Beda penyebaran Virus Corona dan Virus Qoro’a

Di awal tahun 2020 Masehi ini dunia digegerkan dengan munculnya sebuah virus baru dari keluarga coronavirus yang dinamai secara resmi oleh WHO sebagai 2019-nCoV, atau lebih umum dikenal dengan Virus Corona. Virus yang disebut-sebut pertama kali ditemukan di wilayah Wuhan Cina itu, kini telah mewabah hampir ke 25 negara. Dalam sebuah situs data menyebutkan Virus Corona yang muncul pertama kali di Cina ini telah menyebar kurang lebih ke 25 negara dan telah menjangkit kurang lebih 5.000 jiwa. Cepatnya penyebaran Virus Corona ke berbagai negara menjadikannya trending topik di berbagai penjuru dunia. Virus yang diidentifikasi baru muncul pada awal januari ini sudah mampu menyebar luas hampir ke berbagai belahan dunia


Para peneliti masih belum memastikan kapan Virus Corona ini mulai ada. Entah pada tahun kapanpun, yang pasti jika kita lihat dari angka tahun, Virus Corona ini masih kalah tua dengan Virus Qoro’a (membaca).

Qoro’a
adalah kata yang berasal dari bahasa arab yang artinya membaca. Perintah membaca sudah ada sejak jaman dahulu kala, bahkan di dalam Agama Islam wahyu pertama yang dirutunkan kepada Nabi Muhammad saw. adalah membaca. Iqro’ bismirobbikal ladzi kholaq (bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan). Bagi umat Islam, membaca merupakan kewajiban bagi individu masing-masing.

Meskipun perintah membaca sudah ada sejak 14 abad yang lalu, akan tetapi penyebaran dan daya jangkitnya masih kalah dengan sebuah Virus yang baru lahir 30 hari yang lalu. Membaca masih belum menjadi virus yang mematikan di dunia, jangkaunnyapun masih belum seberapa. Jumlah manusia yang terjangkit oleh Virus Qoro’a (membaca) masih sangatlah minim, termasuk orang Islam. Negara Indonesia contohnya, menurut Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO Indonesia berada pada urutan nomer dua dari bawah soal literasi dunia. Artinya, minat baca masyarakat indonesia sangatlah rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001% dari seluruh penduduk Indonesia. Artinya, dari 10,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

Membaca masih belum menjadi virus yang mewabah, meski telah ditunjang dengan berbagai media dan fasilitas. Mungkin virus membaca sudah menyebar keseluruh penjuru dunia, namun orang yang terjangkit olehnya sampai bisa disebut hobby membaca masih sedikit adanya. Dari sini kita bisa membandingkan, bahwasanya Virus Corona daya jangkit dan penyebaranya jauh lebih cepat dari pada Virus Qoro’a.

Singkatnya, sesuatu yang identik dengan keburukan penyebarannya selalu lebih cepat dibandingkan sesuatu yang identik dengan kebaikan. Sesuatu yang baik cenderung sulit menyebar dan menjangkit yang ada disekitar. Keburukan, tanpa diajarkan dan diajakkan terkadang sudah mampu mendatangkan pengikutnya. Sedang kebaikan masih saja bersusah payah mencari temannya meski diiming-imingi dengan surga.

Posting Komentar

0 Komentar