jimat sangking Kiyai


Nay, pemalumu dan pendiamu adalah cara yang baik agar dirimu terlihat mempesona

tetaplah menjadi mutiara didalam karang

kelak, biar aku yang memolesnya 

agar lebih terlihat mempesona

semua orang mempunyai cara tersendiri mengatasi rasa malu dan mindernya ketika mengutarakan pemikirannya atau menasihati dirinya sendiri didepan orang banyak.
abidin adalah teman sawor yang sangat pemalu dan sering nerfes tatkala diutus yai untuk menasihati dirinya sendiri didepan orang banyak, setidaknya ada tisu disebelah dirinya untuk mengusap keringat yang mengucur dari dahinya. 

sawor selalu tersenyum tatkala melihat abidin mempersiapkan dirinya agar dia tidak menghinakan dirinya sendiri tatkalah tampil, yang selalu tergiang dalam dibenak sawor, abidin berbicara sendiri didepan kaca sambil memegang teks yang suda dipersiapkanya, yang paling keren dia sholat dua roka’at terlebih dahulu.
meski segalah cara abidin mempersiapkan dirinya, keringat mengepung diraut wajanya dan nderedek tatkalah menasihati dirinya sendiri yang disampingya ada kiyai nya, yai selalu tersenyum entah apa yang membuat beliau tersenyum kalu saya boleh mereka-rekah, yai tersenyum karena setidaknya muridnya suda berusaha tidak mengerdilkan dirinya tanpa persiapan.


sawor terbit berada era pembangunan dan renofasi pondok, jadi sawor terbiasa ditempatkan dipondok yang sedang direnofasi, waktu itu sawor, paman syafiq dan abidin diutus yai untuk berdomisili dipondok putri yang sedang direnofasi sedangkan waktu ngaji berada dipondok pusat GA.

tepat tanggal 0, pagi yang diselimuti mendung abidin berangkat untuk kuliah, paman sedang berada di kamar, lagi asik bergelut dengan bukunya sedangkan sawor mencuci baju.

ada pesan melalui hp paman:’’ nag endi kowe karo sawor kok ora melu ngaji ustad imam’’. Ketika membaca pesan singkat itu paman teriak ke sawor. ’’ wor dipadosi romo nyapo kok ora nderek ngaji ustad imam kitab Bidayatul Hidayah’’.
lah sampean kok yo ora iling lek waktu’e ngaji, jawab sawor.

‘’wes ayo budal’’ jawab paman.

sawor langsung saja mencampahkan cucianya, bergegas berwudhu.
paman berjalan dengan santai seperti tak ada apa-apa, sedangkan sawor suda panas dingin tidak karuan berjalan seperti melayang menuju ketempat eksekusi, ketika tiba dipintu ndalem GA, sawor suda sedikit legah karena melihat kiyai nya tidak ada ditempat.

duduklah sawor menggikuti kajian sambil memegang kitab.
‘’jeeeggleek’’ suara pintu ndalem yai terbuka, yai keluar sambil membawa sebongkah kunci yang ditali dengan benag bol, yai berjalan menuju ke ara sawor dan menggalungkan sebongka kunci itu ke leher sawor sambil dawuh:’’ pakai kalung kunci ini jangan kau lepas sebelum aku minta”, inggih jawab sawor. kemanapun pergi sawor memakai kalung kunci itu, seiring melangkah bunyi ‘’kelenting-kelenting’’ berasal dari kalung kunci yang dipakai sawor.

membutukan kekuatan mental ‘’rai gedek’’ untuk memakai kalung kunci itu, setiap berjalan orang sawor pasti jadi pemandangan yang aneh, tapi sawor biasa-biasa saja.
kurang lebih dua minggu sawor memakai kalung itu mulai menyatu dengan tubunya tiba-tiba, 

wor kalungnya diminta yai kata temenya. Kata temenya kalung kunci itu dikubur dipot bunga berharap jelekan sifat-sifat sawor juga ikut terkubur.

sawor dipondok diamanahi sebagai werhouse majalah MAYAra, rak majalah harus berisi majalah, gunting dan tali rafiya tidak boleh berisi selain itu. Waktu itu yai sidak melihat rak malajah ada ‘’sotel’’ yang seharusnya tempatnya bukan dirak majalah, woooorrrr teriak yai, sawor bergegas lari menuju suber suara teriakan yai, wonten nopo yai. Kok onok ‘’sotel’’ nag kene, duko yai jawab sawor.

wes sak iki kowe keliling tambak bening angkat sotel iki kawo bengok-bengok abu sotel-abu sotel, inggih yai jawab sawor.

keliling lah sawor, berbekal mental ‘’rai gedek’’ yang suda dipupuk oleh kalung kuncin itu, sawor berkeliling sambil teriak abu sotel, abu sotel, abu sotel.

para tetangga melihat sambil tertawa tapi sawor tidak menghiraukan terus melangkah, sesampai dipondok ternyata yai menunggu sawor pulang, wor ono seng ngekek’i duwek gak? Tanya yai sambil tersenyum, mboten wonten yai. Wah lek onk seng ngekek’i duwek isok gawe jimat duwek iku, hemm ngoten inggih yai. Dalam hati sawor,’’ jimatnya pun menyatu dalam diri kulo yi jimat ‘’ rai gedek’’.

Posting Komentar

0 Komentar