Pitza Buatan Mamak

Kusebut dia Pitza, campuran dari bahan mie, telur dan brambang bawang, sedikit potongan cabe rawit dan sedikit garam lalu dicampur, diaduk sampai meratah lalu digoreng.

masakan kreasi mamak saya itu menjadi favorit di keluarga kami, sebelum memakannya lebih nikmat kalau dikasih saus sambel.


Karena ketidak mampuan membeli Pizza hut sehingga mamak saya berkereasi membuat makanan yang setidaknya tidak kalah nikmat dari Pizza hut buatan orang buleh itu.

kata mamak saya yang peting kita harus pandai menyesuaikan penerapan unsur modernitas dengan kenyataan kita sendiri, dan terus belajar memahami perubahan kita sendiri sambil berupaya bagaimana perubahan yang begitu dahsyatnya tidak merubah dirikita sendiri.

sedangkan orang lain tidak mau ketinggalan dari ukuran-ukuran baru modernitas, atau anda perna mendengar cerita seorang buruh pabrik yang dengan gaji sangat minim, nekat mengangsur sepedah montor yamaha yang terbaruh.

hasrat terhadap segalah polah gengsi diri yang sangat tinggih. terkadang hidup susah atau tidak secara tidak sadar kita sendiri yang kita sekenariokan, ketika jatuh tanggal untuk membayar angsuran sepeda yang dia anggsur atas nama gensi dia pun kebinggungan untuk membayarnya, akhirnya malah carih hutangan untuk membayar angsuran, itu salah satu contoh dari suatu ketersesatan dalam suatu uniformitas komunal dimana orang tidak berfikir realistis terhadap dirinya sendiri

pada masyarakat ‘’baru’’ kita, uniformitas itu bukan pada esensi-esensi mistis –kekelompokan dimana unsur seperti gotongroyong bisa menjamur seperti terjumpai dalam masyarakat rural yang masih murni. Di sudut lain teringat filosofi orang jawa misalnya: ‘’ mangan ora mangan pokok’e kumpul ‘’ karena perubahan orieantasi hidup manusia bisa menjadi ‘’ kumpul orah kumpul pokok’e mangan’’  perubahan orieantasi hidup orang menjadi berfikir kenyang lebih penting dari keguyuban. Lapar lebih menakutkan dari kesepihan.

Posting Komentar

0 Komentar