Harom, Ya Harom!

Masjid al-Imam Puspa Agro menggelar kajian bulanan pada Ahad, 8 April 2018. Acara yang sudah berlangsung sekitar 7 tahun lalu tersebut semakin banyak di hadiri jama’ah dari berbagai daerah. Bahkan, kebanyakan yang hadir adalah jama’ah yang dari Surabaya. Bahkan, terkadang ada yang hadir dari luar kota, seperti Gresik, Mojokerto, dan Blitar.


Tajuk kajian bulanan yang diampu oleh Romo Siddi Miftahul Luthfi Muhammad memang terkesan menarik. Barangkali tidak umum bagi orang-orang metropolis. Beliau mengkaji soal bisnis, dari segi pengembangan, metode, dan hukum bisnis yang dilakukan. Kompleksitas itu yang menjadikan para jama’ah bersedia meluangkan waktu untuk hadir ke Masjid al-Imam, Puspa Agro tiap bulannya.



Pagi ini, Romo Luthfi membawakan judul kajian, “Harom, Ya Harom!”. Kajian ke-54 yang telah dilakukan di Puspa Agro, Sidoarjo. Beliau membagikan materi dalam bentuk buletin kepada masing-masing jama’ah agar bisa memahami dengan seksama apa yang beliau kaji.


Beliau sendiri secara jelas mengatakan bahwa keharoman yang telah ditetapkan oleh Alloh pada segala sesuatunya adalah murni kehendak Alloh dan manusia sama sekali tidak tahu makna di balik pengharoman tersebut. Manusia hanya bisa melakukan pendekatan-pendekatan untuk mendapat jawaban yang “dianggap” paling dekat dengan kebenaran.

Ujaran tersebut beliau sampaikan ketika ada salah satu jama’ah yang bertanya soal keharoman babi, anjing, dan hal-hal harom yang lain. Mengapa Alloh menyipatakan hal tersebut, akan tetapi kemudian mengharomkannya. Apakah lebih baik tidak dimuat sekalian jika pada akhirnya diharomkan.


Beliau lantas menjawab dengan jawaban di atas. Alloh lah yang lebih tau pelajaran dan hikmah atas egala hal yang ditetapkan oleh Alloh. Segala sesuatu yang diciptakanNYA. Namun pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil. Secara lugas beliau menjawab, “Babi misalnya. Mengapa TuHan menyiptakannya tetapi juga mengharomkanya. Di balik najis dan haromnya babi, tentu ada hal baik yang ada pada dirinya. Dan itu berimplikasi pada kehidupan di alam universum. Dalam pendekatan sains misalnya, babi mengandung banyak unsur-unsur keburukan yang berbabahay bagi kesehatan konsumennya. Tetapi itu pendekatan saja. Untuk meyakini bahwa pasti ada hikmah di balik najis dan haromnya babi. Tetapi hakikat keberannya, tentu tetap Alloh yang lebih tahu secara pasti.”.

Ada pula salah satu jama’ah yang menanyakan soal hukum mendengarkan musik, misalnya untuk menghibur diri dari kepenatan, bahkan terkadang ada lagu-lagu yang menyejukkan hati. Romo Luthfi sendiri mengatakan bahwa seluruh hal yang melalaikan dari Alloh adalah harom dan harus ditinggalkan. Demi kualitas keimanan kepada Alloh. Maka tentu saja, untuk lagu yang bisa menjadi sarana kebaikan, sarana mengingat Alloh, boleh didengarkan. “Lagu Ayah dari Ebiet G. Ade misalnya” Dawuh Romo Luthfi “Siapa yang tidak terharu mendengar lagu itu, bahkan mungkin bisa menangis mendengar lagi itu. Itu bisa sarana menambah rasa cinta kepada orang tua. Lagu yang baik. Maka boleh. Bimbo, Mahir Zain, Sami Yusuf, maka hal tesebut boleh untuk didengarkan” Sambung beliau. (ayt/11/kpa)


Posting Komentar

1 Komentar

  1. kajian super seperti inilah yg sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat awam seperti sy, aplikasi dalam kehidupan sehari2 sehingga faham langkah yg harus diambil, menyikapi segala sesuatu berdasarkan ajaran agama dan ketakwaan pada Alloh.... Alhamdulillah takdir menuntun sy menuju pengajian taklim super ini...
    semoga sy bs Istiqomah menggali danhadir didalamnya

    BalasHapus