Suhbah “Pertemanan” Dunia-Akhirot

Pada kajian rutin rabu pagi 09, mei 2018 kitab Bughyatul Mustafid dijelaskan. Mengapa di dalam kitab tersebut pembahasan tentang pertemanan, persahabatan “suhbah” dipaparkan begitu banyak, detail dan terperinci? Sebab begitu pentingnya pengaruh teman di dalam kehidupan kita  tidak hanya di dunia akan tetapi juga sampai di akhirot.


Di dalam paseduluran sufi, kondisi pertemanan sangat begitu diperhatikan, dari pertemanan itulah para hamba yang saling mengutamakan daya padu di dalam menghamba kepada Alloh akan menjadikan salik semakin khusyu’, tawadlu’ dan tadlorru’.

Pertemanan digunakan sebagai media untuk saling berlomba mencari kebaikan, memotivasi untuk saling melengkapi, menyerap energi kebaikan dari orang lain untuk meminimalisir kekurangan diri. Dari pertemanan inilah nanti akan lahir benih-benih yang unggul, maka sangat ditekankan di dalam memilih teman, haruslah memilih teman yang baik, sebab dari kebaikan teman kita, kita dapat tertulari kebaikannya pula.

Jika diumpamakan, di dalam berteman kita seperti kumpulan padi di dalam lesung yang senantiasa ditumbuk dengan alu. Alu yang digunakan menumbuk sebatas memberi tekanan bagi padi-padi tersebut, seperti itulah fungsi guru, mereka sebatas memberi lecutan, motivasi, inspirasi dan semangat bagi para muridnya. Akan tetapi, yang membuat padi-padi itu mengelupaskan kulitnya sehingga menjadi beras adalah gesekan yang dihasilkan antara padi satu dengan yang lainnya. Seperti itulah salik di dalam pertemanan, yang menjadikan salik semakin “sukses” dan berhasil itu sebab gesekan antara dia dan temannya. Ada daya padu untuk mengupas kulit padi tersebut, semuanya saling bersinergi antara alu, lesung, padi satu dengan padi yang lainnya. Sama halnya sama bersinerginya antara guru, pondok atau tempat di dalam mencari ilmu, dan antara salik satu dengan yang lainnya. 

Maka apabila di dalam proses penumbukan tadi ada satu padi yang terlempar keluar dari dalam lesung, maka ia tidak akan pernah menjadikan dirinya sebagai beras, sebab di dalam kaidah keilmuan, siapa yang keluar dari proses pembelajaran, sedang ia masih belum mendapat ridlo dari sang guru, maka ilmu yang telah diperolehnya akan tetap tinggal ditempatnya.


Maka pertemanan yang setia akan dibawa samapi ke akhirat, dia bisa manjadi syafaat. Bahkan apabila kelak di akhirot diantara keduanya ditakdirkan terpisah ditempatkan pada tempat yang berbeda, maka satu dari mereka akan mencarinya, dan memintakan untuk dipertemukan dan ditempatkan pada satu tempat yang sama yang lebih indah. Rosululloh menegaskan dalam sebuah hadis:  
المرأ مع من أحب
"Al-mar'u Ma'a man Ahabba" (Seseorang itu akan bersama siapa yang ia cintai)

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” [HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639]


Posting Komentar

0 Komentar