Konsep dan Hakikat Sedekah



Alhamdulillah Pada malam ini sang pengampu Ustad Gathok Soebijanto di berikan kesempatan oleh Alloh untuk membawakan materi keindahan sedekah melalui pandangan dari kemaslahatan untuk urusan dunia beserta akhirot. Beliau memulai dengan memaparkan bagaimana bersedekah dengan harta yang kita sukai, harta yang ketika di terima akan pasti menyenangkan hati sang penerima, harta yang menurut manusia pada era ini sangat di sayangkan tuk di berikan cuma-cuma, harta yang dalam pandangan materialis akan merugikan pribadinya, namun dengan bersedekah seperti ini lah yang dapat menjadi titik balik untuk menguji iman seorang muslim. Sejauh mana kita yakin bahwa semua “kematerialistisan” di dunia yang di suguhkan sang Robb kepada kita hanyalah titipan yang tak akan di bawa masuk ke liang lahat nanti, seberapa yakin bahwa semua rizeki telah DIA atur secara adil dan berporsi dengan sangat detail kepada setiap makhluknya. Bersedekah seperti ini lah yang akan mengkentalkan iman agar lebih yakin kepada sang pemilik semesta dan isinya ini.


Di lanjutkan dengan pembahasan sedekah di dunia yang memiliki nilai sangat berat dalam neraca timbangan di akhirat kelak, telah di nash kan dalam kalamulloh yang berbunyi “Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sebentar saja, maka aku akan bersedekah…” {QS. Al Munafiqun: 10}, ayat ini dapat kita pahami dengan hanya membaca teks arti ayat tersebut, telah terpapar dengan sangat jelas bagaimana seorang yang telah melihat nilai kebaikan dan keburukan yang telah ia lewati di dunia ini. Dalam penyesalannya  Ia  memilih amalan sedekah di banding amalan lain tuk mengisi kehidupannya. Inilah tolak pacu nilai sedekah di “mata” Alloh bahwa sedekah bisa di kategorikan sebagai amalan terbaik dengan tidak mengesampingkan atau merendahkan amalan lainnya.

Di penghujung kajian beliau menjelaskan pembungkus dari amalan sedekah, salah satu yang tidak mungkin terlepas dalam amalan sedekah, dan bisa di katakan sebagai hal paling penting dalam amalan sedekah yakni ikhlas. Hanya melalui ikhlas harta yang kita berikan bisa di kategorikan sebagai sedekah, bilamana ada udang di balik batu maka “menyuap, menyogok”lah sebutan yang pantas untuk hal tersebut. Ikhlas yang beliau analogikan dengan halnya menangis atau buang hajat, dimana kita tidak akan menghitung berapa bulir air yang jatuh ataupun berapa hajat yang kita keluarkan, cukup dengan keluar, pergi dan hilang tanpa ada rasa jejak rugi ataupun “eman” dalam hati dan fikiran.

Posting Komentar

0 Komentar