Perihal Hijab dan Ibu-Ibu di Pasar


Beberapa waktu lalu, saya pergi ke pasar, untuk membeli kebutuhan masak. Ketika sedang berbelanja, secara tidak sengaja saya berada dalam kondisi di mana samping saya ada ukhti yang berpakaian berukut, dan di sebelahnya adalah seorang ibu-ibu muda yang berpakaian seadanya.


Kedua penampilan yang bagi saya kontras itu, menjadikan pikiran saya tergelitik, khususnya perihal pakaian. Ukhti-ukhti yang berpakaian brukut dengan krudung besar, bak karung Pusri, berjejer dengan ibu-ibu muda yang berpakaian seadanya, dengan lekuk-liuk tubuh yang terekam samar-samar di bajunya. Tetapi, saya tentu tidak akan membahas mana yang lebih baik, keduanya sama-sama baik dan juga sekaligus sama-sama buruk, tergantung dari sudut mana kita melihat.

Saya jadi membayangkan, bagaimana jadinya jika Alloh tidak membuka pengetahuan bagi manusia tentang pakaian?, mungkin akan semakin sulit membedakan mana manusia dan mana hewan, juga sesuatu yang sekarang dinggap melanggar norma dan bahkan kriminal, mungkin akan menjadi hal yang lumrah terjadi.

Memikirkan kasunyatan yang demikian saya menjadi sangat bersyukur dan tidak mudah triggered melihat cara berpakaian orang yang bermacam-macam. Karena dengan dibukanya pengetahan akan pakaian saja, manusia sudah menjdi jauh lebih baik dari sebelumnya, saya rasa tidak perlu dikeruhi lagi dengan komentar-komentar yang miring dan perdebatan mengenai pakaian. Sudah cukup lah urusan pakaian itu ditangan designer dan penjahit, kamu yang masih suka menggoyang-goyangkan hp pas tidak ada sinyal, tidak usah repot-repot ikut campur, heuheuheu.

Lebih jauh lagi, Saya malah berpikir jika dengan pakaian yang tebalnya hanya beberapa milimeter saja, potensi-potensi kerusakan dan kejahatan moral bisa jauh terkurangi. Maka, begitu juga dalam urusan kita dengan Alloh. Setipis apapun, jika hijab itu masih ada, pasti akan sangat memengaruhi kedekatan kita dengan Alloh, juga berpengaruh pada keyakinan dan perilaku kita setiap waktunya.

Mas, niki teronge” teguran ibu penjual yang membuyarkan pikiran saya. “Nggih, niki yotrone, matursuwun.”


Saya ngloyor begitu saja, sosok ukhti dan ibu-ibu tadi juga sudah menghilang dari pandangan. Dan pada ayunan pedal yang berat, saya menyimpulkan, bahwa “Salah satu hal yang sama dari pakaian yang senantiasa kita pakai, dan hijab kita dengan Alloh, adalah akan sama-sama terlihat gila jika tanggal di tempat umum.”

Posting Komentar

0 Komentar