Mewah Itu Tak Selalu yang Wah


Hari terasa cukup terik. Minum es teh pasti sangat melegakan pikir saya, dan tanpa perlu pikir panjang lagi, saya sudah mojok di warung kopi langganan sambil menunggu pesanan saya datang. Niatnya ingin sejenak menikmati segarnya es teh dalam sepi, tapi warkop memang tak pernah ada sepinya. Di antara yang pada sibuk wifi-an, ada juga yang riuh dalam obrolan segar khas warkop. Sayup saya mendengar, dan salah satu di antaranya tampak paling semangat, "mbiyén aku iki Aremania, tapi saiki? Wani tok wes!” (baca: Bonek).


Akhirnya jadi terpaksa nguping, maklum ruangan itu tidak cukup luas untuk meredam aliran suara itu yang otomatis mengalir begitu saja masuk ke telinga saya. Ngéné cak, lanjut Mas Bonek tanpa memusingkan sekitarnya… 

Saya lupa waktu itu tahun berapa, yang pasti sekitar di kelas 5 atau 6 SD. Selama satu setengah tahun itu saya tinggal di Surabaya, tapi orang tua tetap di Malang. Kala itu Malang masih sangat dingin. Dan yang paling membahagiakan buat anak seumuran saya masa itu adalah ketika bangun pagi. Segera keluar rumah, lalu bermain dengan hembusan asap embun yang keluar dari mulut. Persis seperti orang barat di film-film. Tapi kondisi itu tak lama, karena belakangan Malang tak lagi dingin, dan memang saya harus hijrah ke Surabaya.

Walau awalnya enggan, tapi rayuan ibu lah yang akhirnya membuat benteng pertahanan saya jebol juga. Pindah ke kotanya Bung Yusuf Ekodono (pemain Persebaya yang paling terkenal waktu itu), tapi saya masih lah bocah yang teguh dengan ke-Aremania-an saya.

Namanya juga bocah, selalu bisa menemukan kesenangan asal bisa tetap bermain dan main-main. Dulu belum ada yang namanya gadget, apalagi game online. Belum ada Youtube. Bisa nonton MacGyver di RCTI aja senengnya sudah nggak ketulungan.

Sebelumnya memang nonton tivi termasuk kesempatan yang langka. Maklum tidak ada tivi di rumah. Tapi kemudian berubah sejak saya harus hijrah. Rumah nenek saya terbilang cukup mewah di jamannya. Ada tivinya. Kadang om juga nawarin main Nitendo, sempurna sudah!.

Tapi toh lambat laun, terasa kasih sayang orang tua memang tak pernah terbeli. Menjadi sesuatu yang lebih mewah dibanding apapupun. Tivi terasa bukan lagi sesuatu yang penting. Nitendo tak lagi menghibur. MacGyver tak cukup pintar untuk mengalihkan rasa rindu si bocah kepada ibunya yang jauh di sana.

Hingga ia mendapati kesempatan mudik di sela liburan sekolah, ia pun pulang..

Oh ternyata rumah saya sudah ganti lagi (pindah) mas, sekarang kalau malam bapak ibu nyambi jualan jagung bakar. Maklum jagung bakar termasuk makanan yang happening waktu itu. Rumahnya cukup sederhana. Ruangan sekitar 4x4 meteran disekat seadanya menjadi 2, sehingga terkesan ada 2 kamar. Saya yang di depan, bapak ibu di sebelah. Temboknya seperti dari kayu lapis, jadi kami masih bisa tetap ngobrol tanpa perlu susah-susah pergi ke kamar sebelah. 

Kalau sudah malam, suasananya menjadi cukup temaram. Lampunya ternyata bukan PLN, tapi pakai Semprong. Nah kalau bangun tidur sedikit lucu, sedikit noda hitam di sekeliling lubang hidung karena udara yang bercampur asap. Hiburannya suara cicak. Selebihnya hening.

Satu minggu penuh saya di sana mas, tapi anehnya terasa seperti dua hari saja. Saya kerasan mas, rasanya tidak ingin pulang lagi ke Surabaya, walau saya terpaksa harus kembali.

Cerita itu tampak belum akan selesai, tapi es teh saya sudah terasa tawar karena hanya tersisa es batu yang mencair. Saya pun mantab segera pergi meninggalkan romansa di sudut meja mereka. Benarlah jika rumahku memang "istanaku". Dan sekali lagi saya tersadar, betapa mas bonek seperti ingin mengatakan, bahagia itu sederhana kok. Mudah, tapi kita sendiri yang membuatnya menjadi sulit.

Bisa bersama dengan orang terkasih itu sudah begitu membahagiakan bukan..? jangan lupa untuk bahagia mas bonek,Wani!

Posting Komentar

0 Komentar