Kapal untuk Orang-orang yang Meninggal

Suara berat baca’an yasin menggema dari Jalan Beton Gang V, Pongangan, Manyar, Gresik pada acara haul Bani Badrun dan Bani Ismail yang digelari di kediaman Pak Enggar Sumijaya. Yai Abdul Aziz membaca surat yasin dengan tenang.


Acara haul tersebut berlangsung ringkas namun hikmat. Praktis, acara dilangsungkan hanya dengan membaca yasin, tahlil, tilawah al-qur’an, tausiah, dan dongo.

Romo Siddi Miftahul Luthfi Muhammad datang secara khusus untuk memberikan tausiah kepada sekitar 200 undangan yang hadir. Beliau memaparkan tentang pentingnya memberikan apresiasi terhadap sesepuh muslim. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Hal tersebut berdasar pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thobroni. mengenai orang munafik mutlak. Yakni orang-orang yang meremehkan, menjelek-jelekkan, menghina, dan mencaci orang-orang yang ada dalam 3 kategori tersebut. Untuk berhati-hati dan bersifat wira’i, mengadakan haul serta memberikan dongo kepada sesepuh yang sudah meninggal menjadi salah satu caranya.

Hal ini juga berkait dengan konsepsi orang-orang yang meninggal dunia. Mereka digambarkan dengan orang-orang yang berada di tengah lautan. Jika bekal yang dibawa di dunia tidak memadahi, maka kondisi mereka sama halnya dengan orang yang berenang. Lantas bagaimana orang yang hidup memberikan pertolongan kepada mereka. Romo Siddi Mifathul Luthfi Muhammad mengatakan: “Berikan mereka dongo. Terlebih dari anak-anak dan saudaranya. Dongo bisa menjadi sekoci bagi mereka yang tidak cukup bekal dan berenang di tengah lautan. Bahkan bisa menjadi kapal-kapal yang menyelamatkan mereka. Yakinlah, bahwa dongo yang kita alamatkan kepada orang-orang yang sudah meninggal, insya Alloh akan berguna bagi mereka. Insya Alloh”.


Apresiasi berupa dongo yang dialamatkan kepada orang tua yang sudah meninggal menjadi salah satu tanda kesolehan anak. Setidaknya, ada kesadaran dari anak untuk memberikan something kepada orang tua mereka.

“Maka, apa yang dilakukan oleh Pak Enggar Sumijawa, dan Bu Meyla serta keluarga ini patut mendapatkan apresiasi yang baik. Patut dicontoh. Meski tanpa ada tenda seperti ini. Tapi kesadaran dari keluarga kepada sesepuh mereka.” Ujar Romo Luthfi. “Soal sampai atau tidak. Insya Alloh, sampai. Toh apa salahnya berusaha. Toh ada ikhtilaf dan ada ulama’ yang mengatakan sampai. Maka yakin saja sampai. Kalau ada yang mengatakn, doa kepada orang yang mati itu tidak sampai. Suruh dia mati dulu, kalau ndak sampai, tapu’i cangkemku”. Tambah beliau yang disambut gelak tawa hadirin. (ayt/11/ppg)


Posting Komentar

0 Komentar