Da’i dan Lingkungan

Forestdigest.com kemarin mempublish tulisan soal “anggapan” tidak banyak Kiai atau Ustadz (Penganjur agama) yang menyinggung soal lingkungan. Anggapan itu “hanya” berdasar pada solat jum’at yang pernah diikuti. Tapi  inti dari apa yang ingin disampaikan adalah, betapa sedikit sekali ustadz atau da'i yang menyinggung soal lingkungan.


Memang disayangkan, untuk mendukung tulisannya, penulis atas nama Qaris Tajudin  tersebut mengaku tidak melakukan riset. Hal tersebut menjadikan nihilnya kepedulian mayoritas penganjur islam pada lingkungan. Maka di kolom komentar tulisan tersebut ada banyak tanggapan soal berbagai gerakan dan beberapa ustadz yang banyak menginggung soal lingkungan.


Pembahasan ini memang perlu disorot. Sebab, anggapan soal rendahnya kepedulian itu, memang berdasar fakta empiris yang diketahui oleh penulis selama ini. Tapi fakta lain yang juga harus diperhatikan adalah bahwa tidak hanya satu dua penganjur agama yang peduli pada masalah lingkungan. Buku masalah lingkungan yang berdasar pada agama juga tidak sedikit. Bahkan di Surabaya, ada sebuah komunitas da’i bernama “Da’i Da’iyah Ecolistic Nuswantoro” yang bergerak di bidang lingkungan. Pada da’i yang sudah mendapat amanah berceramah dan berkhutbah, mereka sering menjadikan tema lingkungan sebagai topik utama materi mereka. Hal ini sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh Abuya Miftahul Luthfi Muhammad sebagai motor penggerak komunitas ini.


Tidak hanya itu saja, Abuya Miftahul Luthfi Muhammad sendiri dari 128 buku yang saat ini telah diterbitkan, setidaknya ada 3 buku secara khusus membahas mengenai masalah lingkungan. Ada “Eco Islam”, “Khutbah Hijau”, “Green Jihad”. Khusus Khutbah Hijau, merupakan kumpulan khutbah yang beliau sampaikan. Bahkan Majalah MAYAra yang beliau kelola juga menurunkan setidaknya satu tulisan soal lingkuangan setiap bulannya. 


Maka tidak mengherankan apabila khutbah Jum’at di Masjid Rakyat Tambak Bening, Surabaya, sering sekali membahas mengenai masalah lingkungan. Mulai dari masalah air sampai dampak kerusakan lingkungan. Khotib tidak canggung menyinggung soal got dan soal pencemaran lingkungan terkecil yang ada di sekitar masyarakat.

Ini semua menjadi bukti bahwa masalah lingkungan bukan sama sekali tidak disentuh oleh para penganjur islam. Terkhusus di Surabaya. Selain gerakan dari berbagai komunitas yang ada, memang kepedulian Walikota Surabaya, Tri Risma Harini pada lingkungan juga sangat besar.



Bahwa masalah lingkungan perlu lebih banyak lagi yang menguatkan, hal tersebut benar adanya. Sebagaimana yang sering disampaikan oleh Abuya Miftahul Luthfi Muhammad (Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Bening Surabaya), bahwa  khutbah sebagai “kuliah umum” mingguan bagi umat Islam harus berisi materi yang mengedukasi pada para jama’ah yang hadir. Tidak hanya soal surga-neraka, tetapi soal plastik dan selokan (masalah lingkungan, red) juga patut diperhatikan.


Kehidupan masih dan –sementara- akan terus berjalan. Generasi berganti. Kepedulian pada lingkungan mesti terus tumbuh. Penganjur Islam sudah saatnya ikut andil dan berperan dalam soal lingkungan. “Massa” yang besar adalah alat yang luar biassa kuat untuk membuat aksi peduli lingkungan yang masif dan intens. Jika dilakukan bersama-sama, semestinya akan terasa lebih mudah dan ringan. 

Semestinya!

Posting Komentar

0 Komentar