Haul Mbah Wijil, Abuya Luthfi: Mari Serap Energi Kebaikan Beliau



Masjid al-Muttaqin menggelar acara isro’ mi’roj dan haul Mbah Wijil pada sabtu 14 April 2014. Acara digelar dengan semarak mulai pagi hingga malam. Khataman al-qur’an dan bersih desa menjadi agenda pagi yang dilakukan oleh warga sekitar masjid.


Malam harinya, diadakan acara pengajian umum yang diisi oleh Abuya Siddi Miftahul Muhammad al-Mutawakkil dari Tambak Bening. Sekitar 300 jama’ah hadir di depan halaman masjid al-Muttaqin berdekatan dengan makam Mbah Wijil atau biasa dikenal pula dengan Mbah Wazir. Tepat di halaman masjid, juga terdapat pohon beringin besar yang sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Kata warga sekitar, Masjid al-Muttaqin sendiri dulunya merupakan musholla atau langgar. Tepatnya pada tahun 1967. Baru pada tahun 1976, musholla tersebut beralih fungsi menjadi Masjid.

Acara pengajian umum tersebut berlangsung hingga jam sebelas malam. Abuya Siddi Miftahul Luthfi Muhammad memberikan banyak pemahaman baru kepada para jama’ah yang hadir. Ilmu yang barangkali tidak lumrah disampaikan oleh seorang muballigh. Misalnya soal pemahaman kesehatan yang saat ini krusial bagi umat islam. Dimana sudah banyak orang-orang yang tidak sehat. Beliau menyampaikan bahwa akar dari penyakit ada pada tekanan darah. Na’asnya, tekanan darah tinggi tidak bisa dikenali lewat secara kasat mata. Hal tersebut hanya bisa terlihat ketika sudah ada efek yang ditimbulkan. Misalnya adanya penyakit diabetes. Akar dari penyakit ini juga berasal dari tekanan darah tinggi (hipertensi). Dua penyakit ini seringkali datang dengan berbarengan hingga kadang disebut sebagai komorbiditas yang menyerang seseorang berbarengan.  

Ada hal sederhana yang mungkin tidak banyak diketahui bahwa denyut nadi bisa menjadi cara untuk melihat kesehatan jantung. Juga menjadi cek alami kesehatan psikologi manusia. Misalnya ketika khawatir, takut dan marah. Nadi seseorang tidak akan berdenyut dengan normal. “Maka” Ujar Abuya Miftahul Luthfi Muhammad “Rosululloh saw. Mengajarkan kepada kita untuk mengecek denyut nadi kita setelah solat malam sembari menunggu solat subuh. Bagaimana caranya? Tidurlah miring ke kanan dan meletakkan nadi tangan kanan di telinga. Jika detak nadi normal, maka insya Alloh sehat. Akan tetapi jika denyutnya tidak ritmik dan cenderung tidak beraturan secara terus menerus setiap hari, maka ada problem di jantung atau psikologi yang harus ditangani dengan cepat”.

Para jama’ah pun mendengarkan dengan seksama dengan sesekali mengangguk-anggukkan kepala menyiratkan tanda paham dan setuju.

Beliau juga memberikan pemahaman tanda alamiah seseorang terkena diabet dengan kadar gula tertentu yang juga akan memberikan tanda alamiah berbeda. Apa itu? (untuk lebih lanjut, silahkan mengikuti kajian beliau di Ribath al-Ibadah al-Islamy asy-Syarif).

Satu hal lain yang juga beliau tekankan pada acara Haul Mbah Wijil tadi malam (14/4) adalah pentingnya membangun generasi yang berkualitas mulai sejak “pembuatan”. “Jangan lupa dongo sebelum mengumpuli istri. Bacalah Basmalah. Lebih-lebih solat sunnah terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan badan” Tutur Abuya Luthfi. “Jangan sampai setan udu (join, adm) dalam senggama yang dilakukan oleh orang-orang islam karena tidak membaca basmalah dan dongo terlebih dahulu”.

“Tidak hanya itu saja”, Tabah Abuya Luthfi “Ketika memberikan pendidikan punya juga harus dengan pendidikan yang berkualitas dan strong. Tidak hanya memberikannya pendidikan di sekolah yang terkenal dan favorit, biaya mahal, tapi juga harus ada transmisi dongo setiap waktu dari orang tua kepada anaknya. Berikan makanan yang halal. Terlebih yang thoyyib. Misalnya memberikan beras yang halal kepada anak. Itu baik. Tetapi akan menjadi thoyyib apabila makanan nasi yang diberikan itu nasi dari beras organik. Sebab harus diakui, beras yang ada dipasaran tersebut mengandung emilosa tinggi yang bila tidak di hati-hati dan menjadi gaya hidup, sangat rentan menjadikan seseorang terkena penyakit kencing manis. Sebab biasanya, setelah makan nasi yang beremilosa tinggi, akan menjadikan seseorang ngantuk. Dan jika dituruti, lantas tidur, itu namanya diabet buatan”.

Ini berbeda dengan orang dahulu yang sangat arif. Kebanyakan orang dahulu mengonsumsi ubi-ubian jika tidak mengonsumi beras gogo. “Praktis” Ujar Abuya Luthfi “Mereka akan mengunyah makanan hingga lembut. Tidak langsung diuntal koyo ulo sowo. Dan jauh lebih sehat. Ada pola pikir yang dijaga. Ada pola makan yang dijaga. Ada pakunan keseharan yang dijaga pula”.

Dari situ, Abuya Luthfi Muhammad mengajak kepada pada hadirin, baik yang bernasab secara langsung pada Mbah Wijil atau tidak, untuk meneladani energi kebaikan yang telah dilakukan oleh Mbah Wijil. Mulai dari babat alas hingga perjuangan membangun agama islam di Ketintang. Perjuangan itu yang harus senantiasa dihargai dan diapresiasi dengan arif nan bijak. (ayt/11/pimk)


Posting Komentar

0 Komentar