Hanya Alloh, selainNYA Fana

"Beda sekali antara orang yang menjadikan Alloh sebagai dalil (adanya dunia), dengan orang yang menjadikan dunia sebagai dalil (adanya Alloh)” “Orang yang menjadikan Alloh sebagai dalil adanya dunia, maka berarti ia telah meletakan haknya secara benar. Alloh jadi asal penunjuk. Sedangkan orang yang menjadikan dunia sebagai dalil adanya Alloh, mengindikasikan bahwa dirinya tidak dekat dengan Alloh. “Sejak kapan Alloh hilang dari pandangannya, hingga ia harus menjadikan dunia sebagai perantara untuk mengenal Alloh?” "Kapankah Alloh menjauh dari dirinya, hingga ia menggunakan dunia sebagai sarana untuk tambah mendekat dengan Alloh?"  (al-Hikam Ibnu Athoillah, bait 29)



Ada perbedaan cara pandang para hamba memosisikan Alloh. Yang pertama, mereka berangkat dari keyakinan bahwa sumber segala sesuatu adalah Alloh, selain Alloh adalah fana, wujudnya tidak benar-benar ada. Seluruh makhluk hanyalah cerminan dari wujudNYA yang haq. Mereka melihat semua makhluk yang tampak hanya Alloh: Daun jatuh yang tampak Alloh, berhembusnya angin, yang terasa adalah kehadiran Alloh, lebatnya hujan yang hadir adalah Alloh, siang dan malam adalah Alloh, gelap dan terang adalah Alloh, patah adalah Alloh, tumbuh adalah Alloh, hidup dan mati: Alloh!

Sementara yang kedua, pemahaman mereka berangkat dari seluruh ciptaanNYA. Bagi mereka keberadaan alam menjadi media untuk mengenal Alloh. Seluruh makhlukNYA adalah bukti adaNYA. Maka amatlah berbeda dan jauh sekali jarak diantara keduanya. Yang pertama hanya melihat Alloh dan tak mengenal selainNYA. Yang kedua mengenal Alloh “hanya” melalui “bayanganNYA”. Sejatinya mereka belum benar-benar sampai kepada pengenalan yang sejati kepadaNYA. Bagaimana mungkin, sesuatu yang fana bisa menjadi dalil atas sesuatu yang adanya pasti tanpa perlu diragu?

Sayyid Romadlon al-Buthi berpendapat, semestinya kita mengenal Alloh dahulu, baru kemudian mengenal makhluk. Cara pandang awam lebih terlena dengan keindahan dunia, hingga lupa keagungan Alloh. Padahal yang menciptakan dunia ini adalah Alloh. Padahal lagi, bisa mengenal dan tambah dekat dengan Alloh adalah berkat cahaya Ilahi yang dilimpahkan Alloh kepada kita. Bukan dengan akal murni kita. Jika boleh diumpamakan, kita ini seperti orang yang sedang berjalan dalam kegelapan malam sambil membawa lampu penerang. Dengan lampu tersebut, kita bisa melihat semua benda disekitar: Kursi, meja dan perabot lainnya, bisa terlihat secara jelas. Pertanyaannya: Manakah inti utama yang membuat kita bisa melihat? Sinar lampu ataukah benda disekitarnya? Jawabannya, jelas sinar lampu. Begitu pula halnya dengan Alloh. Alloh sebenarnya yang membuat dunia ini terlihat jelas. Bukan dunia yang menjadi penjelas adanya Alloh. (Sya)

Posting Komentar

0 Komentar