Wajar Jika Berlebihan

pxhere.com
Jika ditanya mengenai definisi cinta, mungkin akan ditemukan ribuan, ratusan ribu atau mungkin berjuta-juta jawaban yang berbeda. Setiap individu bebas mengartikan cinta itu apa. Mungkin cinta itu adalah ayah kepada ibu, atau rintik hujan yang menyumbu tanah. Bisa jadi pula cinta itu adalah induk singa kepada anaknya, atau percik-percik air  yang membasuh kaki-kaki lusuh. Tidak ada yang benar-benar tahu apa itu cinta. 
  
Yang pasti setiap manusia (dan juga sebagian makhluk yang lain) telah dikaruniai Alloh cinta, tentu bukan untuk saling menuduh, apalagi membunuh. Segala yang diciptakan Alloh itu baik, begitu dawuh guru kami. Termasuk cinta, ia diciptakan Alloh dengan baik dan tentu untuk kebaikan manusia dan lingkungannya.  

Tapi bukan dunia namanya, jika semua ditakdirkan “baik”, dan dalam urusan cinta pun demikian, tidak semua cinta itu menimbulkan efek yang positif. Mulai dari perang prabot dapur hingga matinya suatu peradaban bisa terjadi karena “cinta”. Tergeraknya seorang manusia, atau bahkan sejuta manusia bisa jadi juga ditimbulkan karena rasa cinta. Jadi urusan cinta ini menjadi penting tidak penting untuk dirawat, dikelola, dan disalurkan dengan baik. Penting karena bisa menimbulkan efek yang masif pada satu individu atau sekelompok orang, tidak penting karena sejatinya nurani manusia cenderung pada kebaikan, sehingga selama nurani masih “memimpin” manusia, cinta akan terdefinisi dan tersalurkan dengan baik. 

Guru kami pernah berpesan mengenai cinta, bahwa cinta itu perihal rasa, sangat wajar jika berlebihan. Saya setuju dengan pendapat beliau, jarang sekali manusia menyintai dengan pas, toh juga tidak ada ukuran yang pasti untuk mengukur kadar cinta. Seringkali ketika dirundung cinta seseorang tergerak untuk melakukan apa pun demi yang ia cintai, bahkan untuk melakukan sesuatu yang seakan mustahil sekalipun. Dalam kacamata cinta, hal semacam ini wajar-wajar saja, meski dalam kacamata biasa (yang tidak dirunding cinta) akan terkesan berlebihan. 

Beberapa waktu yang lalu, Yai Muwaffiq dengan cintanya kepada Rosululloh berusaha menyampaikan siroh Nabi saw. dengan bahasa ibunya, agar mudah diterima masyarakat. Namun di lain waktu, ada sekelompok orang yang mengecamnya karena dinilai bahasa yang digunakan tidak sopan untuk disempatkan pada seorang kekasih, Rosululloh saw. Saya sangat yakin, ada rasa cinta yang bergolak dalam hati, sehingga sekelompok orang itu merasa tidak terima dan mengecam beliau. Dalam kacamata cinta, itu wajar. Cinta memang kerap berlebihan. 

Tapi, taukah bahwa setiap manusia memiliki kadar yang tidak sama dalam menyintai? Cara saya menyintai mungkin akan terlihat berlebihan di hadapanmu, sedang di hadapan orang lain mungkin akan dianggap kurang, atau bahkan lancang. Satu tindakan yang dilakukan, tidak akan bisa memuaskan semua orang. Begitulah realitanya, maka biasakanlah. Pahamilah. 

Dalam sebuah mahfudzot dikatakan bahwa,
  “خير الأمور أوساطها” 
“Sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah.”

Dari sini jelas, bahwa tidak ada cinta yang sempurna, tidak ada cinta yang pas bagi semua orang. Muaranya hanya akan sampai pada pendapat, berlebihan atau kekurangan.  

Karena itu, saudaraku, kekasihku, kawanku, diriku, jangan pernah merasa paling benar dalam menyintai Rosululloh saw., tapi pastikanlah cintamu benar untuk Rosululloh saw. bukan untuk syahwatmu!

Posting Komentar

0 Komentar