Persembahan Pernikahan untuk Kang Busthomi


Ribath al-Ibadah al-Islamy asy-Syarif memberikan persembahan pernikahan untuk Kang Busthomi yang akan menikah malam ini (30/4). Di Kajian al-Adzkar yang beberapa tahun diampu oleh laki-laki yang bernama asli Imam Basuki tersebut, Romo Guru memberikan kesempatan kepada mukimer dan sesepuh Ribath untuk memberikan sepatah-dua patah kata atas anugerah bahagia yang dilimpah kepada Kang Busthomi.

Setelah membaca satu hadis yang ada di kitab yang dikaji pagi ini. Romo memberikan kesempatan pertama kepada Syaifuddin untuk memberikan ujaran atas pernikahan Kang Busthomi.

Syaifuddin yang sudah cukup dengan Kang Busthomi ikut bersyukur atas menikahnya sahabat karibnya. Ia berharap, apa yang dijalani di dalam pernikahan bisa menjadi sarana untuk semakin baik lagi.

Setelah ujarannya selesai, ia mamberikan kesempatan kepada Abu Suwar untuk memberikan persembahan. Laki-laki berbada “slim” tersebut memberikan menyatakan hal menarik mengenai pernikahan. Ia menukil dari apa yang dinyatakan di dalam buku “Kado Pernikahan”. Bahwa dalam pernikaha, kita mesti sadar bahwa orang yang kita nikahi adalah manusia. Sama-sama manusia. Bukan bebek, bukan ayam. Kalau yang kita nikahi adalah manusia, dan kita pun manusia, maka kita harus memberikan perhatian ekstra istri, anak, keluarga setiap waktu, dalam kondisi bagaimanapun. Tidak menelantarkannya. Tidak seperti bebek yang ketika bertelur, mereka meninggalkan telurnya begitu saja. Tidak juga seperti ayam, yang ketika sang betina mengeram, sang jantan berulah dengan mencari “babon” lain. Maka dari itulah, keduanya mesti sadar bahwa mereka adalah sepasang manusia yang menikah. Dengan hak dan kewajiban yang mesti terpenuhi.

Kang Syafiqurrohman melanjutkan dengan mengatakan bahwa dalam budaya kita, ada idiom yang hampir tidak pernah mendapat gugatan. Yakni SAMAWA, atau sakinah mawadda warohmah. Ia mengatakan sebenernya, kita tidak perlu memintakan rohmah, sebab Alloh memberikan rohmat kepada siapa saja, tanpa perlu meminta. Yang kedua adalah mawaddah. Mawaddah adalah rasa ketertarikan. Ada syahwat. Ingin terus bareng. Yang ingin terus nempel seperti prangko. Ini naluri orang yang sudah menetapkan diri untuk menikah. Maka tak perlu disemogakan. Yang ketiga, sakinah. Ini sengat perlu disemogakan dan proses yang diperjuangkan. Dikatakan di dalam al-Qur’an dengan redaksi litaskunû ilaihâ. Redaksinya menggunakan li, menuju, yang berarti ada proses menuju sakinah. Sebab semua pernikahan itu pasti ada gejolaknya. Itu menjadi bumbu. Tidak ada pernikahan yang lempeng-lempeng saja. Pasti ada cek-coknya, dan lain-lain. Tapi dengan sakinah, semoga ombak masalah itu pada akhirnya akan menjadi ayem, tanpa masalah yang membuat berpisah.

Laki-laki kelahiran Tuban 15 Desember 1992 tersebut juga memberikan tambahan soal apa yang dinyatakan oleh Abu Suwar mengenai kesadaran bahwa mereka adalah sepasang yang manusia yang menikah. Ia mengatakan bahwa kesadaran bahwa pasangan mereka adalah manusia harus membuat mereka mau berbesar hati untuk memberikan maaf jika ada sesuatu yang kurang. Sebab manusia diberikan kodrat oleh Alloh memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan itulah yang harus mereka mafhumi dengan kesadaran bahwa pasangan mereka adalah memang “benar-benar” manusia.

Melanjutkan apa yang dipaparkan oleh Kang Syafiq, Haidar mengatakan bahwa memang pernikahan, dimanapun tempatnya, merupakan sesuatu yang sakral. Maka kita patut turut bahagia dan mendoakan Kang Busthomi di hari sakral pernikahannya nanti malam, juga ketika menjalankan kehidupan berumah tangga kelak. Menikah sendiri, menurutnya merupakan penyatuan dua orang manusia untuk saling melengkapi satu sama lain.

