Perihal Rokok

Mbah Manap nama asli dari KH Abdul Karim Lirboyo menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Kediri dan KH Abu Bakar Bandar Kidul sebagai Katib Syuriah NU Kota Kediri (waktu itu, kota & kabupaten menjadi satu). Usia beliau-beliau waktu itu sudah memasuki usia renta diatas 70 tahunan. Unik juga kalau kita membayangkan ulama-ulama sepuh sekaliber beliau menjadi pengurus harian cabang NU. Tetapi itu juga cukup menggambarkan betapa luarbiasanya NU di awal-awal kelahiranya. Benar- benar sebuah kebangkitan para Ulama.


Ketiga Kyai Nusantara ini kemana-mana selalu runtang runtung bersama-sama, ibarat tiga serangkai. Tetapi dalam urusan rokok, mereka sangat berbeda. Kyai Ma'ruf dikenal sebagai perokok berat, Kyai Abdul Karim tidak merokok sama sekal, sedangkan Kyai Abu Bakar sesekali terlihat merokok juga (jarang).

Suatu saat, melihat Kyai Ma'ruf merokok tanpa henti, Kyai Abdul Karim mencoba "gojloki” dalam bahasa jawa timuran (menggoda) : " Kang, iku lambe opo pawonan to? (Mas, itu mulut apa tungku api?).

Kyai Ma'ruf segera menyahuti candaan teman karibnya ini: " Yo iki kang, bedane antarane menungso karo wedus, lek menungso yo ngrokok lek wedus yo ora ngrokok” (Ya ini mas bedanya antara manusia dan kambing, kalau manusia ya merokok kalau kambing ya tidak merokok).

"Maksudnya kalau punya jenggot tapi merokok itu manusia, kalau punya jenggot tidak merokok itu kambing”.

Sementar Kyai Abu Bakar hanya diam saja melihat kedua sahabatnya ini bercanda, sambil meneruskan bacaan sholawat yg menjadi kebiasannya.

Posting Komentar

0 Komentar