Transparansi Dalam Jual Beli

Ahad pekan pertama bulan Mei, Masjid Ribath Al-Ibadah al-Islami sebagaimana biasa, mengkaji kitab Bulughul Marom. Pekan ini, masih membahas seputar jual beli, khususnya tentang Iqror. Iqror bisa diartikan Pengakuan/ungkapan/pernyataan  seorang penjual kepada pembeli, atau sebaliknya.


Jika masih ingat, beberapa kesempatan yang lalu, sudah di singgung prihal larangan berbuat riba, mencampuradukkan halal-haram  dalam jual beli, dan juga pernghianatan dalam berserikat. Beberapa hal tersebut, sebenarnya bisa dihindari, jika kedua belah pihak benar-benar mengerti cara jual beli yang baik. Salah satu caranya adalah seperti yang disabdakan Nabi Saw.

عنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( قُلِ اَلْحَقَّ, وَلَوْ كَانَ مُرًّا)  صَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ فِي حَدِيثٍ طَوِيل
Dari Abi dzar R. Huma berkata : Rosululloh Saw. bersabda “Berkatalah yang benar, meskipun itu pahit”(Shohih menurut Ibnu Hibban)

Kejujuran dalam berniaga adalah syarat yang sangat vital, yang tidak boleh ditinggalkan. Sebab tanpa adanya kejujuran,  cepat atau lambat, usahayang dilakukan akan menemukan kendala dan yang jelas merugikan semua pihak. Dengan iqror akad jual beli yang tidak jujur, berarti tidak ada transparansi di dalam transaksi tersebut. semisal dalam mendeskripsikan barang, harus sejelas mungkin, jika ada cacat, harus diterangkan dengan jelas.   

Maka seyogyanya dalam jual beli, harus dibuat setrasparan mungkin agar tidak ada potensi penipuan dan kerugian diakhirnya. Dengan iqoror akad jual beli yang jujur dan jelas, akan menguntungkan kedua belah pihak yang bertransaksi, dan yang jelas akan banyak keberkahan didalam rizki yang diperoleh dari transaksi tersebut. Wallohu a’lam.


Posting Komentar

0 Komentar