Pandai Tanpa Iman, Rugi!

Kajian selasa petang setelah maghrib Pondok  Pesantren Tambak Bening al-Ibadah al-Islami asy-Syarif (9/4). Yang diampu oleh Kang Abu Suwar al-Luthfi. Pada kajian kali ini ia membahas tentang bedanya orang yang kaya ilmu dengan orang yang kaya harta.


Dijelaskan oleh Kang Abu Suwar, bahwasanya untuk menjadi orang yang ahli dalam ilmu  dan pandai berbicara butuh kesungguhan. Karena tanpa sungguh-sungguh, namun berharap ahli dan pandai. Sama halnya orang gila. Proses yang istiqomqah didalamnya terdapat banyak hikmah yang menjadi bekal untuk pengalaman dan pengetahuannya.

Satu contoh kisah yang disampaikan Kang Abu Suwar. Pada jaman dahulu ketika masa peperangan antara kaum muslim dengan kekaisaran Romawi. Pada awal kisah, ada dua pemuda yang sama-sama belajar memdalami ilmu Islam. Hingga luluslah keduanya. Lama tidak bertemu. Satu santri dari dua santri tadi, ikut menjadi prajurit perang kaum muslimin. Tak disangkanya ketika berduel sebelum perang dimulai, dua santri tersebut bertemu dalam satu tempat duel praperang. Namun, satu temen yang menjadi prajurit Romawi ini berubah perangainya menjadi sombong. Ia menjadi prajurit pasukan Romawi karena dinikahki salah satu putri Raja. Maka, dari itu prajurit dari Romawi yang juga teman belajarnya dulu kini menantangnya dan berniat membunuhnya. Namun, dalam perkelahian duel tersebut dimenangkan oleh si-pelajar yang membela kaum muslimin. Matilah ia dalam kondisi kafir. Padahal dulu ketika belajar terkenal sebagai pelajar yang cerdas dan pintar dalam ilmu agama. 

Jadi pesan nasihat dari Kang Abu Suwar dari kisah ini adalah, tidak menjadi ukuran kepandaian dan kecerdasan seseorang ketika belajar. Namun, yang terpenting adalah kuatnya iman. Dalam memerjuangakan agama Islam. Baik untuk dirinya, lingkungan sekitar, agama, dan bangsanya.

Posting Komentar

0 Komentar