Mitokondria


Suatu hari, ada seorang laki-laki mengadu kepada Rosululloh saw. tentang keburukan ibunya. Lalu Beliau (Rosululloh saw.) bersabda: “Dia tidak pernah berlaku buruk selama , mengandungmu sembilan bulan.”



Mendengar jawaban seperti itu, laki-laki tersebut tetap saja menyangkal: “Sungguh perilakunya sangat buruk ya Rosul.”


Rosululloh kembali bersabda, “Dia tidak pernah berlaku buruk selama menyusuimu selama dua tahun.”


“Tapi, sungguh perilakunya sangat buruk ya Rosul.” Bantah laki-laki tersebut.


Beliau kembali bersabda, “Dia tidak pernah berlaku buruk ketika engkau membuatnya tidak tidur malam untuk menjagamu dan ketika engkau membuatnya haus ketika siang hari.”


“Tapi, saya telah membalas kebaikanya itu!.”Sanggah laki-laki tersebut.

Lalu Rosululloh bertanya, “Apa yang engkau lakukan untuknya?”

Lelaki itu menjawab, “Saya telah menghajikannya dengan menggendongkannya di punggung saya.”


“Sungguh, engkau belum membalas kebaikannya sedikitpun.” Ucap Rosululloh menutup percakapan dengan laki-laki tersebut.

Sepenggal kisah di atas mengajarkan kepada kita bahwa, sebagai seorang anak, kita tidak boleh menjelekan orang tua kita, terlebih ibu. Seburuk apapun sifat beliau, tetap saja, beliau adalah orang tua kita, beliaulah yang merawat kita. Bahkan, ibu adalah sosok yang mengandung kita selama sembilan bulan, menyusui kita selama dua tahun, mendampingi kita siang dan malam, melindungi kita dari bahaya. Hiruk pikuk yang beliau rasakan tidak akan pernah bisa kita rasakan. Tetap saja, beliau adalah hamba Alloh yang mulia yang patut kita muliakan.


Dalam hadis di atas, seorang laki-laki tersebut merasa telah membalas kebaikan ibunya, dengan menghajikan ibunya dengan menggendong sang ibu di punggungnya. Memang, melakukan seperti itu bukanlah sebuah hal yang mudah, kita tahu bahwa prosesi ibadah haji bukanlah sesuatu yang gampang, apalagi dengan menggendong seorang ibu dipunggungnya. Meskipun demikian, apa yang disabdakan Rosululloh saw. kepada laki-laki tersebut?, Rosululloh saw. bersabda kepadanya “Sungguh, engkau belum membalas kebaikannya sedikitpun”.


Hal itu menunjukkan bahwa begitu besar pengorbanan ibu terhadap kita.  Begitu besar cinta dan kasih ibu kepada kita, serta begitu besar kebaikan yang ibu berikan kepada kita. Lalu, kebaikan seperti apakah yang diberikan oleh ibu kita, sehingga apapun yang kita lalukan tak sedikitpun membalas kebaikan yang telah beliau berikan kepada kita?


Jawabnya adalah Mitokondria. Mungkin sebagian besar tidak ada yang tahu tentang (mitokondria) ini, disamping banyaknya pengorbanan serta kebaikan ibu, seperti: mengandung, melahirkan, merawat, dan menyusui. Ternyata ibu memberi sesuatu yang tidak diberikan oleh seorang ayah atau siapapun, yaitu mitokondria.


Apa itu mitokondria? Mitokondria adalah salah satu bagian sel yang memiliki DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen dari inti sel. Menurut penelitian, mitokondria hanya diwariskan oleh ibu, bukan oleh sang ayah atau siapapun. Dan perlu kita ketahui lebih lanjut, bahwa mitokondria mempunyai fungsi yang sangat penting bagi tubuh kita. Ternyata tanpa mitokondria kita tidak akan bisa melihat, kita tak akan bisa mendengar, hingga akhirnya kita tak bisa membaca, mencerna dan merasa. 


Tanpa adanya mitokondria dalam sel-sel mata, seseorang akan buta. Tanpa adanya mitokondria dalam sel-sel telinga, manusia akan tuli. Begitu pentingnya mitokondria ini, bahkan meskipun seseorang punya mata, punya hidung, punya telinga, tetapi tidak mempunyai mitokondria, orang itu tak akan bisa melihat, mencium dan mendengar. 


Dari sini kita dapat menyimpulkan, betapa perjuangan ibu tidak hanya sebatas, hamil, melahirkan, menyusui, merawat dan membesarkan anak-anaknya. Ibu juga harus mewariskan fungsi biologisnya yang sempurna agar putra putrinya kelak bisa merasakan indahnya dunia. Mungkin sebab adanya mitokondria inilah kita tidak bisa membalas kebaikan seorang ibu, sebab kita bisa saja memberi apapun untuk ibu kita, akan tetapi kita tidak akan pernah bisa memberikan mitokondria kepadanya.


Jika memang demikian adanya. Lalu apa yang bisa kita berikan kepadanya, kecuali menyerahkan seluruh waktu hidup kita secara total berbakti kepadanya. Maka seperti apapun ibu kita, kita tak patut mencelanya. Maka seperti apapun bakti kita kepadanya, itu tetap saja tidak akan bisa menggantikan kasih sayangnya kepada kita. Bahkan meskipun kita menghajikan ibu kita dengan menggendongnya, ternyata itu sama sekali belum mampu membalas kebaikannya sedikitpun. Sebab memang begitulah yang harus kita lakukan kepada ke dua orang tua kita.


Satu pesan yang selalu diulang-ulang oleh Romo Guru kami, Omda Siddi Miftahul Luthfi Muhammad al-Mutawakkil adalah “wong tuo iku, salaho bener. Dadio anak seng iso mikul duwur mendem jero wong tuone”. Wallohua’lam…

Posting Komentar

0 Komentar