Hati-Hati? Harus! Terlalu? Jangan!


Saudara-saudara, Dalam kehiduan sehari-hari kita tentu tidak bisa lepas dari keperluan-keperluan yang mengharuskan kita untuk berhubungan dengan barang-barang najis. Yang mana, kesemuanya, baik yang padat maupun yang cair, akan sangat berbahaya akibatnya apabila kita remehkan, dan tidak kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Sebab, salah satu syarat sahnya laku ibadah mahdhoh kita semisal solat atau haji misalnya, adalah sucinya seluruh dhohir kita. Meliputi badan, pakaian, maupun tempat yang kita gunakan.

Oleh sebab itu, Islam, agama yang kita cintai ini mengajarkan kita agar senantiasa berhati-hati, dan memerhatikan dengan sungguh sungguh perkara-perkara yang berkait paut dengan kesucian dhohir. Maka kalau di balik, kita juga harus cermat ketika menangani najis yang melekat dalam beberapa aktivitas kita sehari-hari. Sikap hati-hati, sebagaimana yang telah anda baca sebelumnya, adalah satu kewajiban bagi seorang muslim. Namun ternyata, tindakan ’terlalu’ berhati-hati dalam kesucian, juga bukan suatu tindakan yang benar. Karena nyatanya, jumhur ulama’ bersepakat, ada beberapa kategori najis yang di maklumi, atau di ma’fu dalam bahasa kita. Di ma’fu artinya kita tidak perlu melakuan tindakan-tindakan penyucian terhadapnya. Bisa jadi dikarenakan sulitnya menghindari, atau juga karena pertimbangan-pertimbangan yang lain yang bertujuan untuk kemaslahatan kehidupan.

ngAJI kitab “Bughyatul Mustarsyidin” yang diampu oleh kang Syafiqurrohman pagi tadi, Selasa 8 Sya’ban 1439 Hijriyah, atau bertepatan dengan 24 April 2018, membahas detail mengenai macam bagaimana najis najis yang di ma’fu menurut pendapat dari berbagai ulama’ fiqih. Penulis kitab , Syaikh Abdurrohman Ba’lawi, memaparkan beberapa contoh kasus najis-najis yang di ma’fu. Beliau juga menukil sejumlah pendapat dari beberapa kitab ulama’-ulama’ fiqih rujukan, serta menjelaskan kedudukan masing-masing pedapat. Mana pendapat yang kuat, mana yang lemah. Beberapa contoh yang beliau kemukakan mungkin biasa kita jumpai, atau bahkan kita lakukan sendiri. Namun sering kali pula kita tidak mengetahui klausul hukum dari apa yang kita perbuat itu. Misalnya, bagaimanakah hukum ketika tangan kita terkena darah nyamuk yang kita tepuk, kemudian kita masukkan kedalam air ? masih suci atau tidakkah air itu ? atau segelas minuman yang kejatuhan kotoran cicak, atau juga misalnya pakaian kita ketempelan bangkai kutu, dan baru kita ketahui ketika kita sudah berada di dalam solat .

Bagaiamanakah tindakan yang seharusna kita ambil ?. nah, itu semua bisa kita ketahui dengan belajar dari kitab ini. Inilah dasar pentingnya belajar. Apalagi klasifikasi dan penguraian antara najis yang di ma’fu, dan yang tidak juga bukan hal yang mudah untuk di ingat. Sebab secara umum, paling tidak ada 4 kategori najis di ma’fu dan tidak di ma’fu. 1, Najis yang tidak dimaafkan baik ketika mengenai pakaian maupun ketika mengenai air. 2, Najis yang dimaafkan baik ketika mengenai air maupun ketika mengenai pakaian. 3, Najis yang dimaafkan ketika mengenai pakaian namun tidak dimaafkan ketika mengenai air. Dan 4, Najis yang dimaafkan ketika mengenai air namun tidak dimaafkan ketika mengenai pakaian.” Penjelasan lebih lanjut, mari silahkan datang langsung mengikuti kajian kitab ini setiap hari selasa ba’da solat Shubuh, di Ribath al-Ibadah al-Islami asy-Syarif Surabaya. Jl. Tambak Bening G II, no. 18/20. (Belakang RS. Soewandhi). Terimakasih

Posting Komentar

0 Komentar