Kiat Menyongsong Zaman "Kebodohan"

Mengawali pertengahan bulan april dengan kajian keluarga sakinah, Romo Guru menyampaikan beberapa hal dari salah satu hadis Rosululloh yang masyhur, yakni bahwa Alloh mencabut ilmu dari peradaban manusia dengan cara diwafatkannya ulama', sehingga manusia ketika itu menjadikan orang bodoh sebagai pemimpin dan panutan mereka, dan ketika ditanya, ia berfatwa tanpa landasan ilmu yang mengakibatkan kesesatan dan kehancuran sesudahnya. 

Sebenarnya, di jaman dahulu pun, sudah banyak kisah tentang "pemimpin bodoh" yang berakibat kerusakan bagi kaumnya, kisah raja Fir'aun misalnya. Bercermin dari kisah masa lampau, seharusnya kaum muslim masa kini mampu mengambil pelajaran, bahwa pemimpin yang tidak cakap (kalau tidak bisa dibilang bodoh) akan mengakibatkan masalah dikemudian hari, sehingga kaum muslim bisa lebih bijak dalam memilih dan mengangkat pemimpin – pemimpin mereka.  


Dengan wafatnya ulama, Alloh mengangkat ilmu sedikit demi sedikit dari muka bumi, karena dengan wafatnya ulama pastinya akan ada sedikit atau mungkin banyak ilmu yang tak tersampaikan atau terwariskan. Sebab itulah romo guru berpesan agar selalu belajar, khususnya belajar menulis sebagai langkah untuk meminimalisir ilmu yang tak tersampaikan dan terbawa mati. Dengan meninggalkan tulisan, entah itu berupa manuskrip maupun buku, minimal akan ada orang yang membacanya di kemudian hari, dan akan menjadi jariyah yang menguntungkan di barzakh nantinya. 

Ada beberapa poin yang harus digaris bawahi. Pertama, dalam memelajari ilmu, hendaknya secara utuh, terutama dalam ilmu sejarah. Karena dengan mepelajari ilmu sejarah secara utuh, ke-salahpaham-an akan lebih mudah dihindari serta mampu menjadi batu loncatan untuk menggapai peradaban yang lebih baik di masa depan. 


Kedua, hindari berfatwa atau menyampaikan statemen ngawur yang tidak berdasarkan ilmu, karena kecerobohan dalam menyampaikan statemen yang tidak ilmiah akan mengakibatkan masalah dikemudian hari. Jika memang belum mampu memahami sesuatu dengan baik, diam adalah jawaban yang paling bijak. 
 
Di akhir kajian Romo Guru menandaskan, kaum muslim yang menjadi mayoritas di negeri ini harus menguasai Sains, Ilmu pengetahuan dan memiliki SoftSkill (SIS), agar tidak menjadi penyumbang utama kaum buruh yang murah upahnya. Seberapa tinggi pendidikan formal yang ditempuh, tanpa memiliki SoftSkill akan sulit mengarungi perekonomi global yang semakin ketat persaingannya . Maka senjata utama penyangga "SIS" adalah dengan bersandar kepada Alloh swt.Wallohu A'lam. (MH)   

Posting Komentar

0 Komentar