmu  di pondok pesantren dekat rumahnya. Ia juga tidak pernah mengambil bisyaroh. Dia menyalakan tungku keluarganya dengan bercocok tanam. Dan itu sudah cukup. Ia mengajar mahfudzot dan tafsir untuk anak-anak kelas awal. Juga menjadi pembina bagi anak-anak yang bermasalah.
Salah satu nasihat yang selalu dikenang di ingatan para muridnya adalah agar selalu mempergunakan waktu malam dengan sebaik mungkin. Karena di situlah waktu paling rentan. Manusia bisa menjadi sangat “baik”, juga bisa menjadi sangat “buruk”, di waktu-waktu itu. Dan lalu lintas antara langit dan bumi, dibuka selebar-lebarnya, sehingga berton-ton keluh-kesah dan harapan, diangkut malam itu juga, menuju Pusat segala penjuru.
Pada suatu malam yang lembab, dalam sebuah ruang yang dikepung kepulan asap tembakau, Pak Salikin, duduk menghadapi lembaran-lembaran kertas yang berisi tulisan yang sama sekali ia tidak tau maknanya. Duduknya semakin membungkuk, seakan menanggung beban berat di atas tengkuk. Sesekali mendongak, menghirup napas panjang, memasok oksigen ke otak. Mengambil sebatang kretek, menyalakannya dengan pemantik. Dan ia kembali larut dalam pikirannya.
Tidak begitu lama, terdengar suara segerombolan knalpot motor yang bising  berhenti di seberang rumahnya, di sebuah warung yang sudah hampir tutup. Memesan minuman beralkohol dan menggenjreng beberapa lagu patah hati, seakan tanpa beban mereka bernyanyi. Pak Salikin yang merasa terganggu dan terpecah fokusnya,  tergerak untuk menghampiri dan membubarkannya. Dini hari bukan waktu yang tepat untuk bernyanyi dan teriak-teriak di jalanan. Apalagi di jalanan kampung.
Beliau beranjak dari tempat duduknya, tetapi belum sampai ia di pintu depan, ada suara bisikan lirih di pikirannya,
“Hai, tunggu dulu! Memangnya engkau siapa? Jika kau menghampiri mereka hanya karena merasa terganggu dengan nyanyian-nyanyian sumbang mereka, berarti kau gagal memahami dirimu sendiri. Kau bukan siapa-siapa. Kau bukan nabi. Kau bukan rosul. Bahkan tanpa dirimu saja, dunia akan tetap berjalan sebagaimana biasa. Kau tidak layak untuk merasa terganggu, dan kau juga tidak pantas untuk mengganggu orang lain. Mengajak kebaikan, menegur kemaksiatan adalah semata-mata mengerjakan perintah tawa shoubil haq, watawa shoubis shobr. Bukan untuk memenuhi syahwatmu yang merasa terganggu.  Karena kau bukan siapa-siapa.”
Seketika Pak Salikin, terjatuh. Kaki-kakinya tidak lagi mampu menopang beban berat di kepalanya. Ia menyeret dirinya sendiri, kembali ke ruangannya, dengan air mata yang tidak lagi terbendung. Susah payah menutup pintu, dan menangis sejadi-jadinya. 
Setengah 3 pagi, ia belum beranjak kemana-mana, masih dalam ruangan tertutup, dan tangis yang tak kunjung habis. Udara terasa sesak, berjejal seakan hendak menyaksikan tangis manusia tua yang tak ada ujungnya. Tapi, dalam pandangan yang samar, dan mata yang nanar, ia masih sempat berusaha mengumpulkan kertas-kertas “mantra” yang masih belum ia tau maknanya.
Adzan mulai terdengar dan pintu masih tertutup. Istrinya mengetuk pintu, tapi ia tak mau diganggu.
“Pak, subuh pak.”
Suara hanyalah suara, Pak Salikin mendengar, tapi tak sempat menggubrisnya, ia masih terkepung oleh tangis yang semakin mendesak-desak jiwanya. Akhirnya istri memutuskan untuk membuka pintu, dan mendapati Pak Salikin tersujud. Ia kira Pak Salikin tertidur, dibangunkanlah ia.
Istrinya terkejut, karena ternyata Pak Salikin tidak tidur. Diajaklah Pak Salikin untuk mengambil wudlu, dengan wajah yang masih basah air mata. Dengan langkah gontai Pak Salikin ditemani istrinya menuju surau.
----------
Seusai subuh, sudah menjadi budaya di surau itu, untuk membaca yasin dan tahlil. Dipimpin Pak Salikin. Ia memulainya dengan menghela nafas panjang. Ayat demi ayat telah dibaca, hingga ia sampai pada satu ayat,

قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ

Jiwa Pak Salikin kembali terkepung. Tangisnya kembali pecah, hingga tak ada kata lagi yang terucap dari mulutnya, ingatannya kembali pada peristiwa dini hari tadi. Suasana menjadi hening, sejenak. Hanya tangis yang berbicara pagi itu. Para jamaah sepuh, tetap menuntaskan pakulinannya, di dalam hati. Dan pulang ke rumah. Meninggalkan pak salikin. Hanya istrinya yang menunggu, itupun tak berani mengganggu.

Setengah 6 pagi. Lampu teras sudah mati. Embus napasnya terhela tak beraturan, Pak Salikin sujud, mengendus aroma tanah, aroma diri sendiri. Ia tak lagi merasakan jari-jari kaki, juga paha dan lengannya, ia tak lagi merasa lapar dan kenyang. Dan pada dingin udara dalam embus nafas panjang, diantar angin ia berpulang. Bermuara ke Yang Mahagesang.


Posting Komentar

0 Komentar