Pun dengan Carik Hadina mengatakan, yang terpenting dari  pernikahan adalah niat dan tujuan pernikahan tersebut. Semua itu nantinya akan berpengaruh di dalam menjalankan bahtera rumah tangga. Selayaknya, pernikahan juga menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan. Meskipun pasangan mereka tidak “cocok” misalnya. Tidak seperti yang diharapkan. Tidak mendukung keimannya. Mereka pun tetap menjaga keimanan mereka. Seperti Ibunda Asiyah yang menjadi istri Fir’aun. Meski sang suami merupakan orang yang buruk. Ia tetap bisa menjaga keimannya. Pun dengan Ibunda Maryam. Dengan diberikan anugerah berupa anak nabi Isa, tanpa melewatu melakukan bersetubuh, ia tetap bisa menjaga keimanannya. Itu semua bukti bahwa yang terpenting dalam keimanan adalah dalam pernikahan tersebut. Pun dalam perniakahan juga membutuhkan pengorbanan. Seperti yang dilakukan oleh Ibunda Khodijah dalam membela suaminya, Nabi Muhammad saw. dalam berdakwah. Banyak materi yang dikeluarkan untuk keperluan dakwah.

Abu Dubai (Huda) memberikan persembahan yang berbeda. Ia memberikan endorst berupa kesaksian perjuangan yang dilakukan oleh Kang Busthomi selama menjadi “pejuang akad”. Ia dengan tekun melaksanakan tugas dari Romo untuk menerjemahkan kitab al-Adzkar. Dengan semangat untuk melakukan tugas tersebut, ia meluangkan banyak waktunya di depan komputer. Alhamdulillah, calon istrinya juga memberikan dukungan dan bantuan yang berarti demi mendapatkan ridlo Guru.

Hadi Zeinmart memaparkan bahwa semua hal, hukum asalnya adalah mubah. Termasuk hukum pernikahan. Pernikahan bisa menjadi makruh, sunnah, mubah, wajib, harom. “Nah, dalam hal ini, kitah harus melihat diri kita masing-masing. Sudah sampai hukumya yang mana”. Ungkapnya.

Ia sendiri menyangkah apa yang dikatakan oleh Kang Syafiq mengai mawaddah. Ia mengatakan bahwa mawaddah penting untuk disemogakan. Kalau awal pernikahan mungkin iya. Naluri untuk nempel seperti prangko masih ada. Tetapi kalau sudah lama, itu bisa hilang. Yang benar saja kadang jadi dianggap kurang benar. Apalagi ketika salah. Maka mawaddah perlu disemogakan.

Nasrulloh memberikan gambaran mengenai gambaran pernikahan. Yakni hunna libasul lakum, wa antum libasullahun. Saling memberikan pengayoman. Itu penting di dalam pernikahan.

Yang pasti, semua mukimer dan jama’ah memintakan kepada Alloh yang terbaik untuk Kang Busthomi bersama Mbak Iftitah Hidayati. Seperti apa yang mereka harapkan. Di dalam membangun rumah tangga yang mereka jalani berdua. Semoga bisa menjadi hamba Alloh yang lebih baik dalam mengabdi kepadaNYA. Amiin.

Selamat membangun bahtera rumah tangga.

Barokallohu lakuma wabaroka alaikuma fi khoir.

Posting Komentar

3 Komentar

  1. masya Alloh ujaran yg penuh makna dan perenungan...
    selamat buat kang Bustomi dan ning Iftitah...
    Allohuma Lancar akad nikah nya dan segera dipercayai Alloh utk mendapat Titipan momongan...
    Aamiin Ya Robbal alamin

    BalasHapus
  2. Winning303 Agen betting online yang sudah berpengalaman dan profesional..Hadirkan Permainan Lengkap dan Pelayanan Ramah serta Profesional yang membuat anda tidak akan berpaling lagi..

    Cukup 1 ID saja dan tidak perlu ribet ganti user id untuk bermain:
    -Sports
    -Poker
    -Live Casino
    -Slots
    -Lotere/Togel
    -Sabung Ayam'

    Winning 303 Banjir Hadiah Yukz gabung bersama kami dan Dapatkan Langsung

    Bonus New Member Slot 15%
    Bonus New Member Poker 10%
    Bonus New Member Sabung Ayam 10%
    Bonus New Member Sportsbook & Live Casino 20%
    Bonus Deposit 10% Setiap Hari
    Bonus Deposit 10% Slot Setiap Hari
    Bonus Deposit Sabung Ayam 5%
    Bonus Cashback 5-10%
    Bonus 100% 7x Kemenangan Beruntun Sabung Ayam
    Diskon Togel Hingga 65%
    Bonus Rollingan Slot 1%
    Bonus Rollingan Poker dan Live Casino 0.5%

    Yang Lain Sudah Bergabung...Sekarang Giliran Anda....

    Customer Service 24 Jam
    Hubungi Kami di :
    WA: +6287785425244

    BalasHapus